Petinggi GNPF MUI Sowan Istana

Salah satu momentum yang dapat disimpulkan dari kedatangan para pimpinan GNPF MUI di Istana adalah tidak adanya pembahasan rekonsiliasi yang mengarah pada kasus Habib Rizieq Syihab.

Bahkan pengacara Habib Rizieq, Kapitra Ampera, yang biasanya sangat lihai dalam memberikan komentar-komentara absurd, dari visa unlimited sampai undangan raja Salman, namun setelah bertemu Jokowi dia tidak berani membuat pernyataan yang bersifat klaim sepihak. “Sebetulnya lebih ke arah silaturrahim hari ini. Kami belum bicara ke tingkat (rekonsiliasi) itu.”Satu hal yang menarik dari pertemuan GNPF dengan Presiden Jokowi di Istana adalah, tidak adanya bahasan khusus tentang Habib Rizieq Syihab yang sekarang kabur ke Arab Saudi atau pun Kasus Hary Tanoe Sudibyo. Bachtiar Nasir malah memuji kinerja Jokowi.

Petinggi GNPF yang datang menemui Jokowi di Istana, tidak ada yang berani membahas soal rekonsiliasi atau meminta HRS atau HT dibebaskan. Tidak ada sama sekali.

Saya pikir inilah akhir dari arogansi seorang HRS. Kini orang yang pernah dua kali dipenjara dan sekarang sedang menyandang status tersangka untuk dua kasus hukum, sepertinya sudah ditinggal oleh para pendukungnya sendiri. Berbeda lagi dengan HT yang oleh Kapita Ampera dibela-bela mati-matian bahkan sampai mengatakan bahwa Jaksa berat sebelah.

GNPF tidak mendengar seruan HRS yang meminta rekonsiliasi atau mengancamnya dengan revolusi. GNPF malah berbicara hal lain tentang program pemerintah dan dukungan terhadap upaya-upaya memajukan bangsa ini. Lha ini juga berlawanan dengan petisi yang dibuat oleh Penasehat GNPF pak Amin Rais yang dahulu pernah numpang kondang pada reformasi 1998. Kami sebut numpang kondang karena yang dilengserkan Pak Amin Rais saat 1998( Pak Harto) adalah donatur saat beliau macung ketua Muhammadiyah saat tahun sebelumnya. Dahulu Amin Rais yang mengusulkan amandemen UUD 1945 lha sekarang merintah orang lain nylesaikan masalah yang Pak Amin buat. Dahulu waktu pak Amin jadi petinggi freeport, diam saja, tapi setelah gak jadi petinggi freeport baru teriak Asing Aseng.
GNPF tak berani bahas rekonsiliasi

Kita tahu, bagi warga umum dan bukan pejabat Istana, kesempatan bertemu Presiden sungguh sangat langka sekali. Sebab jadwal Presiden sangat padat dan dengan agenda serta tugas yang banyak. Bukan terlena selfi dan hanya puja puji program.

GNPF yang kemarin bertemu Jokowi, seharusnya benar-benar sudah menyampaikan hal-hal penting yang ingin mereka sampaikan. Jika sebelumnya Kapitra Ampera mengirim surat kepada Jokowi agar kasus Habib Rizieq dihentikan, seharusnya kemarin saat bertemu langsung dengan Presiden, hal itu sudah disampaikan. Namun seusai bertemu Presiden, Kapitra menyebut bahwa pertemuan itu sebatas silaturaahmi biasa dan tidak sampai pada bahasan rekonsiliasi. Seakan statemen ini lost contact dengan surat yang dikirim sebelumnya yang meminta HRS dibebaskan.

Bagi Presiden sendiri, setelah pertemuan tersebut, tidak sedikitpun memberikan pernyataan langsung. Semua hanya berita dari personel GNPF sendiri dan Pratikno. Menunjukkan bahwa pertemuan ini merupakan pertemuan yang biasa saja, dalam rangka open house, dan memang tidak ada bahasan serius yang perlu ditanggapi.

Pertemuan GNPF dan Jokowi kemarin pada intinya tidak membahas rekonsiliasi atau penghentian kasus Habib Rizieq. Sebab rekonsiliasi memang tidak diperlukan. Apa yang mau direkonsiliasi? Sementara kasus Habib Rizieq juga tidak mungkin dihentikan, sebab Presiden tidak akan mengintervensi hukum. Lagipula kasus Habib Rizieq terlalu banyak, mau dihentikan semuanya? Atau justru konsentrasi GNPF dan Kapitra Ampera pada HT?

Kalau sudah begini, maka ke depan, GNPF sudah tidak akan mampu lagi berbicara soal rekonsiliasi atau penghentian kasus Habib Rizieq. Sebab publik juga akan berpikir, kan mereka sudah bertemu Presiden, mengapa tidak dibahas saat mereka bertemu?

Habib Rizieq ditinggal sendiri

HRS yang sekarang masih kabur ke Arab Saudi, benar-benar ditinggal sendiri, tiada yang menemani. Orang-orang yang ke Arab menemui Habib Rizieq hanyalah orang yang sama-sama bermasalah. Sementara GNPF di Indonesia memilih mencari aman dengan tidak ikut-ikutan mengancam revolusi.

GNPF memilih untuk berkomunikasi, silaturrahmi. Melupakan kasus yang membelit Habib Rizieq, melupakan rekonsiliasi, melupakan revolusi. Karena sejatinya semua itu hanyalah ilusi dari arogansi dari Habib Rizieq tanpa ngukur peran dan kedudukan karena terbuai dengan predikat Imam Besar FPI.

Dengan kondisi seperti ini, saya pikir ujung dari cerita Habib Rizieq yang ditinggal GNPF, justru bisa membuat Habib Rizieq menjadi orang yang konsisten dipenjara oleh Presiden-presiden Indonesia. Habib Rizieq pernah dipenjara di era Megawati dan SBY, dan sepertinya akan kembali dipenjara di era Jokowi. Istiqomah sebagai narapidana.

Kehadiran GNPF di Istana tanpa menuntut penghentian kasus Habib Rizieq, menjadi simbol yang sebaliknya: seakan GNPF yang tak membahas HRS, seperti berucap kepada istana “kasus Habib Rizieq silahkan dilanjutkan”. Biarkanlah Habib Rizieq dihukum dan dipenjara. 7 kasusnya kalau diproses semua, mungkin bisa menjeratnya sampai seumur hidup di penjara itu kira-kira pesan tersirat GNPF yang datang ke Istana dan justru memuji kinerja Jokowi.

Sementara disisi lain, melalui Kapitra Ampera sang Pengacara mereka, pembelaan serasa beda kepada Hary Tanoe Sudibyo. Lha kalau ada yang nanya, kok Chinese Kristen dibela pengacara GNPF? Ya begitulah nyatanya.