Era Virtual ditandai dengan maraknya para insan bermedia sosial dengan android selalu digenggaman disetiap waktu. Andaikan ada kejadian musibah sekalipun, yang dilakukan pertama kali adalah mendokumentasikan via vidio tanpa berfikir menyelamatkan diri. Artinya, ketergantungan kita dengan android sudah melebihi kebutuhan primer.

Dari kemudahan yang disuguhkan oleh penyedia layanan telepon cerdas (smart phone), sangat memungkinkan seseorang untuk berubah dalam waktu cepat baik sisi pemikiran dan perilakunya. Bahkan diera virtual ini, perubahan dari penikmat media menjadi pelaku media yang tampak senior pun terlaksana, misalnya untuk editing vidio dan gambar, cukup mengunduh aplikasi yang disediakan dan belajar tutorial via youtube, selesailah problem.

Dari kemudahan inilah, selanjutnya juga membawa perubahan pola komunikasi dan pola berpolitik kita dewasa ini. Dalam hal berkomunikasi, hari ini semuanya sudah tidak perlu tempat untuk ketemu, karena andaikan ketemu pun, hanya sekedar diam karena asyik bermain android. Berjualan, transaksi perbankan, semuanya juga dimudahkan dengan layanan elektronik berbasis android.

Sedemikian pula dalam berpolitik, semua latah gegara android. Misalnya, fenomena politik pilkada atau pilgub 2018, pertarungan di media sosial, lebih sengit dibanding fakta didunia nyata. Ujaran kebencian, bullying, sampai pada ancaman, juga diviralkan di media sosial. Justifikasi kafir pun menjadi narasi yang dipergunakan menggiring opini. Sampai pada survey atau polling politik, semuanya akan klaim menang dan paling valid. Tapi ada satu hal yang dilupakan oleh para pemain dunia maya, mereka lupa mengawal suara hasil opini yang dibangun, untuk tetap utuh sampai di TPS dan seterusnya.

Hari ini awal pertarungan politik antar komentator dan pendukung calon, khususnya pasangan presiden yang kemarin di deklarasikan yakni pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin dikubu lain Prabowo dan Sandiaga Uno. Keduanya punya kelebihan dan krkurangan masing-masing, yang jelas dua pasang presiden dan wakilnya adalah orang-orang hebat dan siap dengan segala resiko.

Sandiaga adalah calon yang pertama kali santer dituding oleh Andi Arif Demokrat sebagai pihak yang memberikan 500 milyar agar didorong oleh PAN dan PKS untuk jadi pendamping Prabowo. Bagi saya, Sandiaga Uno adalah orang yang berjasa bagi bangsa dari pemilu dengan hanya satu calon presiden dan wapresnya. Jika Sandiaga tidak maju sebagai wakil, apa jadinya?oleh karenanya, atas jasa Sandiaga Uno, kita berikan dua jempol. Apalagi Sandiaga Uno juga memberikan modal untuk berkampanye kepada pak Prabowo dan timnya, karena tanpa modal besar, pesta demokrasi akan sepi. Dalam sejarah, hanya K.H Abdurrahman Wahid yang modal dengkul untuk jadi presiden, itu pun dengkulnya Amin Rais.

Masalah komentar politik, di era virtual ini, semuanya ingin menjadi komentator politik. Sehingga logika politiknya juga berbasis pada background pengetahuan dan pendidikkannya. Misalnya mereka yang berbackgound klenik, akan mengatakan “inilah saatnya satrio piningit keluar” begitu juga mereka dengan backgruond pekerja keras, pasti mereka akan menyebut, sing penting kerja politik hanya urusan diruang TPS. Jika saya simpulkan, maka hanya ada dua komentator sebenarnya, satu adalah pendukung Jokowi dan Kyai Ma’ruf Amin dan kedua adalah komentator pendukung Prabowo dan pasangannya. Semuanya akan membela dan menampakkan kelebihan calonnya.

Sebagai kader NU, saya fahami bahwa hadirnya Kyai Ma’ruf Amin sebagai wakil Jokowi adalah pembelajaran bagi warga NU untuk bersiap menghadapi pertempuran dan siap menjadi pelaku (Fail). Saya tidak akan merelakan pertempuran ini mengarah pada posisi NU yang hanya menjadi obyek pelengkap penderita. Oleh karenanya warga NU kudu membuka pikiran cerdasnya, ini bukan saatnya lagi menganalisa menggunakan perasaan atau analisa kasar melihat sosok tua dan muda, atau bahkan melihat sosok berduit atau tidak.

Logika sederhananya, jika keluargamu ada yang mencalonkan jadi kepala desa, apakah dukunganmu engkau gadaikan pada orang lain? Jika engkau tidak setuju saudaramu maju dalam pencalonan tersebut, paling-paling kita akan ngomel dan ngrundel, tapi dukungan kita, akan tetap kepada saudara yang kita omeli kan?

Jika ada orang PKS mendukung Prabowo, maka sudah pas, karrna PKS adalah partai pengusung. Jika ada orang PAN, Gerindra atau Demokrat yang memilih Prabowo, hal tersebut juga pas, karena semuanya adalah partai pengusung.

Lantas, saat tokoh utama NU punya gawe, dan menggelar hajatan, jika ada orang NU, santri langgar dan Masjid, anak pondok, alumni pondok, tukang tahlilan, Muslimat, Fatayat, Ansor, Banser, IPNU, IPPNU terus semuanya malah tidak ikut nyengkuyung hajat tokoh panutannya, dengan memilihnya, maka perlu dipertanyakan sikap tersebut.

Apa pun yang dilakukan NU akan selalu disalahkan, karena mereka yakin bahwa NU lah yang menjadi penghalang untuk memuluskan niat mereka. Jadi, bukan karena Kyai Ma’ruf sepuh, bukan pula karena Kyai Ma’ruf Amin tidak mumpuni, sejatinya mereka menyerang figur Kyai Ma’ruf Amin karena beliau NU. andaikan mereka ketemu yang muda sekalipun, kalau muda tersebut adalah kalangan NU, maka mereka juga tidak akan kehilangan akal untuk membully dan menyerang tokoh NU.

Sadarlah Sahabat, bahwa ini adalah pertempuran yang menguji kita untuk siap menjadi pelaku atau tetap menjadi obyek pelengkap penderita. Relakah sahabat ibarat kata, sudah jatuh tertimpa tangga? Saya yakin, sikap kader NU sudah jelas, kecuali yang belum.