“Kami kemari minta keadilan, Kyai”

Demikian ucap salah seorang opsir dengan nada mengancam dan wajah tak bersahabat. 

Wajah kiyai Hasyim teduh dan responnya masih sangat tenang menanggapi tuntutan tersebut. Meskipun wajah para santri yang hadir saat itu kemerahan karena menahan amarah. 

Tuntutan itu bermula dari pengeroyokan santri Tebuireng terhadap maling yang kepergok mencuri di pesantren bakda maghrib beberapa hari yang lalu. 

Maling tersebut ternyata umpan para preman dan mucikari yang bersekongkol dengan opsir Belanda. 

“Kyai, kami berikan pilihan-pilihan sebagai balasan keadilan karena kematian rekan kami. 

Pertama,  Kyai menyerahkan salah seorang santri kepada kami. 

Kedua,  Kyai sendiri yang menyerahkan diri. 

Dan yang ketiga,  terpaksa Tebuireng akan kami bakar”.

Gertak opsir tersebut dengan galak. 

“Tidak kisanak,  itu semua kami tolak sebelum ada bukti yang kuat meninggalnya maling tersebut “.

Demikian jawab Hadratusy Syaikh dengan tenang. 

Hal ini karena beliau sangat paham,  dibalik semua ini ada konspirasi Belanda yang ingin menghancurkan Tebuireng karena sepak terjang beliau sudah dirasa mengusik Penjajah. 

“Baiklah Kyai,  kami beri waktu satu pekan untuk berfikir dan menimbang-nimbang pilihan-pilihan ini. Kalau demikian kami mohon pamit”. Tutup opsir tersebut dan segera melangkah dengan diiringi 25 orang pasukan nya. 

Memasuki malam keenam dari hari ancaman tersebut Kyai Hasyim tidak bisa tidur. Ia tatap langit dengan wajah khusyuk dan sangat mengiba kepada Allah ta’ala. 

Bagaimana bisa ia serahkan salah seorang santrinya untuk dibunuh dengan alasan yang tidak jelas. 

Dan untuk menyerahkan diri sungguh juga bukan pilihan yang tepat,  bukan karena ia pengecut dan tidak berani mati,  namun itu bentuk kekalahan kepada kedzaliman. 

Namun membiarkan Tebuireng dibumi hanguskan juga bukan perkara sepele. 

Pesantren ini telah dirintis dari nol dengan izin Allah dan saat ini namanya sedang berkibar di seantero nusantara. 

MasyaAllah,  sungguh pilihan-pilihan ini teramat sulit dan hanya kepada Allah lah tempat berserah diri dan mengadu,  maka beliau habiskan malam itu dengan Tahajjud dan munajat. 

Menjelang subuh ia keliling ke kamar-kamar santri untuk membangunkan mereka seperti kebiasaan yang telah dilakukan selama ini seolah tidak ada apa-apa. 

Pagi harinya beliau mengumpulkan para santri senior untuk diajak musyawarah mengenai ancaman tersebut. Sebagian besar mengusulkan untuk melawan kedzaliman ini,  namun Sang Kyai terlihat tidak setuju. Meski mereka sudah banyak menguasai ilmu beladiri yang diajarkan oleh para kiyai Buntet namun melawan Belanda dalam kondisi saat itu bisa berakibat fatal. 

“Saya telah Tahajjud,  istikharah dan melakukan muwazanat,  maka dengan Bismillah saya mengambil keputusan;  kita biarkan mereka membakar Tebuireng”. 

Demikian ucap beliau menanggapi masukan dan saran para santrinya.  

“Ingat anakku yang kita hadapi bukan hanya Belanda,  namun juga para preman yang notabene adalah saudara sebangsa kita sendiri sehingga tidak tepat kita hadapi mereka secara fisik. 

Dan sungguh saya sangat mencintai pesantren ini,  namun membiarkan nya dibakar itu bisa lebih ringan madharatnya karena bagaimana pun kamar-kamar yang kalian huni itu dulunya adalah kamar-kamar para pelacur.. 

Biarlah ia hangus bersama dosa-dosa mereka yang telah taubat dan mudah-mudahan bisa kita bangun lagi dari awal”. 

Meskipun berat,  akhirnya para santri senior itupun menerima keputusan Sang Penakluk Badai.  

Persis pada malam kedelapan,  para preman dan para opsir itu datang dengan kemarahan yang meluap karena mendapati pesantren telah kosong tanpa penghuni.  

“Dasar Kyai tengik,  pengecut,  takut mati,  Kyai tak bertanggung jawab… 

Keluar kau Bangsat! ” demikian sumpah serapah keluar dari mulut comberan mereka. 

Namun yang dipanggil tak kunjung tampak karena Sang Kyai telah membawa ratusan santrinya pergi meninggalkan lokasi. 

Dan akhirnya dengan sangat garang mereka membumi hanguskan pesantren Tebuireng.. 

Api segera melahap pesantren yang sebagian besar bangunan nya terbuat dari kayu tersebut. 

Dan.. 

Dari jarak sekitar dua kilometer,  di sebuah tanah kosong yang dikelilingi hutan perdu,  Kyai Hasyim dan ratusan santrinya menatap api yang membumbung tinggi dan asapnya menghitamkan cakrawala.  

Beliau menatap nya dengan wajah penuh duka. Sedangkan ratusan santri tak kuasa menahan tangis melihat tempatnya belajar dihancurkan para penjahat. 

Menjelang subuh, ketika api sudah padam dan pesantren telah menjadi abu dan puing-puing Sang Kyai dan para santrinya menatap reruntuhan pesantren dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan… 
#ibrah dan hikmah

———————————-Ingatlah bahwa sejarah selalu mengulang dirinya. Bersikap dalam pilihan yang sama-sama sulit dan cepat butuh kematangan analisa dan penalaran yang jernih. Sehingga saat kita dihadapkan dengan pilihan sulit, maka kita bisa bersikap bijak dan tepat dalam pilihan yangbtentunya dengan memperhitungkan manfaat dan madlarat serta maslahah bagi jama’ah dan jamiyyah.

Kepada para Pemimpin Umat. Ketika kita dihadapkan pada masalah umat, maka kembali kepada Allah adalah kuncinya. Serahkan semua urusan hanya kepadanya. Jangan sedikit pun terlintas dalam benak kita bahwa kita bisa mengatasinya dengan usaha dan ikhtiar kita. Tanpa campur tangganNYA, tidak akan berhasil semua urusan kita.

Dengan menggunakan fiqih muwazanat  (mempertimbangkan maslaha dan madlarat) adalah tugas keulama’an yang kadang bagi sebagian orang belum dipahami hikmahnya saat keputusan dalam kejadian itu terjadi.

Sebagaimana dalam kelanjutan kisah diatas, kurang dari enam bulan, Tebuireng sudah berdiri kembali dengan bangunan yang lebih kokoh dan permanen dan namanya semakin harum di Nusantara. 

Dan yang terakhir, Tebuireng sebagai markas lahirnya NAHDHATUL ULAMA adalah wadah perjuangan para santri dan Ulama’ menjaga keutuhan NKRI dan kedaulatan Bangsa Indonesia.

Bahkan sejak awal berdiri selalu terdepan dalam memperjuangkan Islam dan umat Islam sehingga kita semua patut berdoa semoga Nahdlatul Ulama’ sebagai Ormas terbesar, tetap istiqomah dengan Khittahnya (1926) dan mewarisi ruh perjuangan para pendirinya…