Mengapa ada penyematan Religius dibelakang Nasionalis? Terlintas ada maksud dari susunan kata pada Nasionalis Religius yang pada awal kemerdekaan menjadi pilihan jargon bagi NU yang kemudian juga menjadi partai politik. 

Penyematan kata Religius menjadi pembeda antara NU dengan Nasionalis yang saat itu menjadi jargon PNI, bahkan Religius sendiri juga beda dengan gaya Masyumi yang mengusung Religius pembaruan/ berkemajuan. Sehingga dari hal ini saja, NU konsisten mutawassitun.

Berbicara Nasionalis, pelajaran ini khattam diambil oleh NU, dalam perumpamaan, “NU Ibarat Burung Perkutut yang memiliki suara merdu dan menjadi lirikan semua orang, Sedangkan Indonesia Ibarat Sangkar perkutut yang menawan dan diminati semua orang”. Sehingga mempertahankan sangkar perkutut menjadi wajib agar perkutut selamat dan tetap bersuara indah.

Sedemikian pula menjaga NU tanpa menjaga NKRI adalah salah, pun pula ketikan menjaga NKRI tanpa mempertahankan NU adalah bohong. Jika kita kilas balik sejarah, mulai dari 1934 ketika Mbah Wahab membuat Syair Ya Lal Wathan/ Subhanul Wathan, di tahun 1934 Mbah Wahab sudah menyebut “Indonesia bilaadi( Indonesia Negeriku)” siapa yang berani menyatakan pengakuan negara diluar pemerintah yang berkuasa(Belanda)? Bahkan tidak sekedar ngarang lagu Subhanul Wathan, saat itu seluruh kegiatan ngaji, sekolah, pasti diawali dengan mars Shubhanul Wathan. Ini tidak sekedar motivasi atau bina swasana bro. Beliau Mbah Wahab Chasbullah Sedang mengidiologisasi dan memompa semangan Nasionalisme kepada generasi bangsa dan para santri di pondok. 

Menurut beberapa sumber, pada tahun 1955 di pondok pesantren sebelum ngaji dimulai pasti di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Syubhanul Wathan, dan Pancasila secara bersama-sama santri dan kyai. Ditambah lagi ada pelajaran wajib di pondok yakni pelajaran NU. Sehingga alumni pondok saat itu, Nasionalisme Mantap, religiusitasnya kongkret, dan semangat berkhidmat pada NU cukup matang. Sehingga mayoritas pengurus NU adalah alumni pondok pesantren.

Berbeda dengan kondisi sekarang, banyak alumni pondok yang tidak ngerti dengan NU dan banyak pengurus NU yang bukan alumni pondok. Lantas apakah harus bilang waow gitu?. Apakah keduanya bermasalah? Atau adakah solusinya?.

Secara ideal, pengurus NU harus pernah menjadi santri/mondok dan memiliki pengetahuan ber NU yang mantap. Sehingga ketika bersosialisasi dengan masyarakat tidak hanya membahas masalah tapi juga menjawab masalah. Jadi keilmuanya tidak hanya tekstual tapi juga kongkret.

Sedemikian pula jika ada pengurus NU yang bukan alumni pondok tapi faham ber NU. Maka sebenarnya yang demikian inilah model pengurus yang mampu menjawab masalah dan tidak sekedar membahas masalah. 

Jadi sinergitas antara yang alumni Pondok dan bukan alumni pondok tapi aktif dan faham ber NU, sangat dibutuhkan untuk mewujudkan harmoni organisasi dan menapaki dinamika perubahan zaman. Intinya”Ber NU harus di Ngilmoni” tidak sekedar sukur demen, walaupun sukur demen itu juga penting. Ada hal secret(rahasia) yang mungkin bukan konsumsi publik, ada juga hal yang sifatnya konsumsi publik. Yang kesemuanya jika di Ngilmoni insyaallah NU nya akan Mantap. Tidak gampang kaguman dengan kelompok luar dan tidak gampang tertutup terhadap pengetahuan baru walaupun datang dari generasi yang lebih muda. Bukankah huruf ‘ain pada lambang NU ditulis terbuka? Yang artinya terbuka terhadap pengetahuan dan terbuka menerima kritik dan saran.

“NU yang diNgilmoni” berarti menggali keilmuan dan pengetahuan tentang NU sejak bagaimana NU dilahirkan dan bagaimana NU survive sampai sekarang dan mencari formula bagaimana NU yang akan datang. Dalam berbagai literatur yang ditulis para tokoh NU sering diceritakan, dahulu waktu Muktamar ke 5, para peserta muktamar saat berada di kamar peserta, mereka berbincang membahas kondisi asia, eropa mulai isu ekonomi, politik dan keamanan dunia. Artinya, zaman dahulu, para Kyai yang alumni pesantren tulen, pembahasannya sudah mendunia, tidak terkungkung pada masalah lokal saja.

Misalnya lagi kaitan Kitab Sayyid Muhammad Hasan As’ad Syihab yang menulis perjalanan Revolusi Indonesia sejak Diponegoro sampai kemerdekaan yang di dalamnya memuat dinamika ber NU dari tokoh-tokoh NU, ditambah lagi buku “Al allaamah Muhammad Hasyim Asy’ari Waadhiu Libinayati Istiqlaali Indonesia yang konon sudah diterjemah oleh KH. Musthofa Bisri Rembang” dan tentunya ribuan sumber pengetahuan keilmuan ber NU sehingga faham NU dan tidak menga-mengo saat dipameri atau diajak beralih haluan ke selain NU.

Kita juga harus faham bahwa ada “Bibliosida(penghancuran buku) milik Ulama’-Ulama’ nusantara yang dilakukan oleh penjajah atau pun para lawan aqidah Aswaja. Buktinya apa kalau kita juga masih kurang faham Bibliosida itu ada? Tahun 2015 ketika muktamar 33 di Jombang, tema Islam Nusantara yang diusung menjadi keanehan warga NU sendiri. Begitu belakangan di susun buku tentang karya Ulama’ Nusantara yang tersimpan di Museum Arab dan Eropa berupa kitab ulama’-ulama’ asal Indonesia jumlahnya ratusan kitab. Dari literatur tersebut, berbagai keilmuan dijelaskan dan beliau-beliau adalah tokoh ulama’ Nusantara yang kaya dalam berbaga Khazanah Keilmuan dengan Sanad yang jelas dan tersambung sampai pada. kanjeng Nabi Muhammad saw. Maka jika dalam berkhidmd kepada NU ada masalah, bukan NU nya yang salah, tapi pribadi pelaku atau oknumnya yang belum sesuai dengan ketentuan organisasi. 

Sebagaimana kalimat yang ditulis Mbah Ridwan Abdullah( Pencipta Lambang NU) dalam menasehati anak cucunya”NU adalah organisasi yang diridhoi oleh Allah swt, indikatornya adalah pertemuan ulama’, lambang dan makna lambang NU. NU ini bukan buatan manusia, tapi buatan Allah. Kita hanya perantara bagi terwujudnya NU. Maka harus Ikhlas dalam mengurus NU. Sebab kalau Ikhlas ia akan menghidupi NU. Jika tidak ikhlas ia akan mencari kehidupan di NU”. 

Perlu difahami juga bahwa kenapa NU bernama Nahdlatul Ulama’? Karena tidak semua Kyai punya semangat Nahdlah(bangkit) sebagaimana jawaban Mbah Kyai Mas Alwi sang pencetus Nama Nahdlatul Ulama’. Sehingga Ulama’ yang ada di NU harus memiliki jiwa Nahdlah dan menjadikan warganya untuk Nahdlah kepada Allah swt, baik ucapan maupun perbuatan. Wallahu a’lamu bishowaab.

Disarikan dari buku: Mahakarya Islam Nusantara, Berangkat dari Pesantren dan Fragmen Sejarah NU serta Keterangan yang penulis dengar dari Romo Kyai Muhsin Gozali. Penulis adalah salah satu Pimpinan di Media online Lakpesdam Tulungagung dan Dosen Muda di STAI Diponegoro Tulungagung.