Kereta Dhoho Jurusan Surabaya lewat Kertosono telah tiba di stasiun Tulungagung tepat pukul 05: 59 WIB terdengar dari mikrofon stasiun yang disambut sorak kegirangan rombongan kami yang bertujuan menggunakan fasilitas ini untuk piknik di libur sekolah tahun ini. Kami satu rombongan 8 orang sengaja memilih moda transportasi yang dikendalikan oleh Masinis ini karena permintaan si kecil dan keponakan yang penasaran pingin mencoba naik kereta api. Lho …Thomase Endi kok gak melu? Pertanyaan dari keponakan saat kita sudah duduk di dalam kereta. Yang disusul pertanyaan lain dengan keluguan dan fantasi dunia film kartun. Bahkan ada keponakan yang bertanya di saat kereta sudah sampai Kertosono” iki wis jalan ya keretane”, Subhanallah sedemikian besar halusinasi dan pengaruh dunia maya kepada dunia nyata.

Perjalanan kami penuh warna pertanyaan polos bocah kecil ndeso yang punya keinginan tinggi untuk tahu apa yang mereka lihat, termasuk ketika ada penumpang yang pindah tempat duduk dan digantikan penumpang lain yang menunjukkan karcis dengan nomor bangku tersebut, ada yang bertannya apa makanan kereta?, sawah milik siapa?, Kereta lewat jembatan nyebrang sungai kok gak basah?, bahkan pertanyaan “ naik kereta kok hanya pakai karcis? Kok gak bayar pakai uang?, yang semua pertanyaan mereka kami jelaskan satu persatu agar mereka faham. Bahkan saat sampai di Kertosono Gerbong Kami yang awalnya berada di bagian paling belakang, berubah menjadi paling depan karena bagian Lokomotif depan berpindah dan berganti posisi. Perpindahan ini diringi bacaan Basmalah para penumpang, bak tontonan spesial bagi penumpang di gerbong yang kami tumpangi.

Sesampainya di stasiun Wonokromo, rombongan kami turun untuk melanjutkan destinasi piknik ke Kebun Binatang Surabaya, pemiihan tempat ini karena mereka yang ikut dalam rombngan terprovokasi oleh salah satu keponakan yang mendapat cerita dari temannya tentang kebun binatang yang isinya ada buaya, harimau, singa, burung, jerapah, gajah,dan ada patung Surabaya. Bahkan cerita bisa berfoto bersama binatang yang ada disana. Sehingga begitu kita sampai di Kebun Binatang Surabaya, permintaan anak-anak adalah pingin foto di bawah patung Surabaya. Hal istimewa bagi saya pribadi adalah saat perjalanan dari Stasiun Wonokromo menuju Kebun Binatang Surabaya dengan memakai fasilitas Grab Car, ternyata sang Sopir adalah teman sekolah yang sudah  lebih 15 tahun tidak bertemu karena sejak lulus SMA si Doi bertugas menjadi prajurit TNI di Surabaya. Pikir saya” Ya Allah,,, Nikmat apa lagi yang hendak aku dustakan, soale sang teman mesti menolak untuk dibayari. Trimakasih  Komandan Samsuri. Semoga Barokah.

Setelah antre membeli tiket, kami pun masuk untuk menjelajah Kebun Binatang Surabaya untuk memuaskan keingin tahuan si Kecil dan keponakan yang sejak dari rumah pingin seperti cerita temannya dapat melihat secara nyata berbagai satwa yang ada di KBS. Menyisir lokasi dengan berbekal melihat peta KBS, kami pun memulai petualangan bersama tim dengan melihat merak yang langsung dikomentari “ weh merake bulune elek( meraknya bulunya jelek), bergeser ke samping kanan, ada Jerapah, Zebra dan Rusa, langsung decak kagum anak-anak polos ini sambil berucap” Jearapahe tenan ye kui kok gedhe banget( Jerapahnya itu asli ya? Kok besar sekali). Sampai pada saat kami bertemu dengan lokasi pertunjukan gajah, saat ditawari naik gajah, tidak ada anak yang berani karena takut gajahnya besar. Selanjutnya sampai pada tempat perawatan bayi Komodo yang berdekatan dengan beruang madu, “ wau beruange Marsha, ngesakne ya, gak iso mudun(wau beruangnya Marsha, Kasihan ya dia gak bisa turun) komentar salah satu keponakan yang lebih dahulu melirik lokasi beruang. Kepolosan lain juga mereka sampaikan saat melihat Buaya  Muara dengan pertanyaan” iku urip ye buayane”( buayanya itu hidup ya?). dan destinasi lebih seru saat diujung lokasi satwa burung yang memberikan fasilitas selfi bersama burung yang sudah dipersiapkan. Kami pun tak melewatkan kesempatan ini dan menantang rombongan anak-anak ini untuk berani selfie bersama burung. Dan yang tidak berani adalah si kecil Adeeva sementara saudara sepupunya yang lain berani semua, alasannya adalah, tahun depan dia berani untuk berselfie bersama burung di KBS. 

Sebelum keluar ternyata ada wahana permainan untuk anak-anak yang memberikan fasilitas bermain mini Go Cart, dayung, renang, dan permainan ketangkasan lainnya. Tak lupa, Mereka juga  nikmati wahana yang berada di ujung destinasi piknik liburan sekolah tahun ini. Setelah puas menikmati semua lokasi KBS rombongan pun bersiap untuk kuliner tipis-tipis disekitar pintu masuk dan keluar KBS. Namun ada satu permintaan sebelum pulang, yaitu foto dibawah patung Surabaya dan langsung dicetak dilokasi. Akhirnya kami iyakan tawaran juru kamera yang berada dilokasi KBS, setelah menunggu beberapa menit, kami pun diarahkan ketempat mencetak foto dan kagetnya, petugasnya menegur saya dan Subhanallah…ternayat anak alumni PMII UINSA Mas Syukur. Yang juga menolak saat dibayari. Terimakasih PMII UINSA Mas Syukur semoga barokah.

Sesuai jadwal, jam 16:00 Kami harus berada di Stasiun Wonokromo untuk pulang kembali ke Tulungagung. Berbeda dengan perjalanan berangkat yang dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, perjalanan pulang para anak-anak tertidur pulas sejak masuk gerbong kereta sampi kereta berhenti di Stasiun Tulungagung. Pesan saya, Sempatkan Piknik agar tidak lupa untuk bahagia. Saya sejak awal berandai-andai begini” yok opo yen TOA Stasiun kae di Bid’ahne?, ora bakalan ono sing Sholat Jama’ Qoshor yen gak njajal piknik Bro. Terimakasih semuanya buat pak Masinis yang keretanya dibeli dari China, pemilik Grab yang jarene groupe James Riadi, tukang foto yang kamerane juga produk Asing, TOA produk asing yang digunakan stasiun yang juga berjasa memberi suara dari sumber info.

#ini cerita piknikku, mana cerita piknikmu?