Ba’dan artinya setelah asal kata bahasa arab lumrah digunakan masyarakat Tulungagung untuk silaturraohim kepada sanak saudara dihari raya Idul Fitri. Ada juga yang menyebut sejarah, atau nglencer atau unjung-unjung intinya adalah mendatangi sanak saudara untuk saling meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan. Tak jarang juga, ba’dan adalah media berkumpul keluarga jauh di perantauan yang mudik ke kampung halaman.

Bermacam cerita dan pernak-pernik verita saat ba’dan di kampung halaman. Mulai dari cerita masa lalu yang dituturkan oleh para sesepuh, bahkan cerita yang sering disitir oleh KH. Anwar Zahid saat mengisi pengajian yang menyebut” Kasih Ibu sepanjang Jalan, Kasih anak sepanjang galah”. Sekuat apa pun usaha anak untuk membalas jasa orang tua, tetap tak sebanding dengan pengorbanan sang orang tua khususnya Ibu.

Saat kecil, ditimang digendong, dididik dan ditempa menjadi orang sukses, menurut KH.Anwar Zahid, yang begitu itu yang ngrasakan adalah istrinya atau cucunya, lha ibunya yang nusang njempalik berjibaku ngragati anaknya sampai sukses, ya paling bisanya crita pas lebaran seperti ini. Dan ini benar kami dapati saat lebaran, ada seorang ibu yang saat ba’dan di rumahnya, beliau bercerita: anaknya yang nomor satu di Jawa Tengah jadi Guru, yang ke dua di Aceh jadi Tentara, nomor tiga jadi sipir di Surabaya. Dan yang bungsu menjadi kontraktor dan pengusaha batu bara di luar jawa. Inilah yang dimaksud KH. Anwar Zahid bahwa orang tua terkadang hanya menjadi pencerita kesuksesan anaknya.

Ada juga yang bercerita, hari pertama anaknya yang dari kota mudik ke kampung halaman dengan membawa roti Khong Guan 1 Blek, tapi hari ke Tiga pulang dengan bawa beras, tewel, kelapa, ayam dan sangu untuk 2 anaknya.

Inilah gambaran pepatah bahwa”kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah” bagaimanapun usaha untuk membalasnya, sangat sulit untuk menyamai pengorbanan ibu. Sehingga wajar jika baginda rosulullah memberikan derajat 3 tingkat dibanding ayah. Bahkan Orang tua kita adalah keramat hidup yang benar-benar keramat. Doa mereka mustajab. Maka beruntunglah yang masih memiliki kedua orang tua yang komplit yang doanya bisa kita minta setiap saat. Ingat “رضى الله فى رضى الوالدين و شخط الله فى شخط الوالدين” Keridhoan Allah berada pada Keridhoan Orang Tua, dan kemurkaan Allah juga berada pada  Kemurkaan kedua  orang tua”.

Mengingat kemulyaan dan kekeramatan kedua orang tua, sangatlah tidak pantas kita berburu keramat diluar orang tua kita dan melupakan orang tua kita. Karena jika itu yang kita lakukan bisa dibilang” mburu uceng kelangan dheleg” kita mengejar keramat yang kecil tapi kelewat dan kehilangan pada keramat yang benar-benar keramat. Bisa jadi jika selama ini kita banyak kendala dan tidak sukses dalam  segala hal, karena kita melupakan keramat hidup yakni orang tua kita.

Padahal jika kita sadar, andaikan kita sekolah tamat S3 sekalipun dan orang tua kita hanya tamatan SD, maka sebenarnya yang sukses adalah orang tua kita yang SD tapi mampu menyekolahkan anaknya sampai S3. Dan tantangan bagi sang anak, jika sang orang tua yang SD bisa merampungkan pendidikan anknya sampai S3, Belum tentu anaknya yang S3 bisa menyamai capaian sukses orang tuanya.

Ada juga yang bercerita saat ba’dan seorang mbah-mbah yang selalu nyangoni siapa pun asalkan belum nikah, walaupun usianya 28 tahun yan yetep disangoni dua ribu rupiah. Dirumah beliau ini selalu jadi uji nyali para jomblo untuk digojlok. Karena sejatinya, sangu dua ribu dari mbah-mbah ini adalah sindiran bagi mereka untuk segera nikah, agar tahun depan tidak termasuk pada asnaf penerima sangu dua ribu.

Ini ceritaku, mana ceritamu?