Membaca berita terkait apa yang dilakukan Banser terhadap Khalid Basalamah di Sidoarjo dan Penghadangan Banser terhadap HTI di Tulungagung kemarin, Kita akan disuguhkan dengan dua hal, yaitu berita yang memojokkan Banser dan Berita yang membela Banser. Lantas bagaimana kronologi dan sebab yang melandasi aksi Banser pada aksi tersebut.

Kita harus faham bahwa HTI bukan organisasi kemarin sore, HTI di dirikan di Yordan oleh Taqiyudin An Nabhani tahun 1953. Konon katanya anggota HTI tersebar di 40 negara dengan pusat komando di London. Bagi saya jadi aneh juga, ya ngusung sistem Khilafah, tapi pimpinannya berada di London, apa ya Kholifah Londoniyyah ya? Inilah fakta Utopis HTI, sistem ke khalifahan siapa yang di usung? Apakah Kholifah ala Rasulullah? Atau Khulafaur Rosyidin? Atau Khalifah para Tabi’in atau justru Khalifah Londoniyah? Perlu kita ketahui bersama bahwa ajaran Taqiyudin An Nabhani atau nama HTI sudah dilarang dengan alasan kelompok dan faham yang dibawa Taqiyudin An Nabhani ini lah yang menyebabkab perpecahan dan hancurnya negara di Timur Tengah. 

Tiga gerakan yang dilakukan HTI dalam perjuangannya, yaitu: Kaderisasi, Sosialisasi, dan Merebut Kekuasaan. Kaderisasi dulakukan HTI dengan menguasai Masjid, memperbanyak forum diskusi. Sosialisasi HTI dilakukan dengan demonstrasi, dan penyebaran pamflet, dan yang terakhir Merebut kekuasaan ini dilakukan dengan segala cara. Mereka membagi peran dan tugas, bagaimana masuk dan menguasai semua lini pemerintahan dari jajaran RT, RW, Dusun, Desa sampai pemerintah pusat. Monggo dilihat struktur kepengurusan HTI, hampir 70 persen pengurus HTI adalah PNS dan BUMN. Ini menunjukkan bagaimana mereka masuk pada pemerintah untuk menguasai. Padahal selama ini orang-orang HTI bilang” Pemerintah adalah Thoghut, selain anggota HTI adalah Kafir, lha ternyata mereka hidup, bekerja dan berkeluarga mengikuti Thoghut yang juga mereka Kafir kan. 

Trus kita lihat apa yang dilakukan Banser kepada rombongan yang dinamai “Pengawal Panji Rosulullah”. Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita bahas “Panji Rosulullah” itu yang mana? Apa yang di pakai HTI atau ISIS? Kok Mereka mengaku dengan pengakuan sama? Kok gak ada klarifikasi atau perebutan panji antara ISIS dan HTI ya? Ya Jelas gak ada, wong ISIS itu embrionya dari HTI.

Kita kembali ke masalah Banser, apakah dengan membubarkan HTI pembawa panji rosulullah di Tulungagung kita sebut Banser Tidak memiliki Toleransi? Sebentar sahabat, apa yang dilakukan oleh Banser semata karena kecintaan mereka kepada NKRI sebagaimana slogan mereka”NKRI Harga Mati”(ini slogan prrtama kali disampaikan mbah Lim/K.H Muslim Imampuro pada tahun 1983 yang di ilhami dari mbah Wahab). Wujud kecintaan Banser kepada NKRI adalah ketidak relaan Banser terhadap pelecehan HTI kepada negara dengan mendirikan negara di dalam negara.

Lha kok gak aparat keamanan yang bertindak? Lha disinilah cerdasnya Banser Sahabat. Banser faham bahwa negara Indonesia adalah negara hukum, sementara aparat tidak memiliki aturan undang-undang untuk menjerat para pelaku dan penggagas perbuatan makar. Karna peraturan yang ada masih menyebut makar adalah ancaman secara fisik kepada negara. Ancaman secara gagasan tidak tersentuh hukum yang dimiliki aparat. Oleh karena hal inilah dan karena kecintaan Banser pada NKRI yang merupakan hasil perjuangan para Syuhada’,Kyai, dan santri yang telah mendahului kita, dan Bagi Banser merupakan penghianatan jika membiarkan NKRI di injak-injak oleh HTI yang tidak jelas secara peran kesejarahan dalam perebutan kemerdekaan.

Perlu diketahui jumlah pasukan Banser menurut data terbaru 1,7 juta personil yang tersebar di Nusantara ini 3 kali lipat jumlah persinil Polisi di Indonesia. Mereka tidak mengeluh karena tidak bayaran seperti Polisi dan Tentara. Mereka siap 24 jam. Merrka tidak takut mati, karena Mati menurut Banser adalah keniscayaan, yang semuanya pasti mengalami, hanya beda waktu kapan mati. Banser tidak takut mati karena Banser faham bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. 

Oleh karenanya mari kita dudukkan perkara sesuai proporsinya, siapa yang harus tahu diri di wilayah NKRI, jangan asal sesuka gue kayak HTI, kok andaikan HTI diberi ruang di NKRI, maka siap-siaplah untuk di bunuh HTI, karena mereka belum diberi ruang saja nyebut orang di luar HTI sebagai” Kafir”. Negara disebut Thoghut. Penghadangan Banser kepada HTI janganlah dilihat hanya dalam framing Pilkada DKI yang endingnya kelompok siapa dan bela siapa. Kita letakkan DKI sebagai bagian dari NKRI saja. Kita berfikir secara makro untuk keutuhan NKRI dalam bingkai Kebhinekaan.