Disetiap pembukaan pidato, sering kita dengar kalimat” semoga taufiq dan hidayahNya selalu kita dapatkan”. Lha sebenarnya taufiq dan hidayah ini apakah beda atau justru sama persis?sering juga kita mendengar kalimat “Orang yang diberi hidayah sehingga bisa beriman, belum tentu diberi taufiq.”
Taufiq yakni pertolongan Allah sehingga kita bisa memperbanyak amal sholeh. 

Orang yang masuk surga cirinya dua. Iman dan amal sholeh. Iman butuh hidayah. Amal Sholeh butuh taufiq. 

“Ada lima hal yang bisa menyebabkan seseorang memperoleh taufiq.”

Pertama, bersyukur. “Selalu merasa bahwa kebaikan yang diterima atau dilakukan berasal dari Allah, dan merupakan anugerah Allah.”

Kedua, ilmunya terus bertambah, amalnya juga terus  bertambah. “Orang yang sibuk mencari ilmu tapi amalnya tidak pernah bertambah itu justru menghalangi taufiq. Sibuk cari dalil,” tegasnya. Man zada ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallahi illa bu’dan. 

Ketiga, berkumpul dengan orang sholeh. Dan meniru perilaku orang sholeh tersebut. “Berkumpul dengan orang sholeh namun tidak meniru perilakunya, bahkan hanya dimanfaatkan untuk kepentingan duniawi justru menutup taufiq,”. 

Keempat, tidak sedih atas dunia yang tidak diraih. Alias tidak tama’. Otomatis sifat tama’ akan membuat pintu taufiq tertutup. 

Kelima, selalu mempersiapkan diri menghadapi kematian yang sudah pasti. Ingin mati dalam kondisi sedekah, perbanyak sedekah. Ingin mati saat berdzikir, perbanyak dzikir. Ingin mati puasa, perbanyak puasa. Ingin mati baca Qur’an, perbanyak baca Qur’an. Ingin mati saat  shalat, perbanyak shalat. 

Adapun ciri orang yang memperoleh taufiq ada tiga.

Pertama, Gampang melakukan kebaikan. Selalu saja ada kemudahan untuk ibadah. 

Kedua, Sulit melakukan kemaksiatan. Saat hendak maksiat Selalu saja ada halangan. 

Ketiga, hatinya selalu cinta  kepada Allah. Dia selalu rindu  ibadah.

Semoga kita selalu mendapat taufiq dan hidayahNya, sehingga mampu menjadi pribadi yang sholeh secara amaliyah dan pengetahuan.