“Saya berikan tantangan untuk ISNU, mampukah ISNU Tulungagung khususnya, menciptakan aplikasi portable di dalam android yang berbasis tematik, misalnya aplikasi ulumul hadist, tafsir, rijalul hadist yang semuanya berbasis keilmuan Aswaja An Nahdliyah”

Kalimat penggalan yang disampaikan gubernur Jawa Timur terpilih dan akrab disapa Bunda Khofifah Indar Parawansa dalam pelantikan ISNU Kabupaten Tulungagung, masa khidmat 2018 -2022, pada hari Sabtu, 29 Desember 2018 pukul 15:00 WIB, bertempat di pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso.

Kalimat diatas diawali dengan ceritera bunda Khofifah terkait peran penting ISNU dalam pertarungan geopolitik dan geostrategis sebagaimana yang telah diramalkan Gus Dur, bahwa pada tahun 2.000 nan, kejayaan dunia akan diawali dari Asia dan khususnya Indonesia.

Pernyataan Gus Dur bukanlah tanpa alasan, peradaban dan budaya di dunia mulai mencari jati dirinya, karena mereka mulai mengalami kegelisahan hidup dan kebahagiaan hidup, karena ternyata materi berlimpah dan sistem pelayanan canggih di negara mereka, tak mampu menjawab apa itu kebahagiaan hakiki. Dari pernyataan inilah kemudian Gus Dur menerangkan bahwa Asia punya solusi untuk semuanya, dan bagian penting di Asia adalah kekuatan Indonesia sebagai pemilik jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dan mayoritas berfaham Sunny.

Maka segmen yang harus diambil ISNU adalah “bagaimana merubah pola pikir dunia dengan pola pikir Aswaja An Nahdliyah, yang di dalam manhajul fikr Aswaja, ada Tawasud, Tawazun, Tasamuh, dan I’tidal. Hanya dengan menjadikan pola pikir Aswaja sebagai Manhajul Fikr, maka peradaban baru dalam bingkai rahmatan lil ‘alamiin bisa terwujud dari Indonesia sebagaimana yang pernah disampaikan Gus Dur. Pungkas bunda Khofifah yang diiringi tepuk tangan para hadirin.

Dalam lanjutan pesannya, bunda Khofifah menegaskan bahwa “Sarjana bukan saatnya lagi berdebat tanpa dasar, Sarjana bukan lagi tempat berkumpulnya kelompok unyu-unyu untuk sekedar seru-seruan, tapi sarjana NU harus mampu mewujudkan pelayanan kepada masyarakat dan mewujudkan kemajuan bagi bangsa Indonesia dan dunia dengan tetap berpegang pada ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyah”.

Saya beberapa waktu yang lalu ke China, Hongkong, Taiwan bersama beberapa rombongan. Saat berada ditempat-tempat umum, saya banyak disapa saudara-saudara kita yang berada disana, ada yang dari Blitar, Trenggalek, Tulungagung, dan kota lain di Jawa Timur. Mereka kenal dan menyapa saya, karena wajah saya familiar sebagai wajah TKW. hadirin tertawa dan gerr-gerran mendengar jok yang dilempar bunda. Mereka yang di Taiwan, Hongkong, China, dan belahan dunia lainnya butuh sentuhan kita, sentuhan yang menanamkan dan menguatkan Idiologi Aswaja An Nahdliyah, karena kalau kita tak mau menyapa mereka, maka kelompok lain yang akan menyapanya, dan jika yang menyapa orang lain, maka hilanglah Aswaja mereka. ini juga tugas berat ISNU.

Disisi lain bunda juga berbepasan kepada pengurus ISNU Tulungagung bahwa garapan bidang yang menjadi index capaian kinerja 100 hari menjadi Gubernur Jawa Timur adalah menwujudkan One Pesantren One Product (OPOP), butuh kerjasama semua pihak khususnya ISNU untuk mewujudkan program tersebut.

Dari yang saya tulis di atas, hanya bagian kecil pesan bunda Khofifah. Secara garis besar, bagaimana kerja nyata mewujudkan pelayanan yang baik kepada jama’ah dan Jam’iyyah adalah tugas bersama pengurus NU dan seluruh Banom dan Lembaganya yang juga perlu disinergikan dengan pemerintah. Karena tugas berat kita semua adalah menjaga dan merawat apa yang sudah diperjuangkan para founding father bangsa dan para pejuang serta syuhada’ yang telah mendahului kita semua, yakni mewujudkan perdamaian dunia dan kesejahyeraan bersama dalam bingkai rahmatan lil ‘alamiin.