Pilkada DKI memberikan pelajaran luar biasa, apabila dikaji dari berbagai sisi. Terutama teoritis, akademis, hingga praktik realitanya. Bagaimana yang kabarnya para Taipan, Sembilan Naga dan para Kapitalis hendak memback up penuh, tetapi kenyataannya memang “Vox Populi Vox Dei, suara rakyat suara Tuhan”.

Study case hingga thesis, anti thesis dan semua ilmu yang bisa disaring di dalamnya, begitu banyak. Kejutan pun seringkali muncul, seiring aksi, tindakan, berita dan informasi yang kadang tidak masuk akal bagi rakyat, dan menuntut rakyat untuk berpikir, bagaimana memfiltrasi diri dari informasi tersebut.

Dari pilkada DKI pula, mengapung ke permukaan, bagaimana karakter kawan dan saudara yang (ternyata) sifatnya reaktif, loyalis, antipati, biasa-biasa saja dan masa bodoh. Padahal model sikap reaktif apapun seorang loyalis, (mereka seharusnya sadar) bahwa tidak ada yang abadi dalam politik, tidak ada kawan abadi, pun pula tidak ada lawan abadi, tetapi yang ada hanyalah kepentingan. 

Terima kasih pilkada DKI yang berakhir cukup sejuk dan dewasa, ini. Kami di daerah, sudah mendapat ilmu dan pelajaran berharga, bahwa politik itu sesungguhnya…………yaaaaah sepertih ituh.

Mari eratkan persatuan dan ukhuwah wathaniyah dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.