Senin, 8 Mei 2017 secara resmi pemerintah Indonesia membubarkan Ormas HTI. Berbagai media online dengan cepat memviralkan informasi tersebut, dan disusul dengan berbagai tanggapan berbagai pihak dan para tokoh, mulai aktifis WA, FB dan tokoh Nasional ikut berkicau menangkap umpan realitas pembubaran HTI.

Secara fenomenologi pembubaran HTI di Indonesia bukanlah kali pertama yang terjadi di seluruh dunia, tapi sudah deretan ke sekian kalinya, tapi respon berbagai kalangan begitu masif, misalnya dari Yusril Ihza Mahendra, yang dengan gigihnya memposisikan HTI tidak atau belum bisa dibubarkan tanpa melalui prosedur yang menurut Gus YIM belum dilalui pemerintah. Disisi lain ada juga Din Syamsudin yang dalam tulisannya menyebut bahwa HTI adalah pemersatu Islam Sunny dan Syi’ah dalam semangat keberagamaan. Ada lagi Prof Edi Sri Swasono yang masih kerabat Sri Bintang Pamungkas. Para tokoh ini seolah-olah tidak menyetujui terhadap sikap pemerintah yang telah membubarkan HTI. 

Sebenarnya jika kita menyimak geneologi gerakan, baik dari ideologi atau ketokohan dan kejadian, maka sedikit petunjuk kita dapatkan untuk menjawab masalah pendapat dan keberpihakan para tokoh tersebut. Jika kita lihat dari ideologi doktrin dan geneologi gerakan, para pembela adalah kelompok yang terdoktrin Masyumi, sudah pasti mereka membela walaupun dengan dalih “Ukhuwah Islamiyah”, pada hal saya pernah di Kafirkan sama HTI….he he he. Minimal Jika HTI sudah pernah mengkafirkan sesama Muslim, kita layak waspada atas jargon Ukhuwah yang mereka sebut dengan “Ukhuwah Islamiah”.

Selain itu, para tokoh ini mengambil polarisasi pengaru, agar saat para HTI ini mencari organisasi untuk berkumpul, kepada para tokoh inilah mereka diharap tersedot. Karena masa HTI dulunya juga masa dari para tokoh ini. Lha kalau masalah siapa dulu yang jadi menteri saat HTI mengajukan SK kepada KemenKumHam? Kalau tidak salah masih zamannya Gus Yusril Ihza Mahendra. 

Bagi warga NU, mengharap para pelarian HTI yang dibubarkan masuk ke NU atau Banom NU adalah harapan terlalu kecil. Mengapa disebut terlalu kecil? Karena mereka pasti metamorfosa menjadi organisasi yang se Ideologi atau masuk ke organisasi yang sudah ada dan sama ideologi bahkan tokohnya. 

Pasca rangkaian pembubaran HTI, kita perlu bantuan literasi dalam rangka menyadarkan masyarakat terkait:

– Siapa HTI

– Bagaimana Hujjah NKRI

– Opini pribadi terkait HTI, NKRI, Toleransi

– Patriotisme Santri

– Konsep Tawasuth, Tasamuh, Tawazun, dan Amar Ma’ruf nahi Munkar yang hari ini seakan dibenturkan dengan sesama Islam.

Dari Hal di atas, minimal semakin jelas fungsi dan peran apa yang mau diambil dan dilaksanakan oleh masing-masing individu dan kelompok. Jangan sampai kita lupa sejarah dan bersembunyi dibalik bendera demokrasi dan ukhuwah Islamiyah saat HTI dibubarkan, yang padahal HTI sendirilah yang mengatakan Pancasila Kufur, Pemerintah Thoghut, Presiden adalah Fir’aun dan pembela Thoghut adalah Kafir? Itu dulu slogan HTI dalam setiap aksi.

Jangan sampai kita beranggapan bahwa impian mendirikan Khilafah hanya sekedar ilusi yang tak perlu di waspadai, apakah anda jika divonis gejala Jantung, akan membiarkan sampai anda positif Jantung lalu berobat? Tentu tidak bukan? Memang benar apa yang menjadi inti kalimat” Pilihan Politik Seseorang, Akan menunjukkan kecondongan Aqidah yang mereka ikuti”.

Dengan dibubarkannya HTI oleh Pemerintah, saya yaqin mereka tidak akan hengkang dari Indonesia menuju planet “Namec”, oleh Karenanya para penjual pakaian Syar’i tidak perlu Khawatir. Para penjual asongan yang biasa jualan saat HTI demo, juga tidak usah khawatir kalau HTI dibubarkan lantas gak bisa teriak ” Cang Ci Men- Cang Ci Men”. Para tukang permak celana juga tidak usah galau karna akan berkurang pasien yang memotongkan celana. Semua pasti ada jalan rejekinya.

Justru saat HTI dibubarkan, saya nangkap antusias para Jomblo yang seakan tergugah dengan dalih merawat yang tercecer dan menghimpun yang berserakan. Gara-gara niqob dan burqo’ penutup yang bisa menghilangkan hidung tanpa operasi terbuka, para Jomblo ini semangat Jihad meluruskan aqidah dan ideologi para perempuan HTI, lagi-lagi dengan dalih Ukhuwah Islamiyah. 

Semoga niatan ini tidak jadi blunder saat mereka bertanya “apakah kau masih gadis atau sudah janda….ha ha ha ha.