Tulisan bu Nyai Istatik Salam, Simo Kedungwaru Tulungagung.

Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. Wanita merupakan makhluk Tuhan yang diciptakan sebagai pendamping laki-laki. Diibaratkan wanita merupakan pakaian bagi laki-laki demikian juga sebaliknya. Sebagaimana dalam Al Qur’an surat Al-Hujurot dan Ar-Ruum yang menjelaskan Allah SWT menciptakan kamu sekalian laki-laki perempuan, bersuku-suku agar saling mengenal dan menciptakan berpasang-pasangan. Berpasangan ini dalam pernikahan yang halal. Dipertegas dalam surat Ali-Imron bahwa “pernikahan untuk menjaga kerukunan (berbuat baik) antar keduanya”.

Pernikahan merupakan perjanjian suci mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Sangat disayangkan apabila pernikahan hanya diliputi oleh hawa nafsu dan tuntutan keinginan lainnya. Karena di dalam pernikahan terdapat dua insan manusia yang berbeda dari segi jasmani, hati nurani, keinginan, ambisi, dan konsep hidup. Perbedaan basic kehidupan berupa pendidikan, keturunan, ras dan adat istiadat harus menjadi prioritas untuk menanggalkan untuk keutuhan pernikahan. Diperlukan kesadaran diri dan pengertian kedua belah pihak dengan mengacu pada ajaran agama memenuhi hak dan kewajiban suami istri.

Al-Quran menjelaskan dalam surat Al Baqoroh Laki-laki merupakan imam bagi wanita. Tentunya wanita harus senantiasa menurut dan patuh pada suami. Dalam kutip suami yang baik. Dijelaskan dalam kitab Uquddulujain ciri-ciri wanita yang sholehah ada 3 yaitu apabila disuruh suami dia patuh, apabila dipandang suami dia menyenangkan dan apabila ditinggal pergi suami dia menjaga kehormatannya. Tentu semua wanita menginginkan menjadi wanita sholehah mendapat ridho suaminya.
Masih ingat petuah orang jawa kepada wanita akan menikah? Konsep tugas wanita terbelenggu oleh tugasnya seputar Sumur, Dapur dan Kasur. Benarkah konsep itu? Apakah menutup gerak wanita karier, guru dll?

Orang tua jaman dahulu, sering memberikan wejangan yang tidak ada kaitannya dengan konsep sebenarnya. Contoh jangan berdiri didepan pintu, nanti para jejaka yang akan melamar tidak jadi (mbalik/kembali), jangan menduduki bantal nanti sakit (udunen). Wejangan itu ternyata mempunyai makna tersirat yaitu pendidikan perilaku baik.

Jika seorang wanita berdiri didepan pintu, tentu tidak baik karena tamu tidak bisa masuk, tidak boleh menduduki bantal merupakan adab tidak sopan karena bantal tempatnya kepala. Petuah ini dinamakan petuah/pendidikan perilaku (bil hal).

Dalam wejangan lain, wanita diibaratkan sumur, dapur dan kasur. Menurut penulis, hal ini merupakan konsep ajaran dalam kitab Qurratul a’yun, dan mempunyai petuah yang tinggi tingkat peradabannya. Bukan substansi kata yang harus digali, namun kata implisit didalamnya mengandung makna besar untuk menciptakan keluarga bahagia.

Penulis menganalisis:
Pertama, Sumur, makna yang terkandung adalah: wanita bertanggungjawab pada kebutuhan sumur rumah tangganya. Air sangat penting dalam kehidupan dimana air dibaratkan sebagai kebutuhan kebersihan rumah dan anaknya tercipt keadaan nyaman, aman dan menarik. Segi rohani air merupakan penyejuk dikala dahaga. Wanita sebagai penyejuk hati, peredam emosi bagi keluarga. (Zakiyah darojat 2003)
Kedua,Dapur. Wanita bertanggung jawab pada kebutuhan dapur berupa makanan jasmani dan rohani bagi suami dan anaknya. Tentunya dengan makanan halal menjadi badan sehat dan makanan rohani berupa pendidikan menjadi cerdas dan berakhlakul karimah. Wanita harus mampu menjadi manajemen keuangan diibaratkan wanita sebagai tabungan suami (daringan/lumbung).
Ketiga Kasur. Wanita bertanggungjawab pada kebutuhan istirahat suami dan anaknya. Kebutuhan istirahat jasmani dan rohani mampu menyeimbangkan kesehatan badan dan fikiran. Pengaturan tempat istirahat yang nyaman, aman dan menarik mampu menentramkan hati semua anggota keluarga. (Prof Istibsyaroh 2015)

Dengan konsep diatas telah terjawab bahwa wejangan orang tua akan tanggung jawab wanita berupa sumur, dapur dan kasur adalah konsep kiat menciptakan rumah tangga menjadi tentram dan damai. Tentunya tidak menutup ruang gerak wanita karier, aktif berorganisasi, menjadi guru dll, untuk senantiasa mampu melaksanakan kewajibannya dan berkiprah dalam dunia modern dengan selalu menjaga kehormatan keluarga mengharap ridho suaminya.

Wanita tersebut merupakan multitalenta dalam keluarga dan masyarakat. Menciptakan terbentuknya “Baiti Jannati” Rumahku Istanaku, serta mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah warrohmah.

Wallahu a’lam.