Oleh : Hendri Owner Naja Sablon Kauman Tulungagung

Sifat padi secara asli adalah semakin berisi semakin merunduk. Berbeda dengan padi imitasi yang terbuat dari plastik, karena tidak ada proses menuju menunduk bagi padi imitasi. Maka sering kali kita dengarkan petuah “milikilah ilmu padi”, maksudnya jika kita semakin tinggi ilmu pengetahuannya, maka justru ketinggian ilmu ini menjadikan kita semakin rendah hati, beretika, bersahaja, bertatakrama, dan berjiwa sosial tinggi dan semakin pandai menghargai orang lain. Bagi padi yang asli, meskipun dia mempunyai isi namun tetap saja dia merasa bahwa dia adalah padi asli, bukan padi plastik. maka dari itu padi asli, akan menempatkan diri selalu merunduk dan rendah hati.

Sebagai penganut dan pendamba syafaat Nabi Muhammad SAW, kita harus faham bahwa tugas nabi Muhammad SAW adalah “li utammima makarimal akhlaq” (menyempurnakan akhlaq yang mulia), di sini perlu kita cermati, kenapa Allah memberikan tugas nabi Muhammad untuk menyempurnakan akhlaq? Kok bukan menyempurnakan ilmu? Karena Allah mengetahui bahwa ilmu yang suci, akan dapat diterima oleh hati yang suci pula. Dapat dirasakan, diresapi, dan di lakukan oleh orang yang sering membersihkan hati dari sifat sombong, gumedhe dan takabbur.

Seharusnya sifat padi itu menjadi perumpamaan seseorang yang memiliki pengetahuan yang tinggi dan berakhlaq mulia, dalam kehidupan sehari harinya.

Seharusnya sifat padi dapat dijadikan sebagai alat untuk mengukur karakter diri sendiri, bermuhasabah, dan melakukan introspeksi diri.

Seharusnya ibarat diatas dapat digunakan oleh seorang muslim, untuk mencontoh kanjeng nabi yang selalu mengedepankan akhlaq dan rendah hati daripada ilmu pengetahuan beliau.

Disinilah titik dimana kerancuan terjadi, saat ini sulit membedakan mana padi yang asli dan yang palsu, jahil yang murokkab atau yang basith? Pinter sing bener, opo pinter sing gak bener?, karena faktanya, banyak orang yang secara sekolah dan pendidikannya makin tinggi, tapi akhlaqnya kosong, sikap menghargai pendapat orang lain juga hilang, kemampuan komunikasi verbal juga belepotan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingginya jenjang pendidikan, tak berbanding lurus dengan perubahan akhlaq para pelakunya.

Wallahu A’lam bisshowab.