Arab Spring yang sampai saat ini membelenggu negara-negara di Arab, bukan menunjukkan kemajuan pemerintahan dari hasilnya,tetapi justru kehancuran dan hilangnya wewenang masyarakat dalam kedaulatan. Misalnya kita bahas kejadian di Libya yang dulu di pimpin Muamar Khadafi, masyarakat disubsidi Listrik, air, dan jatah bahan makanan pokok, tapi pasca runtuhnya Muamar Khadafi, masyarakat Libya saling serang antar kelompok tanpa penyebab yang jelas. Yang pada akhirnya situasi tidak aman, fasilitas umum hancur dan kemiskinan semakin menjamur.

Di Timteng, ketika perang saudara bergolak, para ulama sudah berusaha keras mencegahnya, tapi gagal. Penyebabnya antara lain mereka tidak menghimpun diri dalam wadah yang solid dan punya basis kuat di masyarakat. Di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, kita beruntung punya NU yang punya akar kuat di masyarakat, dan setia mengawal NKRI sejak kelahirannya hingga saat ini. Meski secara personal anggota NU banyak yang berkecimpung di politik praktis, dan ini merupakan sebuah keniscayaan, namun secara organisatoris NU tetap bergerak pada rel kebangsaan dan kebhinekaan. Maka, jika dicermati, NU memilih menahan diri ikut campur dalam politik eceran yang remeh temeh. Andaikata dalam aksi 411 & 212 NU latah ikut-ikutan aksi secara organisatoris, maka kelompok “kanan” semakin leluasa memanfaatkan dukungan ini untuk aksinya. Lha wong tanpa dukungan saja, nama NU sering dicatut untuk aksi intoleran dan provokasi ini itu, apalagi kalau jelas-jelas mendukung?Aksi 411, jika diamati, sebenarnya ada pihak-pihak yang menunggu jatuhnya korban jiwa. Ini jika menelusuri pola chaos yang ada di lapangan. Lihat saja pancingan yang dijalankan kubu jaringan Al-Qaidah dan simpatisan ISIS di Medsos. Mereka menyebarkan hoax seputar aksi 411, juga menambahi kata-kata provokatif”Polisi Berusaha Membunuhi Demonstran!”,”Aparat Menembaki Para Mujahid”, “Aparat Memprovokasi Umat Islam”, “Polisi Lepaskan Tembakan, Mujahidin Terluka”, dan beberapa kata-kata lain. Kalau panjenengan paham peta medsos, niscaya kita bakal menemukan benang merah gerakan sistematis yang dijalankan ISIS dan simpatisan Al-Qaidah di sini. Kedua kelompok ini memang saling sembelih di Suriah, tapi di Indonesia mereka mulai merapatkan diri dengan kesatuan isu. Ironisnya, beberapa simpatisan FPI memakan dan menyebarkan secara massif pola semacam ini.Dalam aksi 411, jika diamati lebih dalam, ada beberapa pihak yang menunggu aksi ini rusuh lalu ada martir. Jika ada yang terbunuh akibat ulah aparat, maka isu yang digoreng semakin yahud, persis awal mula revolusi di Tunisia, di mana seorang penjual sayur dikukuhkan menjadi martir dan lambang revolusi. Jika ada martir dan glorifikasi kisah, maka setelah itu, akan ada aksi internasionalisasi konflik, seperti di Suriah, di mana eksponen garis keras memanfaatkan isu dan hoax untuk mengundang datangnya jihadis internasional. Dampaknya? Rakyat Suriah malah terusir dari tanah airnya (khusus lagi di Daerah Alepo).Sampai saat ini, manakala saya menerima ajakan revolusi atau ajakan yang akhirnya adalah Khilafah, melalui WA dengan gambar-gambar bombastis dan susunan kalimat provokatif, saya hanya membalas, “Revolusi Gombal Mu Kiyo Kang?!”. Nggak peduli yang ngisim SMS tokoh terkemuka atau sahabat saya. Ayolah belajar dari Libia, Irak, Afganistan, Yaman, dan Suriah. Berapa juta korban jiwa dalam Gegap Gempita Revolusi yang ditawarkan oleh segelintir orang dengan kepentingan politik pribadi dan kelompoknya, berapa juta saudara-saudarakita yang terlunta-lunta akibat janji Revolusi Rakyat di Suriah? Setelah Muammar Qadhafi terbunuh, apakah Libia damai? Tidak. Disana kaum Islamis yang egois menyusun pemerintahan sendiri di Sirte, sedangkan kaum sekuler yang keras kepala punya pemerintahan sendiri di Tripoli. Ini belum menghitung dampak kerugian psikologis rakyat Libia akibat segelintir orang menuruti bisikan BARAT untuk melakukan revolusi. Dan, tahukan anda, aktor yang memprovokasi perang melawan Qadhafi saat ini sudah berpindah ke Suriah. Libia remuk, Suriah lebur. Bagaimana dengan Yaman? Sama terseok-seoknya. Perang hanya menyisakan luka, trauma dan derita. Kita tentu tidak ingin hal ini menimpa kita. Indonesia memang tidak sesempurna dan seideal imajinasi sebagian Bhugoter(para pemberontak) yang melakukan teror atas nama agama, tapi di sini, lebih realistis dan nyata untuk menjalankan ibadah dan mewujudkan maslahat.Tunisia, sumbu awal revolusi di kawasan Arab, nyaris perang saudara. Untung di sana ada lembaga-lembaga yang menjaga kondusifitas negeri sehingga chaos hanya berlangsung sejenak dan tidak menjalar lebih besar. Api kerusuhan dipadamkan melalui dialog nasional oleh gabungan aksi Serikat Buruh Umum Tunisia(Union Générale Tunisienne du Travail/UGTT), Konfederasi Industri Tunisia, Serikat Perdagangan dan Perdagangan Kerajinan (Union Tunisienne de l’Industrie, du Commerce et de l’Artisanat/UTICA), Liga Hak Asasi Tunisia (La Ligue Tunisienne pour la Défense des Droits de l’Homme/LTDH), dan Orde Pengacara Tunisia(Ordre National des Avocats de Tunisie). Kwartet organisasi ini menjalankan inisiasi perdamaian yang juga didukung oleh para ulama yang memilih meredam gejolak di masyarakat. Mereka menghindari kemudharatan dari pada sekadar mendahulukan kemaslahatan.Mesir nyaris perang saudara, untunglah ada dewan ulama di Al-Azhar yang menjadi penyeimbang antara kubu sekuler dan Islamis. Efek sampingnya, ulama Al-Azhar dicaci sebagai pendukung rezim Assisi. Padahal bukan soal dukung mendukung kekuasaan. Yang dikehendaki oleh ulama al-Azhar adalah kondusifitas negeri yang berdiri di atas semua golongan. 
Jika anda melihat fitnah yang dilancarkan oleh beberapa orang terhadap ulama Al-Azhar, maka mengapa masih heran melihat kiai-kiai NU difitnah dan dicacimaki karena keinginan menempatkan Indonesia sebagai rumah bersama?

NU harus menjadi pendulum yang menjaga keseimbangan gerak bandul politik yang semakin liar. Sebagaimana dhawuh KH. Syaroni Ahmadi, peran NU dalam bingkai kebhinekaan persis silinder/stum. Silinder alias stum memang nggak keren, nggak lincah, dan tampilannya juga nggak mencolok. 

Jelas, kekuatannya bukan terletak pada tampilan, melainkan pada gerakannya yang lambat tapi mantab dan jelas jalurnya, serta berfungsi memuluskan kemaslahatan “jalan raya” umum, bukan jalur kelompok saja.Jadi, tetaplah NU menjadi pencegah kebakaran di satu sisi, dan berfungsi sebagai silinder di sisi lain. Walaupun tidak tampak dipermukaan, tapi penentu gerak dan dinamisator arah kekuatan. NU, Pelan tapi Pasti!.
 Selamat harlah NU (versi masehi), ke-91!

Wallahu A’lam Bis Shawab

Blitar, Kamis,9 Februari 2017.