Musyawarah Nasional tahun 1983 di Situbondo menjadi momentum politik kenegaraan NU diuji. Di tengah kelompok menggugat relevansi Pancasila bagi dasar negara. Kelompok Islamis mulai menawarkan dengan dasar Islam dan Piagam Jakarta mulai ramai dibicarakan yang juga ditandai dengan munculnya Islam radikal sisa-sisa DI/TII. Radaikalisme itu muncul kembali karena terinspirasi oleh revolusi Islam Iran yang menggetarkan dunia. 

Penerimaan NU terhadap Pancasila dan NKRI tidak hanya bersifat politis tapi lahir dan batin ditengah olokan dan cemoohan kelompok lain, akhirnya NU memaparkan penerimaannya terhadap Pancasila dan NKRI dengan penjelasan bahwa NU memposisikan Pancasila sebagaimana proporsinya, bukan sebagai agama Pancasila, tapi sebagai dasar negara yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan dijalankan bersama secara beriringan tanpa harus dihadapkan pada pilihan salah satu atau tidak memilih keduannya.

Maka sejak saat itu, NKRI berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar 1945 ramai menjadi tema pidato Kyai-Kyai NU setiap hari dimana pun dan dalam agenda resmi atau tidak resmi. Bahkan saatPanglima TNI Benny Moerdani datang ke Pesantren Pancasila di Klaten Jawa Tengah yang dipimpin oleh KH. Muslim Imampuro meneriakkan yel, NKRI Harga Mati! NKRI Harga Mati! NKRI Harga Mati! Pancasila Jaya! Sejak saat itulah NKRI Harga Mati menjadi Jargon dan yel-yel oleh berbagai pihak termasuk TNI.

Slogan atau yel-yel NKRI Harga Mati! Bukanlah lelucon yang memiliki arti Harga Pas!, tapi lebih kepada menggelorakan semangat Nasionalisme kita dan mengenang jasa para Pendiri Bangsa yang telah mencurahkan seluruh jiwa raganya untuk kemerdekaan Indonesia. Tanpa adanya Indonesia NU belum tentu berdiri dan tanpa NU Indonesia juga tidak akan berdiri. Oleh karena keduanya satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tugas kita lah yang tinggal menggelorakan semangat cinta tanah air dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia sebagai implementasi dari Rahmatan Lil ‘Alamin.