Di dalam kitab Irsyadul Ibad diterangkan. Ada sebuah kejadian yang tak lazim dialami Kijang setelah bertemu nabi Adam A.S dielus-elus punggungnya dan didoakan oleh nabi Adam. Tiba-tiba si Kijang memancarkan aroma wangi semerbak kemana-mana dan membuat binatang lain ingin memiliki aroma seperti si Kijang tersebut.

Para binatang bertanya apa yang dilakukan Kijang sehingga memiliki aroma wangi seperti itu?, Kijang pun bercerita bahwa dia baru saja datang kepada nabi Adam A.S yang baru di turunkan di bumi, kedatangan si Kijang adalah dalam rangka memberikan penghormatan kepada sang nabi.Oleh nabi Adam si Kijang didoakan dan dielus punggungnya. Setelah kejadian itu, tiba-tiba si Kijang menjadi wangi dan membuat iri para binatang lain.

Singkat kata, para binatang lain pun bermaksud menemui nabi Adam dan meminta di doakan agar bisa memiliki bau harum seperti si Kijang. Tapi kejadian yang diharapkan para binatang tidak berubah, mereka sudah datang kepada nabi Adam, sudah di elus-elus punggungnya, juga sudah di doakan oleh nabi Adam, tapi aroma wangi tak kunjung muncul pada para binatang.

Akhirnya para binatang kembali dan mencari si Kijang serta bertanya pada si Kijang kenapa mereka tidak bisa wangi seperti Kijang. Adakah mantra lain yang terlewat sehingga para binatang tak bisa menjadi wangi seperti si Kijang. Akhirnya si Kijang menjelaskan dengan kalimat bijak” bedanya aku dan kalian semua adalah pada niat, aku mendatangi nabi Adam dengan niat memberikan penghormatan kepada nabi Adam, A.S sedangkan kalian datang kesana dengan niat ingin wangi”. Beda niat, beda pula hasilnya. Tutur sang Kijang menjelaskan pada semua binatang.

Hikmah yang dapat kita ambil dari cerita di atas adalah, menata niat menjadi benar dan ikhlas adalah hal utama dan pertama dalam menjalani semua aktifitas. Usaha memang sebuah keharusan, tapi menata niat adalah kunci mewujudkan keberkahan dalam usaha yang kita lakukan.

Niat adalah pekerjaan hati, hanya kita dan sang pencipta yang mengetahuinya. Para ulama’ melafalkan niat secara jahr sebelum sholat adalah dalam rangka meluruskan niat yang merupakan pekerjaan hati tersebut. Karena kadang yang ada di hati masih perlu dituntun dengan ucapan, dan akhirnya terwujud satunya kata dan perbuatan (integrity) yang dikomando oleh hati, sebagaimana kita tahu” Ala inna fil jasadil Mudzghoh, idza Sholuhat, Sholuhal Kulluh, wa Idza Fasadat fasadal kulluh, ala fahiyal qolbu” “ingatlah sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal darah, jika segumpal darah itu baik, maka seluruh gerak jasad ragawi akan baik pula, dan jika segumpal darah itu jahat, maka seluruh gerak jasad ragawi akan jahat pula, dan ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati”. Mari menata niat demi keberkahan hidup dan kemanfaatan hidup bagi manusia lain dan seluruh alam.(Din)