Tradisi minum Teh yang paling terkenal mungkin ya di Jepang. Minuman Teh bagi para penyembah Matahari itu, mereka minum dengan cara yang penuh estetik dan sakral.

Tidak ketinggalan juga, bagi para Shalihin minum teh juga dapat disebut “sakral”. Betapa tidak, Nge Teh oleh para Shalihin di sakralkan dengan menilik niat dan do’a yang dikhususkan saat meminum tehnya. Sebagaimana yang dilakukan para ahlul khudur(ahli yang memiliki ketenangan hati) wal khusyu’, Majlis Nge Teh bagi mereka, akan dapat menumbuhkan kekhusyukan-kekhususan di dalam majlis ilmu mereka.

Alhabib Umar bin Hamid as Saqaf dalam catatan Rihlah(piknik) beliau menceritakan bahwa beliau di kota Sewun Hadromaut , mengikuti majlisnya al Habib Abdullah bin Ali bin Muhammad al Habasyi dan disetiap majlis selalu disuguhkan teh kepada para jama’ah yang hadir. Dan dalam suasana kekhusyukan majlis itu, aroma dan rasa nikmat dari teh hangat semakin menambahkan kekhusyukan dan kekhudhuran. 

Alhabib Abdullah kemudian menyingung tentang faidah – faidah suguhan teh didalam majlis ilmu dengan menyitir Kalam ayahanda beliau , yakni Al Imam Al Habib Ali bin Muhammad al Habasyi :“ INDA AHLIL HUDHUR FIHIL KHUDHUR …. Suguhan teh , bagi para Ahli khudhur ( orang-orang yang mempunyai ketenangan hati ) dapat menambah kekhudhuran hatinya … “..Al Habib Abdullah pun berkata :“ diantara ( faidah dan kekhudhuran ) tersebut adalah jika seseorang meminumnya dengan niat meminum sebagai mana para Ahl Khudhur itu meminumnya … “.Al Habib Umar bin Hamid menjawab : “ Tentu demikian . Dan al Habib Ali bin Muhammad al Habsyi sendiri pernah ( sengaja ) membuat ( perjamuan , untuk dapat meminum teh ) bersama al Habib Idrus bin Umar al Habasyi …. “.

Maka wajar juga saat saya menyaksikan para mahasiswa yang lama belajar di Hadromaut , setidaknya ada perubahan dalam diri mereka tentang Syahi ( teh ) ini .Mungkin karena hampir setiap saat disana mereka selalu “ bertemu” dengan minuman teh , mereka jadi seperti ketagihan dan tidak dapat berpisah dengannya .Seharian sudah minum apapun , jika belum minum teh , perasaan mereka jadi tidak enak . Hati terasa kurang nyaman . Beberapa diantara mereka mengaku jika tidak minum teh setiap hari , kepala mereka bisa terasa pusing .Sisi positifnya adalah mereka mengerti bahwa dengan meminumnya mereka seperti menemukan “ kekhudhuran “ hati , sebagaimana kekhudhuran-kekhudhuran yang mereka dapatkan saat di Hadromut dulu diwaktu menjadi Santri.

Al Imam al Arif billah Ahmad bin Hasan al Athas pernah bermimpi bahwa Rasulullah SAW terlihat memimpin sebuah Majlis dan kemudian terlihat disuguhkan minuman teh diantara mereka yang hadir .Kemudian beliau ditanya oleh seorang Muhibbin :“ apakah minum teh itu ada ( bacaan ) Surah al Fatihahnya sebagaimana minum kopi ? “Beliau menjawab : “ Tentu ada . Yakni meratibkan surah Al Fatihah untuk AHLUL KISA melihat adanya Munasabah ( kecocokan ) diantara keduanya .

Minuman teh dihidangkan dengan rasa manis ( karena dibubuhi gula ) dan Para Ahlul Kisa itu adalah mahluk-mahluk termanis yang ada di jagad raya . “..Ahlul Kisa’ adalah Rasulullah SAW, Sayyidina Ali , Sayyidah Fathimah , Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain yang dimaksud secara khusus dalam ayat :INNAMA YURIDULLOHU LIYUDH HIBA ANKUMUR RIJZA AHLAL BAITI WAYUTHOHHIROKUMTATHIRO…..Sedangkan minum Kopi , sudah dikenal Rathib surah Al Ftihahnya , Dan banyak fersi bacaan suratul Fatihahnya . Diantaranya yaitu disaat akan meminum kopi dianjurkan membaca al fatihah untuk Syaikh Ali As Syadziliy dan Syekh Abil Hasan as Syadhiliy dan dinyatakan oleh banyak ulama :“ Barang siapa yang membaca al fathihah untuk Syaikh as Syadziliy sebelum meminum kopinya , maka Allah akan mengampuni dosanya “Dan diriwayat yang lain”Allah akan mengampuni dosa-dosanya asalkan bau kopi masih melekat di dalam mulutnya.

Hanya saja yang saya fahami bahwa yang dikehendaki dari kata Qohwa ( kopi ) yang tersebut diatas adalah KOPI Sufiyyah. orang–orang Yaman menyebutnya sebagai QOHWATUL BUNNIYYAH. Sebuah racikan “ kopi “ yang dibuat dari biji tanaman BUNN, yang warnanya perak kekuning-kuningan yang diracik untuk membantu para Sufiyyah berqiyamullail.Tanaman Bunniyyah ini adalah sebuah tanaman yang ditemukan oleh Syaikh Ali As Syadhiliy dari Yaman ( seorang Ulama’ bermadzhab sufi Syadziliyyah, tetapi bukan Syaikh Abil Hasan As Syadziliy Shohibut Tariqah) dan oleh perkembangan waktu sangat cocok dan dapat berkembang baik di dataran Arabia terutama Yaman.


Al Habib Ahmad bin Hasan setiap malam dimanapun beliau berada tidak akan beranjak tidur jika belum disiapkan di samping beliau seperangkat alat dan bahan–bahan pembuat Kopi Sufiyyah ini.

Karena beliau tidak ingin nanti saat tengah malam beliau terlewatkan meminum Qohwatul Bunniyyah dan serentetan-serentetan Ratib Fatihahnya.

Jadi kelihatannya, Qahwa ( kopi ) ini bukanlah jenis Kopi yang ( selama ini ) kita kenal , seperti jenis Arabica , Torabica , Luwak dan sejenisnya . Kopi hitam yang sangat kental dengan zat Caffeinnya yang ( sebenarnya ) sama juga mempunyai pengaruh untuk menyegarkan badan dan membuat mata terjaga. Lha pertanyaannya tentu sederhana , apakah seseorang yang bangun tidur kemudian membuat kopi dengan jenis kopi yang kita kenal disini ini ( bukan Kopi Bunniyyah seperti yang di Yaman sana ) , kemudian dia merathibkan Surah al Fathihahnya kepada Syaikh Ali As Syadziliy dan Syekh Abil Hasan as Syadhiliy apakah tetap mendapatkan ampunan dosanya?..Jawabnnya , Wallohu a’lam .

Kita mengharap semoga tetap mendapaatkannya. Sebab di negeri ini sangat sulit mendapatkan racikan Qohwah Suffiyyah, karena harus mengimpor dari Yaman sana dan harganya jadi tidak murah lagi .Kalau kopi Torabica, kita yang di Indonesia tinggal ambil di warung sebelah rumah saja. Toh niat dan Rathib Fathihahnya sama . Serta khasiyatnya tidak jauh berbeda . Semoga saja.