Dalam ngaji pergerakan yang disampaikan oleh Al Mukarom Prof. Dr KH. Ali Maschan Musa pada Hari Selasa, 09 Mei 2017 bertempat di aula PCNU Tulungagung, beliau berpesan bahwa keberagamaan dan Nasionalisme Indonesia hari ini sedang diuji. Ujian tersebut datang bukan tanpa sebab. Jika dahulu dalam berorganisasi misalnya, kita hanya kenal Nahdlatul Ulama’ dan Muhammadiyah, sekarang banyak sekali organisasi baik yang berasal dari kelompok lokal maupun transnasional. Beliau menyebutkan contoh misalnya ada Wahabi, Salafy, ada Syi’ah ada HTI yang kesemuanya masuk ke Indonesia ketika kran demokrasi dibuka melalui pintu reformasi.

Hadir dalam acara yang merupakan puncak Harlah PMII ke 57 tersebut berbagai unsur jajaran Pengurus Cabang NU, Banom NU, IKA PMII dan kader PMII Aktif dari jajaran PC PMII, Komisariat dan Rayon PMII yang ada di Tulungagung, memeriahkan acara puncak Harlah.

Kyai Ali Maschan menjelaskan bahwa pemahaman terhadap Islam haruslah utuh yakni Rahmatan lil ‘alamiin sebagaimana menurut pendapat beliau Islam berasal dari: Aslama, Yuslimu, Islaaman yang artinya menyelamatkan karna fi’il Muta’adi yang harus memberikan dampak manfaat pada lainnya. Jadi berislam yang utuh dalam pemaknaan istilah adalah memberikan manfaat keselamatan pada sesama manusia, lingkungan, dan manfaat pada alam semesta. Jadi jika ada orang yang menerapkan Islam secara utuh, andaikan dia tinggal di wilayah pegunungan, maka ia tidak akan merusak tanaman yang berada di pegunungan sebagai implementasi rahmatan lil aalamiin. Sedemikian juga jika ada orang yang ngaku Islam tapi membuang sampah sembarangan sehingga mengakibatkan banjir, maka dia belum bisa mengimplementasikan Islam dalam konteks rahmatan lil aalamiin, tapi masih sebatas rahmatan lil muslimin dan atau rahmatan linnaas.

Dampak kekisruhan dunia saat ini karena kecintaan berlebih terhadap dunia, padahal jika kita ingat sebuah wejangan luhur tentang dunia, kita akan terperangah betapa dunia seisinya adalah hal yang telah dilaknat, kecuali tiga hal yaitu” Orang Alim, Ahli ibadah, dan para pencari ilmu, jadi, Addunya mal uunatun, wa mal uunun ma fiiha illa tsalasatun: al aalim, al aabidu, wa mutaalimun. 

Beliau Kyai Ali Maschan melanjutkan dengan membuka monolog “Bolehkah boleh mendoakan non Muslim? Boleh, dengan syarat doanya untuk mendapatkan hidayah”. Beliau memungkas monolog dengan memberikan contoh peristiwa yang terjadi pada Umar bin Khattab yang awalnya sangat membenci Rosulullah Muhammad SAW, tapi karena di doakan oleh Rosulullah, Sayyidina Umar mendapat hidayah dan justru menjadi pembela Rosulullah.

Bahkan Jika ditanya dahulu mana antara fiqih dan akhlaq? Nabi mendahulukan Akhlaq. Saat Nabi Muhammad di lempari batu di Thoif, beliau mendo’akan para pelempar tersebut dengan do’a” Allahummahdi Qoumi Fainnahum Laa Ya’lamuun” ya Allah, tunjukkanlah kaumku karena mereka belum mengerti. Padahal saat beliau dilempari batu tersebut, Malaikat Jibril menawarkan untuk menghancurkan para pelempar tersebut dengan menimpakan gunung kepada mereka. Tapi Rosulullah menolak tawaran Jibril dan mendo’akan mereka agar mendapat hidayah. Sebegitu luhur akhlaq Rosulullah yang harusnya kita teladani.

Dalam term Jawa, ada kalimat “Suro diro joyo ningrat lebur dening pangastuti”, mengedepankan akhlaq justru dapat menghancurkan keangkuhan dan menjadikan persaudaraan sebagai pengikat persatuan.

Kita harus faham bahwa yang dirahmati bukan hanya lil muslimin, bukan hanya linnaas, tapi lil ‘alamin. Jika ada gunung longsor maka sebabnya tidak ada rahmah bagi gunung, pasti warga sekitar gunung tidak melakukan reboisasi, pasti bebatuan ditambang dengan serampangan, bahkan pohon-pohon pun ditebang dengan berjama’ah. Ini masalah yang sebenarnya perlu dikaji dan disosialisasikan kepada masyarakat agar ada rahmah kepada gunung khususnya dan alam semesta pada umumnya.

Dalam penamaan hari pasaran Jawa ada Pahing yang artinya tanah, sebagai Sukmo jiwo rogo jagad. Ada nama Pon, yang artinya air. Sedangkan Wage artinya api, dan Kliwon artinya matahari atau suryo. Ini memberikan isyarat bahwa tatanan Jawa sebenarnya memberikan nilai rahmat pada semesta alam. Bahkan dalam lagu dolanan kita diingatkan tentang etika dan rahmat terhadap alam semesta. Lagu itu berbunyi..” e dayohe teko( saat ada tamu yang datang) beberno kloso( sambut dengan memberikan tempat pinarak), e klosoe bedah (kalau pinarakan tidak ada)tambalen jadah( ya usahakan seadanya) yen jadahe mambu, pakakno asu, ( tapi, usaha itu harus sesuai dengan penghormatan umumnya) e asune mati, buwangen neng kali, e kaline banjir( justru nilai pesan berada pada kalimat buwangen neng kali (buanglah bangkai anjing itu kesungai), yang ternyata mengakibatkan kaline banjir( sungai tersebut meluber dan banjir karena perilaku kita membuang sampah di sungai).

Menyambung ceramah beliau, Kyai Ali Mascahan Musa menyentil masalah sejarah, beliau mengatakan, “Kita jangan lupa pada sejarah, jangan sok anti dengan asing, di Tulungagung itu ada terowongan yang berfungsi menjadi penyalur air sungai menuju ke laut bernama “Niyama” Ni artinya kali/ sungai,  Yama artinya Selatan. Sebelum Niyama dibuat oleh Jepang, peribahasa yang sering di dengar bahwa “Tulungagung dadi kedung( Tulungagung tempat banjir dan genangan air yang dalam), Blitar dadi latar( Blitar secara teretori luas tapi kurang produktif dari sisi pengairan) sedangkan Kediri dadi kali. Tapi karena ada Niyama, kita bisa lihat hasilnya sekarang.

Pada Muktamar ke 9 di Banjarmasin, 1936 pada awalnya posisi Indonesia diputuskan sebagai Daarul Islam dengan dasar Al baqoroh 208. Udkhulu fissilmi kaffah( masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara keseluruhan/utuh), tapi sebelum keputusan final tersebut, mbah Wahab bertanya, benarkah ayat tersebut khitobnya( yang di kenai hukum)  adalah umum? Lantas apa asbaabun Nuzul ayat tersebut?

Ternyata Khitob pada Al Baqoroh 208 “Udkhulu Fis Silmi Kaffah”, menurut lafadz dari redaksi tersebut adalah kamu yang merupakan orang bukan khitob jama’ah untuk membuat negara Islam, lha asbaabun Nuzulnya ayat ini adalah kejadian pada Abdullah bin Salam seorang Yahudi yang masuk Islam. Abdullah Bin Salam berIslam tapi tidak mau Jum’atan, dan melakukan Syari’at Islam. Jadi ayat tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan konsep mendirikan negara yang diusung oleh HTI atau partai lain yang seaqidah dengan HTI?

Maka para ulama’ berpendapat bahwa negara berdasar bangsa” nation of state yakni Negara Bangsa yang kebangsaannya harus berdasar pada Base Plurality( kebhinekaan). Jadi kaitanya konsep bernegara, para Kyai sudah selesai dan tuntas, makanya baca buku” Nasionalisme Kyai yang diterbitkan LKiS, itu Disertasi saya saat di Universitas Airlangga. Pungkas beliau Kyai Ali Maschan Musa yang disambut tepuk tangan riuh para hadirin.

Setelah Mu’tamar Situbondo Gus Dur ditanya Pak Harto kaitanya Taraweh.(lanjut Kyai Ali Maschan)” Gus Dur, saya mau taraweh di istana, imamnya ganti dari NU, Gus Dur menjawab ” NU lama atau NU baru Pak Harto? Pak Harto langsung menyahut,” apa bedanya NU lama dan NU baru Gus?”. Dengan santai Gus Dur menjawab” kalau NU lama 23 kalau NU baru 11 raka’at. Spontan ger-geran hadirin tak tertahankan dan memecah suasana hening. Intinya, Gus Dur itu tahu maksud pak Harto bertanya dan meminta NU menjadi imam taraweh hanya siasat untu menertawakan NU saja. Tapi Soeharto dibuat mati kutu dengan jawaban Gus Dur yang diluar dugaan pak Harto.

Disela-sela Ngajibtersebut Kyai Ali Maschan Musa memberikan Ijazah berupa bacaan surat al-Fatihah 1 kali. Bismillahirrohmaanirrohim 50 kali. dan Sholawat 1kali. Yang beliau dapat ijazah tersebut dari Mbah Jazim Pasuruan cicit dari Sunan Bonang dengan Fadhilah, dapat menenangkan masa atau dapat memberikan solusi disaat diperlukan.

Menutup Ngaji pergerkan tadi malam, Kyai Ali Maschan mengutip pidato pertama Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari yang tertulis sebelum Qonun asasi sebagai berikut: “Akan datang zaman nanti Islam akan di pimpin orang-orang pembohong. Kamu jangan menangis ketika Islam dipimpim ahlinya, maka menangislah jika Islam dipimpin Kadzaabin. Maka saat demikian, lihatlah darimana dia belajar agamanya”. 

Kejadian di atas hari ini benar-benar terjadi, banyak yang ngaku bergelar Kyai, tapi baca kitab kuning karya ulama’ tidak bunyi alias tidak bisa, keilmuan mereka cethek tapi kesana kemari jualan ayat dengan penafsiran sesuka hati dan sesuka pemesan. Dan disitulah ummat menjadi korban. Bahkan situasi akan semakin runyam.

Kyai Ali Maschan berpesan agar jangan sampai berani dengan orang tua, perdalam ilmu pengetahuan, hormat dan ta’dzimlah pada kyai, jangan jauh dari Masjid, Madrasah/ Ma’had dan Masyarakat. Karena sejatinya semua hal tersebut satu sistem yang tidak dapat dipisahkan agar kita mendapatkan keberkahan hidup.