Networking atau berjejaring adalah membangun hubungan (relation) dengan berbagai unsur dan berbagai pihak. Dalam istilah marketing, jejaring ini sering dikaitkan dengan public relation (humas). Bukan tanpa sebab keduanya dikaitkan, tapi memang banyak faktor yang menjadikan keduanya berkaitan satu dan lainya.

Misalnya dalam mengembangkan jaringan pemasaran produk, humas (public relation) sering menerjunkan sales untuk mempublikasikan dan memasarkan produknya. Sehingga jaringan baru terbentuk sebagai unsur dari manajemen marketing.

Kembali kepada masalah Networking (jejaring), perlu kemampuan membaca peluang dan adaptasi untuk membuka networking baru. Tanpa kemampuan keduanya, susah kita memulai dan memahami kecenderungan bahkan kecondongan kelompok atau orang yang akan kita ajak berjejaring.

Tujuan kemampuan membaca peluang dan adaptasi tersebut adalah menemu kenali dan memadukan kepentingan yang sama antara kedua belah pihak. Sehingga setelah ada frekwensi yang sama, maka networking akan tersambung dan berjalan sesuai kesepakatan, tanpa ada pihak yang dirugikan.

Misalnya di dunia pendidikan, jarang ditemukan ada lembaga pendidikan yang berjejaring dengan para artis, padahal kalau kita lihat life style para artis tersebut, kita bisa ambil sampel artis glamaour Syahrini yang jam tangannya berharga milyaran rupiah. Andaikata ada yang mampu berjejaring dengan Syahrini dengan komunikasi yang efektif, bukan hal yang tidak mungkin 1 milyar saja dana life style tersebut dihibahkan untuk membangun lokal pendidikan, sudah dapat berapa lokal kelas itu?

Belum lagi berjejaring dengan para aghniya’ yang diberikan pemahaman bahwa shodaqoh jariyah diantaranya adalah untuk lembaga pendidikan. Apakah ini mungkin? Sangat mungkin sekali, buktinya, para aghniya’ kita juga enteng kok jika nyumbang untuk acara menghadhirkan mubaligh kondang dengan biaya puluhan juta. Kenapa untuk madrasah mereka gak melakukan hal sama dengan sumbangan pengajian? Karena kita lupa menyampaikan kepada aghniya’ tersebut bahwa sumbangan juga dapat bermanfaat lebih jika diberikan kepada lembaga pendidikan.

Terbayang juga ketika sudah ada yang memulai mendata para aghniya’ disebuah lokasi, lantas diberikan pemahaman tentang bersedekah untuk lembaga pendidikan, serta para aghniya’ ini dikomando dalam satu barisan kepedulian kepada lembaga pendidikan, maka akan lahir lembaga pendidikan yang unggul dan berkualitas.

Pemikiran sederhana, kenapa para artis dan para aghniya’ tidak melirik lembaga pendidikan sebaga ladang pahala bersedekah? Jawabnya, karena kita belum pernah berjejaring dengan mereka, dan belum mensosialisaikan pengetahuan tersebut kepada mereka. Dan kita menempatkan mereka sebagai bagian networking yang terlupa.