Semua yang ada harus dilabeli Islam dan diIslam- Islamkan, inilah yang diusung para pengasong khilafah. Saya sebut pengasong khilafah karena mereka hanya teriak khilafah tanpa fakta dan bukti nyata. Kadang pun pernyataan mereka tiap ganti tahun, beda pula pendapatnya dan kontradiktif. Misalnya mereka pernah mengatakan demokrasi adalah thoguth, lha sekarang mereka menyebut bahwa pembubaran HTI tidak demokratis. Kayaknya urat malu mereka sudah putus. Sehingga gak punya rasa malu menengok ucapanya sebelumnya dan sekarang.

Karena target pelebelan Islam, maka seakan ada target mendata bagian dan unsur sosial masyarakat yang akan dilabeli. Misalnya hari ini sejarah Majapahit diklaim sebagai kerajaan yang didirikan dzuriyah rosulullah, kemarin astronot masuk Islam, makanan dengan brand Al Maidah, sampai tempat wisata syari’ah dan tidak menutup kemungkinan budaya juga akan jadi tema kenekatan ngilapah mereka.

Dampak labelisasi ini adalah adanya kontradiksi antara yang tampil dan yang dilakukan atau dalam bahasa jawa disebut “bedho pacakan lan tindakan”. Maka tak jarang kita jumpai mereka yang bercadar entah pakai niqob atau burqo’ dengan asyiknya selfi ditempat umum. Bukan perkara hak asasi, tapi mbok ya mikir, wong mereka pakaiane sebegitu ketat bahkan yang tampak hanya mata, kok ndadak selfi segala. Karena pada prinsipnya selfi adalah ekploitasi dan eksistensi diri dengan menonjolkan performence (penampilan).

Kadang kenekatan ngilapah mereka juga terekspresikan kepada anak mereka yang tanpa ngerti apa pun. Misalnya pernah saya melihat anak perempuan yang baru belajar jalan diajak seorang ibu yang bercadar, ditempat wisata dengan pakaian si anak sama persis dengan apa yang dikenakan ibunya( bercadar juga). Saya hanya ngelus dada sambil ngucap” ya Allah, kok gak kasihan sama si anak yang lagi belajar jalan dan mengenal lingkungan ya?”. Memang itu hak mereka, tapi kelakuan dan perlakuan ini dibawa ditempat umum, berarti ada hak orang lain juga yang harus dijaga.

Dan saya yakin, nanti pada hari raya idul fitri, akan ada yang menyalahkan ucapan” Mohon Maaf Lahir dan Bathin” karena kalimat ini dianggap tidak ada dalil hadist dan dalil qur’an yang langsung mendiskripsikan permintaan maaf lahir dan batin. Mereka akan mengatakan bahwa yang benar adalah Taqobbalallah Minna wa Minkum Shiyamana wa Syiyamakum” mereka para kelompok Nekat Ngilapah atau Islam Labelis tidak tahu bahwa ucapan itu bisa menjadi do’a dan do’a itu menjadi senjatanya orang beriman dan racun bagi orang kufur. Mereka lupa juga bahwa Allah sang maha segalanya, menerima dan mengerti apa yang ada di sanubari hambanya (Inni Inda Dzonni Abdi Bi/ Aku (Allah) terserah pada apa yang disangkakan hambaku padaku, In Khoiran Fa Khairun jika hambaku perprasanka padaku tentang kebaikan, maka aku akan baik padanya, Wa In Syarran Fa Syarrun/ jika hambaku menaruh prasangka buruk padaku, maka, aku akan berikan keburukan padanya. Coba dipikir, lha kalau yang di sanubari saja Allah Tahu, apalagi yang terucap? Sekalipun tidak pakai bahasa Arab, yakinlah Allah Faham kok, lagian ucapan “Mohon Maaf Lahir Bathin”, ini maksutnya adalah permintaan maaf, lha orang minta maaf, kok masih disalahkan? Aneh kan!

Dari kenekatan ngilapah tersebut, akhirnya muaranya tetap pada cocoklogi (sing penting cocok othak athik gathuk). Dan seakan menjadi cabang keilmuan baru, ajian cocoklogi menjadi alternatif disela-sela tuntutan pelebelan ngIslam. Atau dalam arti simpelnya ngawur mereka sudah pada tingkat dewa. Tanpa peduli fakta dan data. Pun mereka mengimani apa kata para pimpinan mereka, lha bukan kah merekalah yang taqlid buta?. Mbok ya piknik pikir ngajak diskusi tetangga, biasakan juga senyum saat ketemu manusia.