Beberapa hari terakhir muncul tulisan tentang sejarah kerajaan Majapahit yang ditulis dengan menyebut “Majapahit adalah Khilafah Islamiyah” dengan argumen ditemukannya mata uang bertuliskan kalimat tauhid dengan tahun dan lambang Majapahit. Tulisan itu pun dibumbui argumen nama dan cocoklogi terhadap yang ada di seputaran sejarah Majapahit. Anehnya kelompok ini kompak, mati-matian dan cukup berisik di media sosial, bahkan mereka juga mempertahankan argumen tanpa malu, padahal jelas-jelas salah kaprah.

Misalnya nama patih Gajah Mada, menurut kelompok mereka, nama Islamnya adalah Gaj Ahmada. Dimungkinkan tulisan tersebut didasarkan pada buku berjudul “Kesultanan Majapahit yang ditulis oleh Herman Sinung Janutama”, lulusan UMY Yogyakarta.

Buku yang ditulis oleh Sinung Janutama tersebut tanpa didasari keilmuan selain otak-atik gathuk alias cocoklogi. Jika nama GAJAH MADA dipaksakan menjadi bahasa Arab Gaj Ahmada, pertanyaannya adalah adakah prasasti pendukungnya? atau naskah kuno Negara kretagama? atau dalam kitab Pararaton?, Kidung Sunda?, Usana Jawa? Apakah ada satu saja yang menulis Kosa Kata Jawa “Gaj” dan “Ahmada” ? Lalu apa arti kosa kata “Gaj” ? Ia merupakan kosa kata Jawa atau Arab?. Lalu apa arti dari kata Ahmada? Adakah orang Arab memakai nama Ahmada?

Dalam buku yang cenderung awur-awuran itu, Sinung  Janutama secara tegas menyatakan bahwa Raden Wijaya adalah dzuriyah (keturunan) Nabi Muhammad SAW dan beragama lslam. Pertanyaanya, apa dasarnya? tidakkah penulis itu tahu bahwa Sanggrama Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawarddhana itu saat mangkat jenazahnya dibakar dan abunya dicandikan di Simping dan Weleri? Memangnya Dzuriyah Rasulullah SAW yang nota bene sebagai Muslim matinya dibakar? 

Mari kita baca naskah-naskah Majapahit mulai Negara kretagama, Kutaramanawa Dharmasastra, Kidung Banawa Sekar, Kidung Ranggalawe, Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Sudamala, Kakawin Sutasoma, dll, termasuk prasasti-prasasti. Adakah pengaruh bahasa Arab dalam naskah-naskah tersebut?

Tulisan-tulisan bodoh yang tanpa dasar ilmu tentang sejarah bangsa, sepintas bisa dianggap sebagai tulisan picisan yang tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap sejarah mainstream bangsa lndonesia. Tapi jika tulisan “sampah” dalam keilmuan itu ditopang oleh organisasi besar dan institusi negara sampai akademisi, bisa jadi justru karena hal itulah yang menjadikan perubahan eksistensi dan citra bangsa. 

Mengutip tulisan LESBUMI PBNU, jika Borobudur bikinan Nabi Sulaiman dan Majapahit didirikan orang Arab keturunan Nabi SAW, akan terdapat simpulan bahwa pribumi lndonesia itu kumpulan manusia primitif yang tidak memiliki peradaban dan kebudayaan. Bagaimana bangsa lndonesia disebut beradab jika membikin candi saja tidak becus, menunggu kedatangan Bani lsrael?Nah, jika Bani lsrael dapat membangun candi yang sangat megah di negeri seberang lautan, adakah situs bangunan candi seperti borobudur di lsrael? 

Jika Majapahit didirikan oleh dzuriyah Rasul SAW, maka tentu terbukti bangsa ini primitif dan tolol sampai sampai untuk membangun sistem pemerintahan saja tidak mampu, dan harus menunggu kedatangan orang Arab yang lebih beradab dan memiliki IPTEK canggih.

Jika itu benar bahwa bangsa ini tolol primitif sehingga untuk membangun kerajaan saja musti menunggu kedatangan orang Arab, adakah data sejarah yg menunjuk bahwa di Jazirah Arab pernah ada kerajaan nasional seluas Majapahit dengan administratif sangat canggih?

Dari hal tersebutlah, kemudian saya menyebut kelompok pendukung argumen ini dengan sebutan nekat ngilapah. Karena mereka menggunakan cocoklogi dan othak athik gathuk yang semuanya diarahkan pada khilafah.