Ojo ngremehke marang kertas sak suwek (Jangan menganggap remeh selembar kertas). Kalimat tersebut selalu terngiyang di telinga saat berhadapan pada suatu kejadian di pemerintahan atau instansi yang ada di negara Indonesia tercinta ini.

Misalnya saat berada di jalan raya, ada operasi lalu lintas, kita hanya diminta menunjukkan kertas satu lembar berupa STNK sebagai bukti bahwa kendaraan tersebut adalah hak kita dan SIM sebagai bukti bahwa kita legal menggendarai kendaraan bermotor di jalan raya. Andai kita benar-benar pemilik kendaraan tersebut, tapi kok gak bisa membuktikan dengan STNK, maka kita dianggap melanggar tata tertib. Pun ketika kita mahir mengendarai motor tanpa lepas stang sekali pun, kalau tidak bisa menunjukkan SIM, kita juga dianggap melanggar tata tertib lalu lintas.

Sama halnya dengan sekolah sepandai apa pun dan selama apa pun, jika kita tidak punya ijazah, maka kita dianggap tidak sekolah. Sampai pada kita disebut orang berkelakuan baik pun harus dengan kertas selembar yang disebut SKCK. Oleh karenanya jangan menganggap remeh kertas selembar. Karena dengan kertas selembar inilah semuanya di nilai dan diperhitungkan. Bahkan kita diakui sebagai warga negara juga atas dasar kepemilikan Kartu tanda penduduk atau kartu keluarga, dan lagi-lagi semuanya tertuang dalam selembar kertas.

Teringat ketika presiden Suharto menanda tangani Letter of Intens dengan Worl Bank kaitanya IMF yang akhirnya menyebabkan negara terjerat hutang, semuanya juga berada dalam selembar kertas. Sampai urusan kematian pun, yang sudah tidak bernyawa masih diberikan surat kematian sebagai bukti nama yang tertera di dalam suray tersebut benar-benar sudah mati. Semua urusan, diselesaikan dalam selembar kertas.

Betapa susahnya menghargai kemampuan dan ketrampilan seseorang jika semuannya harus diwujudkan dalam bentuk surat keterangan pada selembar kertas. Misalnya ada seorang tukang yang terbiasa menjadi ahli dibidang pasang batu dinding, padahal dia tidak memiliki sertifikat atau ijazah yang berbunyi ahli dibidang bangunan, tapi prakteknya, si Tukang ini bukan sekedar bisa, tapi mahir dan memiliki seni artistik untuk pemasangan dinding pada bangunan.

Lha masih untung untuk pengangguran belum diwajibkan memiliki kartu tanda pengangguran seperti di NewZealand. Di sana para pengangguran mendapatkan kartu kuning dari dinas sosial dengan fasilitas mendapat santunan dari pemerintah. Kartu kuning ini diberikan pemerintah secara cuma-cuma dan diantar oleh pihak dinas sosial setempat langsung ke rumah warga. Tapi anehnya, masyarakat NewZealand malah malu menerima kartu kuning dan santunan dari pemerintah. Mereka akan segera mencari pekerjaan dan mengembalikan kartu kuning tersebut kepada dunas sosial dan menunjukkan kartu pekerja sebagai tanda dia bukan pengangguran. Karena posisi pengangguran di NewZealand adalah posisi tidak enak dan tidak mbois saat jalan di kota atau pun pusat berkumpulnya masa. Karena data pengangguran bisa diakses siapa pun secara bebas lengkap dengan data nama, photo pribadi, alamat domisili, contak person, dan alamat email.” Sehingga rata-rata para pengangguran yang mendapat uang jaminan negara ini memilih pergi ke Bali, Lombok dan kota lain di Indonesia dengan alasan refreshing, dan travelling serta tak kalah pentingnya sebagai alasan utamanya adalah, di  Indinesia tourism dihormati dan dihargai. Kadang malah di sanjung dan di istimewakan.

Gara-gara kertas satu lembar  bisa terjadi gesekan dan perang saudara. Pernah terjadi di sebuah kantor pemerintahan, seorang petugas penerimaan berkas melakukan cek kelengkapan syarat pendaftaran sebagaimana info yang telah tersebar. Ternyata si pendaftar hanya mencantumkan surat keterangan domisili pengganti KTP yang saat itu belum dianggap bisa mengganti posisi KTP seperti saat ini. Petugas pendaftar tidak menerima surat keterangan dominisili, dan hanya mau menerima KTP seperti yang ada dalam pengumuman. Adu argumen sengit pun terjadi, akhirnya sang pimpinan kantor pemerintahan menyatakan bolehnya kertas yang berisi Surat domisili sebagai pengganti KTP.

Benar yang disampaikan Bung Karno” Perjuanganmu lebih berat anakku, jika aku berjuang melawan penjajah, itu mudah. Tapi perjuangan kalian semua bukan melawan penjajah tapi berhafapan sesama putra Indonesia. Gegara pemahaman yang salah terhadap selembar kertas pun jadi pemantik awal perpecahan. Seakan kita lupa pada janji suci yang di ikrarkan para founding father bangsa Indonesia yang berbangsa satu, berbahasa satu dan bertumpah darah satu yakni Indonesia dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila sebagai dasar negaranya.