Sebuah pertanyaan nyletuk membuat penulis tergugah untuk membaca lebih dalam siapa dan bagaimana kiprah Gus Dur dalam pergulatan politik dan kebangsaan maupun keberagaman. “ Apa jasa Gus Dur untuk Islam?”, persis pertanyaanya begitu, tentu jika pertanyaan itu dihadapi dengan emosi ya terjadilah perdebatan dan saling adu argumen, karena penannya memiliki konstruksi “tidak senang dengan Gus Dur” dan yang ditanya mindsetnya adalah pecinta Gus Dur( Gus Durian). Dua posisi yang berbeda dan pasti bertolak belakang. Yang pertama tentunya akan menampilkan argumen yang penting beda dengan orang yang kedua dan si Gus Durian pasti menampilkan sikap fanatisme heroik bak mujahid yang tersulut semangat jihad (kayak anak pengkapling surga yang ngeklaim bumi datar).

Memahami sosok Gus Dur memang sangat paradoks, misalnya: Gus Dur adalah seorang sosok yang dianggap enteng secara fisiknya, tapi juga sangat dihormati, sekaligus sangat populer. Pernah pula saat beliau menjabat sebagai presiden, beliau mendapat anugrah tokoh dengan kesehatan paling rapuh dan setengah buta, akan tetapi ketahanan dan stamina beliau dapat kita lihat ketika melakukan perjalanan-perjalanan panjang dan pertemuan-pertemuan yang melelahkan, bahkan beliau dengan kekuatan ngempet amarah yang sebegitu mendalam ketika pidato anggota MPR dari fraksi PAN (pimpinan Amien Rais) yang menyebut Gus Dur dengan hujatan bahasa Al- Qur’an” Gus Dur adalan penguasa Munafik, Penguasa Tiran yang Jahat”. Tapi dengan santainya saat diskusi dengan Greg Barton( baca: Biografi Gus Dur), simpulan dari pidato anggota MPR dari sebelas Fraksi tersebut ada tiga hal yang kurang yaitu: mereka kurang rasional, kurang ajar, dan kurang dewasa. Sisi paradoks Gus Dur lainnya adalah penglihatan Gus Dur sangat buruk pasca Stroke 1998, tapi dalam berbagai pidato, kita dapat melihat kecemerlangan pemikiran beliau, daya ingat Gus Dur juga sangat kuat dan tajam sehingga ketajaman pikir dan ketajaman daya ingat ini mampu mengisi kekurangan beliau dalam penglihatan ditambah lagi penguasaan beliau terhadap empat bahasa asing secara fasih  dan dapat membaca dalam  tiga bahasa asing, padahal basic Gus Dur adalah pesantren salaf dan keluarganya juga pesantren yang jika kita paradokskan dalam ranah sejauh mana kosmopolitan Gus Dur dan sejauh mana pluralisnya Gus Dur seperti yang sering beliau sampaikan, pasti nggak bakalan ketemu.

Bahkan membandingkan Gus Dur sedang memberikan doktrin( ajaran) atau sedang bermanuver(melakukan permainan) kadang kita sering salah, semisal ketika Gus Dur membentuk ornop(LSM) fordem yang beranggotakan 45 intelektual dari berbagai kalangan, atau Gus Dur membentuk Lakpesdam NU yang sejatinya adalah bentuk perlawanan kritis terhadap Orde Baru dalam hal kebebasan berdemokrasi dan beraspirasi bukan sekedar kegemaran membuat bendera organissi baru. Atau ketika Soeharto dimasa sakit meminta bertemu Gus Dur untuk meminta maaf kepada NU secara simbolik, Gus Dur langsung memaafkannya, padahal selama Orde Baru berkauasa kurang lebih 32 tahun NU adalah kelompok yang di kuyo-kuyo oleh rezim Pak Harto. Sedangkan Muhammadiyah yang di elus-elus dan menjadi anak emas Orde baru, justru ndingkik dan menjatuhkan Soeharto. Begitulah Gus Dur, nganyelke bagi yang tidak suka, Nyentrik bagi yang mengamati, penuh perhitungan dan strategi bagi para karibnya, ngawur bagi para lawannya, panutan bagi para Gus Durian. Sulit membedakan antara manuver Gus Dur dan Doktrin yang dilakukan Gusdur.

Pernah pula ketika Jendral Beny Moerdani sebagai panglima TNI mendapat intruksi Orde Baru untuk memata-matai pesantren dan menghancurkan pesantren yang dianggap sarang aliran keras, Gus Dur justru mengajak Beny Moerdani yang Katolik untuk safari kepondok-pondok pesanren. Tujuan Gus Dur mengajak Beny Moerdani adalah dalam rangka memahamkan Beny Moerdani bahwa pesantren bukanlah sarang teroris atau Islam radikal. Dan benar akhirnya, tujuan Gus Dur berhasil, karena Beny memaparkan kondisi Pondok sebenarnya kepada presiden Soeharto karena baru saja diajak safari ke Pondok- pondok oleh Gus Dur. Lha pada perkara inilah manuver Gus Dur kadang difahami sebagai doktrin sehingga banyak yang berbondong-bondong melakukan apa yang dilakukan Gus Dur tanpa tahu apa maksud Gus Dur dan juga tidak jeli melihat hal tersebut sebagai manuver atau doktrin.