Hitungan tahun, dan lembaran hari, Kamis 4 Januari 2018 adalah lembaran baru di awal tahun. Jika kemarin adalah tahun politik yang menyeret sikap keberagamaan, maka tahun ini secerca harapan semoga moment politik tak lagi memperkosa ayat-ayat tuhan demi nafsu kemanusiaan.

Medsos memiliki peran besar bagi rentetan-rentetan kejadian faktual dalam sisi apa pun. Para pemilik kepentingan dengan hasratnya mudah mengendalikan massa mengambang untuk dipengaruhi. Apa lagi jika ditambah imbalan untuk beli kopi dan paketan internet.

Melalui media sosial, fatwa-fatwa ulama’ karbitan membuat sesak masyarakat awam dan bahkan tak sedikit pula masyarakat terseret kepada gerombolan kelompok yang susah senyum tersebut. Mereka menampilkan wajah beragama seperti singa buas yang siap menerkam saat bertemu dengan kelompok yang bukan golongannya.

Forum-forum kajian pun berubah menjadi tempat keras-kerasan suara dengan pekikan suara tinggi disela dengan suara takbir sebagai pekik pembakar dan penutup setiap kalimat. Setiap amaliah beribadah pun mereka kuliti dengan pertanyaan sok kritis. Mereka bertanya “apakah amaliyah ini ada dalilnya dari qur’an dan hadist”, apakah nabi Muhammad SAW dan para Sahabat melakukannya? Mereka berlagak seperti muhaddist, mufassir, dan mujtahid yang mengkritisi kitab karya ulama’ kuno. Padahal pengetahuan mereka cethek dan hanya bisa satu hadist, itu pun hadist “kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin finnaar”. Semua masalah mereka dalili dengan dalil yang sama.

Para ulama dan tokoh moderat mereka hujat, tokoh nasionalis mereka kikis habis, tokoh pengusung khilafah mereka sembah. Media nasional mereka gunakan untuk sarana pembunuhan karakter, sehingga mereka semakin angker. Tak sedikit pula mereka yang testimonial hanya demi menguatkan pernyataan kelompok tanpa pertimbangan salah dan benar, serta tak jarang mereka menggunakan sumpah atas nama yang maha kekal.

Beragama seakan berebut kapling surga bagi kelompoknya dan menafikan kelompok lain sebagai penghuni neraka. Media sosial mereka gunakan dengan maksimal untuk menghancurkan tokoh dan kelompok yang tidak mereka inginkan, dan menyanjung serta menutupi keburukan tokoh dari kalangan mereka sendiri.

Kyai humoris mereka tuduh fasiq, kyai dekat dengan budaya mereka sebut bid’ah, kyai dekat dengan pejabat, disebut penjilat, kyai nasionalis mereka sebut anti khulafaurrosidin. Padahal mereka ngajinya juga baru satu tahun. itu pun via kajian Mingguan tanpa guru yang punya sanad ilmu. Pada intinya, bermedsos di era virtual semuanya jungkir balik, tontonan menjadi tuntunan dan tuntunan malah dijadikan tontonan.

Maka doa kupanjatkan semoga yang waras tidak lagi ngalah, karena jamanya sudah berubah. Semoga yang moderat tak lagi enggan tampil di media memberikan pencerahan pada umat. Keimanan semoga ditancapkan dalam hati yang paling dalam, dengan tanpa kehilangan selera humor dalam setiap keadaan. Karena tanpa bumbu keceriaan humor, semua terasa kaku seperti robot.

#SingWarasOjoNgalah