Mubahallah atau bersumpah dibawah al qur’an dengan sighot yang telah ditentukan, acap kali dijadikan pembuktian terakhir dalam sebuah polemik yang seakan menabrak jalan buntu. Pada prakteknya, sebagian masyarakat mengenal model mubahallah dengan wujud sumpah pocong untuk melihat siapa yang kena adzab atau mati lebih dahulu, simpulan masyarakat menyebut itulah yang salah.

Beberapa hari yang lalu, viral di group WA dan youtube Mubahallah Nur Sugik dihadapan jama’ah yang jumlahnya ribuan. Lantas ada yang takjub dan menggelari Nur Sugik dengan predikat “Singa Allah”, menurut saya, ini lebai, keberanian Nur Sugik belum teruji seperti sayyidina Umar bin Khottob. Misalnya, Sungai Nil berhenti meminta korban setelah disurati Sayyidina Umar, misalnya lagi, Sayyidina Umar selalu datang mendengarkan keluhan warganya, dan tak jarang memanggul bahan makan diantar kepada warga yang membutuhkan. Tidak layak gelar “Singa Allah” disematkan karena beraninya Nur Sugik dengan misuhi pemerintah, atau misuhi mikrofon yang dipegangnya.

Lebih konyol lagi, jika ada yang berpendapat bahwa gelar “Singa Allah” diberikan pada Nur Sugik karena keberanian Nur Sugik menyimpulkan rentetan bencana 22 September 2018 adalah gara-gara pemerintah melalui kepolisian, menetapkan status “Tersangka” kepada Nur Sugik.

Stigmatisasi masyarakat terhadap Mubahallah Nur Sugik, seakan dinilai sebagai tokoh sekelas wali yang jika didholimi, maka Allah akan mengadzab mereka yang mendholimi. Jika begitu, monggo dilogikakan sekalian, Nur Sugik ditugaskan dakwah ke Israil, kalau didholimi, maka Israil akan diadzab, begitukan logikannya?

Jika kita lihat referensi yang menuturkan cerita para Wali Allah, bukan hanya kenikmatan dan pertolongan (imdad) yang diterima oleh seorang Wali, apalagi bagi Wali Quthub. Ternyata, wali Qutub juga menghadang setiap bala’ yang diturunkan ke muka bumi ini. Tak ter peri betapa sakit yang dirasa para wali Qutub menghadang seluruh adzab yang ditimpakan tersebut. Mereka pasang badan bukan karena sok pahlawan, tapi karrna tanggung jawab dan cinta pada ummatnya.

Al Imam Abdul Wahhab Asy Sya’raniy dalam kitab al Jawâhir wad Durâr mengatakan :

إذ هو رضي الله عنه متلق عن الحق تعالى جميع ما يفيضه على الخلق من البلاء والإمداد، فرأسه دائما يكاد يتصدع من ثقال الواردات

Karena Wali Quthub – semoga Allah meridhoinya- selalu menghadang (terlebih dahulu) dari apa saja yang diturunkan oleh Allah ta’ala kepada makhluknya, baik berupa bencana maupun pertolongan, sehingga Wali Quthub selalu merasakan sakit kepala bukan kepalang dikarenakan beratnya beban yang diterima.

Di halaman yang lain, Al Imam Abdul Wahhab Asy Sya’raniy menuturkan juga, bahwa apabila musibah yang dihadang itu belum juga terhapus, maka selanjutnya ditimpakan wali yang terdekat dengan wali Quthub, yaitu dua orang wali yang bergelar “Imamani”, kemudian (apabila masih belum terhapus) disebar kepala wali-wali yang derajatnya paling dekat dengan mereka, yaitu Wali Autad, begitu seterusnya hingga turun menimpa kepada wali-wali yang derajatnya berada dibawahnya… Sesuai dengan firman Allah ta’âlâ (Al Baqarah 251):

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

Dan seandainya Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.

Dari paparan diatas dapat kita simpulkan bahwa “wali itu hatinya penuh rahmat dan kasih sayang, menginginkan orang lain aman dan selamat. Kalau ada orang yang suka mendoakan orang lain celaka, suka melaknat dan Mubahalah kepada sesama muslim hanya gara-gara masalah pribadi (bukan masalah keagamaan), maka dia bukanlah seorang Waliyullah, tapi Wali Murid.

Ada upaya membangun narasi bahwa seakan-akan, Ada Singa Allah dan kekasih Allah yang di dhalimi pemerintah, sehingga pemerintah harus dimusuhi. Hal ini persis yang disebutkan oleh Syekh Zaini Dahlan gurunya Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari, dan Syakh Ramadhan al Buthi, bahwa dalam menghancurkan sebuah negara, hanya butuh dua isu yang dimainkan, yaitu anti pemerintah mainkan isu agama.

Waspadalah, karena berawal duo pola itulah, Syuriah perang tak berhenti sampai sekarang, karena dua isu tersebut, Libya hancur tak bangkit lagi, Iraq juga demilkian. Mayoritas memainkan isu anti pemerintah dan memainkan isu agama. Ditambah lagi, suasana tahun politik juga menjadi bumbu semuanya.

#KitaadalahIndonesia