Tulisan ini adalah moderasi dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Khariri Makmun, Peneliti Institute Hasyim Muzadi (IHM) dengan menyebut setidaknya ada 4 strategi yang digunakan oleh kelompok Islam Politik Trans Nasional dalam melancarkan agendanya politik di Indonesia tahun 2019.

Strategi pertama yang ditempuh oleh Islam politik Tran Nasional adalah membenci pemerintah, menjadikan alat negara sebagai musuh, seluruh kebijakan penguasa dianggap keliru, partai-partai koalisi pendukung pemerintah dianggap penjilat. Sikap ini setiap hari digelorakan kepada umat dan dipublikasi melalui media sosial dengan bumbu ayat dan hadis.

Hal ini sebagai upaya untuk mempengaruhi pemikiran masyarakat untuk tidak yakin pada pemerintah bahkan memicu munculnya keberanian melawan kebijakan pemerintah. Jikalau pun mereka berurusan dengan pemerintah, pastilah kesan terdholimi dan melabeli dirinya korban. Selanjutnya mereka akan memviralkan melalui media sosial. Satu kejadian saat pembukaan MTQ, pas ajakan membaca ummul kitab, tapi pak Jokowi melafalkan ajakan berdoa dengan lafal medok Jawa, seakan mendapat bahan menyalahkan, kelompok idiologi politik Trans Nasional masuk membumbui dengan kajian berbagai perspektif. Seakan pula, mereka sebagai tuhan yang berhak memutuskan segalanya.

Strategi kedua, adalah menurunkan tingkat kredibilitas ulama yang betul-betul ulama, tapi tidak sepaham dengan perjuangan politik mereka. Siapapun ulama yang tidak mengikuti arus pemikiran politik mereka maka dianggap ulama su’ (ulama jahat), ulama yang harus di jauhi dan diserang dengan berbagai macam hoax.

Masih ingat kejadian Kyai Ma’ruf Amin begitu menjadi pasangan pak Jokowi, awalnya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama’ MUI mengagungkan Kyai Ma’ruf daat berada di MUI, tapi begitu beda kubu, mereka membuat berita hoax bahwa Kyai Ma’ruf cipika-cipiki saat salaman dengan perempuan, padahal bukti yang mereka unggah di youtube adalah saat Kyai Ma’ruf bersalaman dengan istrinya sendiri. Apa ndak malu mereka? Sudah menuduh, salah pula. Ternyata tidak ada rasa malu bagi mereka, foto lama saat beliau Kyai Ma’ruf Sakit, diposting ulang kemarin dan diberitakan beliau hari ini sakit.

Kredibilitas Ulama’ mereka turunkan dengan berbagai cara. Bahkan, kalau tidak sama pilihan politiknya dengan mereka, ulama’-ulama’ akan di bully dan dihabisi nama baiknya dengan cara apa pun. Bagi mereka, segala cara adalah siyasah jihad menegakkan agama Allah sekalipun cara tersebut adalah menipu dan memfitnah.

Sedangkan orang-orang biasa, tingkat keilmuan agamanya rendah, mereka nobatkan sebagai ulama atau ustadz selama mereka memiliki pandangan yang sama dengan garis perjuangan politik mereka. Disinilah mereka mencari ruang untuk adu domba dan memperkeruh suasana. Bagaimana nasib umat jika orang awam yang dinobatkan menjadi ulama’ lantas mengeluarkan statemen ngawur dan diyakini sebagai fatwa? Pastilah umat yang bingung.

Ketika ulama yang benar-benar memiliki kapabilitas dan akhlak sebagai seorang ulama dihancurkan karakternya, maka para aktivis Islam politik Trans Nasional ini akan mudah menguasai opini publik dan mengontrol umat melalui fatwa-fatwa agama yang disesuaikan dengan sponsor dan pesanan kepentingan politik mereka.

Strategi ketiga adalah meminta bantuan kekuatan asing untuk melakukan manuver dan intervensi disaat terjadi kekacauan. Bantuan asing bisa berupa pendanaan (finansial) dan pengiriman milisi atau kelompok sipil bersenjata. Makanya begitu ada bencana di Palu dan Donggala, mereka bersikukuh status bencana ditetapkan sebagai status nasional sehingga bantuan negara manapun bisa masuk. Saat mereka masuk itulah mereka menumpangi kepentingan tersebut.

Strategi keempat adalah memecah umat dalam dua arus, pertama umat yang mendukung kepentingan politik Islam Trans Nasional dan kedua umat yang tidak mendukung kepentingan politik Islam. Sebagai bumbu menambah kemantapan dimana masyarakat berlabuh? Mereka tak segan mengutip ayat atau hadist yang diinterpretasikan sesuai tujuan. Masih segar dalam ingatan bagaimana Amin Rais menyebut Partai Allah dan Partai Setan, bagaimana Haikal Hasan menyebut pemilih Prabowo mendapat Surga saat Haikal berada di depan Ka’bah.

Pembelahan umat dalam dua kubu dimaksudkan untuk mengukur kekuatan pendukung dan kekuatan lawan. Jika kristalisasi dukungan terhadap Islam politik semakin besar maka mereka akan menempuh dua cara, pertama, cara konstitusional dengan cara melakukan perubahan rezim melalai pemilu dan kedua, menempuh cara revolusi atau menggulingkan kekuasaan melalui kekerasaan. Masih ingat, dengan aksi demo berjilid-jilid kemarin? Itulah wujud pemisahan yang mereka lakukan dengan bungkus isu lainnya, walaupun ditengah jalan, mereka pecah kongsi karena semuanya berambisi dan kegedean syahwat menjadi pemimpin.

Konsekwensi dari kekerasan politik adalah perang saudara, chaos, negara hancur, ancaman pemisahan (sparatis), jatuhnya korban sipil serta munculnya berbagai macam problem sosial serta kemanusian. Hal ini perlu diwaspadai serius. Mereka yang meyakini hal ini sebagai kebenaran, pasti diserbu tuduhan terlalu paranoid.

Bagi kelompok Islam politik Trans Nasional menegakkan sistem pemerintahan Islam dan penerapan syariat Islam merupakan suatu kewajiban. Dua tujuan politik ini harus diperjuangkan meskipun ambisi tersebut harus berakhir dengan kehancuran negara.

Inilah barangkali catatan mengerikan yang bisa kita lihat dari perkembangan Islam politik di negara-negara Timur Tengah seperti Irak, Libia, Syria dan Yaman.

Jika tidak diwaspadai, kondisi gerakan Islam politik Trans Nasional di Indonesia akan melaju kencang tanpa kontrol dan perlahan-lahan menabrak apa saja termasuk menabrak konstitusi, menabrak, falsafah bernegara, menabrak sistem politik serta menabrak islam sendiri, sebagai agama dan norma yang moderat.

Ditengah kekeringan wacana keagamaan yang moderat dan humanis, maka tak ada salahnya bagi kita untuk kembali pada cara pandang guru bangsa kita yaitu Gus Dur dalam mengharmoniskan hubungan antara agama dan negara.

Gus Dur membawa agama melalui tiga pendekatan yang sangat luas dan fleksibel. Pertama, Pendekatan filosofis, makna dari agama itu sendiri. Tidak sekedar teks dari agama itu.

Kedua. Etis, agama ditampilkan sebagai nilai-nilai kesopanan universal. Ketiga, Humanis: menghadirkan agama sebagai persaudaraan kemanusian yang utuh.

Ketiga pendekatan ini mengalahkan pendekatan legal formal atau hukum-hukum fikih, tetapi selalu mencari alternatif apa yang sebaiknya baik untuk manusia. Gus Dur bertumpu pada esensi agama bukan pada hukum legal formal agama.

Satu hal yang tidak dilepas oleh Gus Dur adalah teologi. Tapi wujud dari teologi itu harus tampil dalam bentuk etika, humanisme dan folosofi.

Jika 3 Pendekatan yang dilakukan oleh Gus Dur ini diletakkan pada konsepsi hubungan antara agama dan negara atau antara Islam dan politik, maka hubungan keduannya akan harmonis dan tidak menimbulkan ketegangan.

Kultur politik Indonesia tidak sama dengan kultur politik Timur Tengah, meski pengaruh pemikiran politik Islam sama-sama kuat di kedua wilayah ini, akan tetapi perbedaan budaya dan karakter masyarakat menjadi alasan kenapa politik di Timur Tengah berbeda dengan politik di Indonesia.

Berkaca dari pengalaman negara-negara Timur Tengah yang dihancurkan oleh perilaku politik yang berlandaskan pada penafsiran teks-teks agama yang sempit, kaku dan menghalalkan kekerasan maka saatnya seluruh komponen bangsa menyadari bahwa bekerjasama dengan kelompok Islam Politik Trans Nasional akan mengakibatkan Indonesia menuju pada masa depan yang suram serta jatuh dalam jurang kehancuran.

Wallahu a’lam.