Nusantara atau Indonesia saat ini, adalah wilayah yang tak pernah mengalami kekosongan (masa fatroh) dalam mengenal tuhan atau bisa dikatakan sebagai bangsa dalam usaha menjadi baik. Maknanya, ada peradaban yang luhur yang sudah lebih dahulu berada di Nusantara sebelum penyebaran Islam. Misalnya kita lihat dari zaman kerajaan Hindu di Nusantara, ada kasta Brahmana, Ksatria, dan Sudra. Dari ketiga kasta ini, hanya kasta Brahmana yang berhak mendakwahkan agama pada masyarakat. Sehingga eklusifitas yang mereka bangun adalah dalam kerangka mengklasifikasikan kasta khusus sebagai pemegang prerogatif penyebaran agama dan perlu diketahui pada masa ini, agama hanya dianut oleh lingkup tertentu. Sehingga saat Islam masuk ke Indonesia atau Nusantara, butuh kreasi dan solusi cerdas dari para pembawanya khususnya para Wali Songo. Apalagi masuknya Islam di Nusantara bukan karena perang penaklukan kekuasaan. Tapi Islam menyebar di Nusantara dengan damai dan secara cepat menjangkau wilayah pelosok Nusantara tanpa kenal kasta.

Diantara kecerdasan pemilihan metode dan pendekatan dakwah para Wali Songo adalah cara mengajar para wali songo dahulu, dalam benerapa penyebutan, misalnya dalam menyebut Allah, agar tidak terlalu nampak menyebutnya dengan Gusti Pengeran, Rasulullah dengan Kanjeng Nabi, Shalat dengan Sembahyang, Mushalla dengan Langgar, Syaikh atau Ustadz dengan Kyai, Tilmidzun Muridun dengan Santri, Kalimat Syahadat dengan Kalimosodo, Syahadatain dengan Sekaten.

Cara para wali menasihati masyarakat tidak dengan (bahasa) Arab, tapi dengan isyarat, asal bisa diterima. Ingin jadi orang baik, cukup dinasihati, “Jangan lupa Jempol ya,” begitu saja. Jempol itu bagus, tidak sempurna jika tidak ada Jenthik (kelingking). Jenthik itu maknanya jangan otak-atik barang orang lain, jangan suka mencuri. Jadi para wali jaman dulu tidak perlu berdalil “As-sariqu was-sariqatu faqtha’u aidiyahuma” atau dengan dalil hadits “Lau anna Fathimata binti Muhammadin saraqat laqatha’tu yadaha”.

Terus Jari Manis, jadilah orang yang manis, tapi jangan bermanis-manis wajah tapi busuk perilaku. Jadi Penunggul, jadilah orang yang unggul tapi tidak sombong. Jadi Penuduh, jadilah yang bisa memberi petunjuk orang lain hal yang baik-baik serta diri kita bisa jadi Jempol.

Istighfar yang artinya meminta ampun atau nyuwun ngapuro. lha orang yang membaca Istighfar ditempatkan di masjid. trus di depan masjid tersebut diberi plengkung sehingga plengkung tersebut disebut Ghafura, yang berarti pengampunan. Maknanya siapa saja yang masuk ke dalam masjid dan membaca Istighfar maka akan mendapat ampunan Gusti Pengeran (Allah Swt.).

Terus kenapa para wali berani mengajari dengan cara demikian, tidak khawatir kalau-kalau disalah pahami? Sebab kurikulumnya para wali dalam al-Quran “Ala inna auliya-allahi la khaufun ‘alaihim wala hum yahzanun”, artinya para wali Allah itu tidak memiliki rasa takut atau khawatir sama sekali. Berbeda dengan kurikulumnya para ulama “Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama”, yang berarti para ulama itu memiliki rasa takut kepada Gusti Pengeran-nya.

Maka jika ada pengantin hadir diberikan Cengkir (buah kelapa yang masih muda), Gedang (pisang), dan Tebu. Artinya, sang mertua sudah kenceng pikirnya(kuat pikirannya), si pengantin sudah saya geged-geged (gigit) dan digadang-gadang (diharapkan), si mertua juga sudah manteb maka si manten disuruh segera Mlebu (masuk). Jika ada yang membangun rumah agar memberikan Gedang (pisang) satu tundun di atas. Sebab jika tukangnya lesu agar tidak naik-turun mencari makanan. Semuanya itu ditanam oleh para wali.

Sehingga sehabis ditanam maka tumbuh. Berhubung tanaman ini ada di Jawa yang sebelumnya adalah sawahnya orang Hindu-Budha, maka hasilnya pun seperti yang kita lihat sekarang, semuanya dikatakan sebagai ilmu Kejawen atau Klenik. Padahal jika dibuka satu persatu di dalamnya, itu semua adalah ajaran untuk masyarakat yang tidak mengenal agama agar mudah dan kontekstual. Maka kemudian dibuat adat di tanah Jawa. Tanaman agama yang dibungkus dengan cara Jawa ini akhirnya dicek oleh para wali dengan tembang “Lir Ilir tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo tak sendho temanten anyar, cah angon-angon penekno blimbing kui, lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dhodhot iro, dhodhot iro-dhodhot iro kumitir bedhah ing pinggir dondomono jrumatono kanggo sebho mengko sore”, tembang ini bermaksud mengevaluasi apakah yang selama ini ditandur sudah ada hasilnya atau belum?.Kalau tanduran sudah ada hasilnya, maka butuh cah angon(orang yang mampu momong) supaya tanduran tersebut lestari dan si bocah angon diminta untuk melanjutkan sampai pengajaran sholat yang dilambangkan pada syair “penekno blimbing kui” sebagaimana blimbing yang punya segilima sebagai simbol sholat lima waktu.

Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore, mumpung jembar kalangane mumpung padhang kahanane wus suraak o suraak hoore. Jika sudah mulai tumbuh maka dibuatkan Pager (pagar). Pager Gresik namanya Giri, Pager Tengah namanya Demak, Pager Kulon (barat) namanya Cirebon. Ini namanya pagar atau bahasa al-Qurannya ‘Khalifah’. Semua wilayah ditanam dan dipagari oleh para wali hingga Islam menyebar ke segala penjuru Indonesia (Nusantara). Hanya saja salah kaprahnya orang jaman sekarang tidak ikut menanam kok buat pagar, makanya jadi perkara contohnya Wahabi, HTI, mereka tidak nandur ee malah mau merusak tinggalan para wali ini.

Peninggalan para wali ini wartinya p. Diri kita adalah penerusnya para wali. Seluruh orang Indonesia ini hasil dari jerih payahnya para wali yang diwariskan kepada para santri. Dan kenapa NKRI Harga Mati? Sebab NKRI ini peninggalan para wali. Maka kita harus menjaga amanah para Wali. Jangan sampai ada cerita penjaga lumbungbpadi membakar lumbungnya, sedemikian diri kita (para santri) tidak mungkin berkhianat kepada Bangsa yang merupakan amanat para Wali untuk menjaganya.

Itulah sebabnya kenapa jaman dahulu Belanda kelimpungan menghadapi para santri. Karena orang Belanda memiliki keyakinan bahwa santri Indonesia tidak mungkin melepaskan Nusantara. Di mata Belanda santri Indonesia memiliki 3 ciri; kopyah miring sarungnya nglinthing, bau rokok, dan tangan gudigan. Tapi ketahuilah para santri inilah pelindung Indonesia sejak awal.

Seluruh pemberontakan dalam melawan penjajah Belanda kebanyakan dari para santri. Diponegoro santrinya Mbah Nur Muhammad Salaman Magelang, Sultan Agung santrinya Sunan Geseng, Cokroaminoto santrinya Mbah hasyim Asy’ari, R.A. Kartini santrinya Mbah Sholeh Darat Semarang. Karena seluruh pemberontak penjajah ini para santri dari Indonesia, maka Belanda membuat peraturan bahwa seluruh santri kalau sudah berhaji harus menyematkan gelar Haji-nya di depan namanya agar mudah dikontrol pergerakannya. Kebijakan belanda ini dimulai di tahun 1923 M.

Namun lama-lama Belanda semakin tidak paham terhadap para santri ini, karena semakin lama semakin aneh. Ternyata tiba-tiba para santri Indonesia ini membuat geger dunia. Satu-satunya manusia yang berani demonstrasi ke Mekkah waktu itu ya santri Indonesia, saat makam Rasulullah SAW hendak dibongkar oleh Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman al Saud tahun 1924-1925 M. tapi karena di protes santri Indonesia, maka pembongkaran maka Rosulullah dibatalkan karena para petinggi kerajaan arab tahu bahwa santri yang protes adalah santri-santri Indonesia dibawah komando Mbah Wahab Hasbullah dan di mandati Hadrotus Syekh Hasyim Asy ‘ari Tebu Ireng Jombang yang merupakan satu-satunya ulama Indonesia yang bergelar ‘Hadhratus Syekh’.

Gelar yang tidak bisa diremehkan, karena untuk mendapat gelar tersebut syaratnya harus hafal Kutubus Sittah beserta Rijalul Hadits-nya. Ulama jaman dulu itu tidak seperti ulama sekarang saat menyebut/memberi gelar. Dahulu jika seseorang mendapat gelar ‘al-Faqih’ syaratnya harus hafal lebih dari 2.000 hadits shahih. Jika gelar ‘al-‘Alim’ syaratnya seperempat al-Quran harus hafal. Gelar ‘al-‘Allamah’ berarti hafal al-Quran. Gelar Syekh’ berarti hafal Shahih Bukhari-Muslim beserta Rijalul Hadits-nya.

Santri-santri ini dikenal dengan nama ‘Komite Hijaz’ yang dipimpin Mbah Wahab Hasbullah. Dari sinilah yang akhirnya menjadi cikal-bakal berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama di Indonesia.

Maka marilah ajaran para wali yang sudah terbukti bisa mengislamkan tanah Jawa bahkan Nusantara yang diteruskan oleh para kyai, kita teruskan. Jangan galak-galak saat mengajar dan menuntun seseorang, agar tidak menjadi perkara. Sampaikan pengajaran dengan cara yang bisa diterima masyarakat agar bisa masuk dengan hati yang tulus dan ikhlas.

Kalau cara Gus Dur dengan meniru apa yang dilakukan para ulama’ dahulu, jika nisbatnya ingin membuat majelis ta’lim yang menjadi tempat pengajaran maka bungkuslah dengan nama Jawa atau nama daerah setempat, agar orang-orang tidak merasa rikuh/sungkan jika hendak ikut mengaji. Contohnya sekarang itu seperti pesantren Jombang tempatnya Mbah Hasyim, Pesantren Lirboyo, Pesantren Sarang, Pesantren Trenceng, dan lain sebagainya. Kecuali jika masyarakat sekitar benar-benar sudah mengenal agama serta suka dengan kyainya, ya silakan namai dengan nama Arab.

Maka sekarang Anda lebih percaya kepada ulama yang hafal Kutubus Sittah ataukah yang hafal hadits tak seberapa tapi berani membuat rusuh Indonesia. Silakan dihayati sendiri. (Din)

هدانا الله وإيّاكم إلى صراط مستقيم، صراط الّذين أنعمت عليهم من النّبيّين والصّدّيقين والشّهداء والأولياء والصّالحين، وصراط جمعيّة نهضة العلماء والنّهضيّين لنيل السّعادة لإندونيسيّا واندونسيّين، آمين