“Jiwa Kyai Wahab yang bebas dalam naungan taqwa dibarengi dengan semangat yang tidak pernah padam untuk membangun kesadaran di kalangan ulama dalam mencari kebenaran, menyebabkan kegiatannya melakukan diskusi-diskusi kian menarik kalangan masyarakat luas”.

Kalimat diatas adalah statemen KH Syaifudin Zuhri pada tahun 1972 saat beliau menceritakan gerakan yang dilakukan mbah Wahab sebagai ulama’ yang aktifis dan aktifis yang ulama’ dalam buku “Berangkat dari Pesantren”. Kalimat menarik sebagai penggambaran sebuah prilaku yang dilakukan seorang muharrik (penggerak) yang memiliki tujuan dengan modal pengetahuan yang mumpuni.

Kyai Wahab sering berdiskusi dengan Ahmad Syurkati (pendiri Al Irsyad) di Surabaya, Kyai Wahab juga sering ke Yogyakarya untuk berdiskusi dengan Kyai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dengan mengambil tema-tema keagamaan yang menjadi kebutuhan masyarakat dan hangat kala itu. Dari apa yang dilakukan oleh mbah Wahab menverminkan keluasan pengetahuan dan ilmu yang dimiliki mbah Wahab, karena tidak mungkin seorang yang tanpa pengetahuan yang mumpuni, berani kesana-kemari berdiskusi dengan tema keilmuan dan lawan diskusi yang berilmu pula.

Jika kita melakukan kilas perjalanan ngaji dan nyantri Mbah Wahab saat muda maka akan ketemu jawabannya. Berawal dari kelahiran beliau 31 Maret 1888 dari pasangan KH Hasbullah dan Nyai Latifah.  Antara Mbah Wahab dan Mbah Hasyim terpaut usia 17 tahun karena Mbah Hasyim lahir 14 Februari 1871, keduanya secara nasab adalah saudara dekat yang bertemu pada Kyai Abdussalam atau Kyai Sihah yang mempunyai menantu Kyai Ustman dan Kyai Sa’id. Yang mana Kyai Ustman adalah kakek dari Mbah Hasyim dan Kyai Sa’id adalah kakek dari mbah Wahab, dan nantinya mbah Wahab juga menjadi santri dari mbah Hasyim.

Perjalanan Nyantri Wahab kecil, karena berada di lingkungan pesantren, Wahab kecil pun turut belajar berbagai keilmuan agama di pesantren yang di asuh oleh Ayahnya sendiri sampai usia 13 tahun dan juga dalam masa itu, Wahab kecil secara khusus di didik oleh ayahnya Kyai Hasbullah pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang dalam hal disiplin keilmuan tauhid, fiqih, tata bahasa arab menengah, dan yurisprudensi dan dengan bekal pengetahuan inilah Wahab kecil mulai Nyantri ke berbagai pesantren menuntut ilmu kepada para guru.

Berawal dari Langitan Tuban Kyai Wahab nyantri selama Satu Tahun dan dilanjutkan berguru kepada Kyai Shaleh dan Kyai Zainuddin Pondok Mojosari Nganjuk Jawa Timur selama empat tahun. Di Mojosari inilah mbah Wahab mendalami Fiqih dan Yurisprudensi Islam dengan mendalami kitab Fathul Mu’in yang merupakan Syarah Kitab Qurrah al Aini fi Muhimmah al-Din yang keduanya adalah kitab Fiqih yang kaya membahas persoalan dan sarat makna meskipun ringkas, keduanya dikarang oleh ulama’ India Selatan Syekh Zainuddin Abdul Aziz. Selanjutnya mbah Wahab nyantri di Pondok Pesantren Cepaka Jawa Timur sekitar enam bulan dan dilanjutkan ke Pondok Pesantren Tawangsari Surabaya yang diasuh KH. Mas Ali, dengan memperdalam Fiqih dengan menguasai kitab Al-Iqna’, fiqih bermadzhab Syafi’i yang disusun oleh Syekh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Khatib Al Syarbiniy sebagai Syarah Fathul Qorib kitab Fiqih karya Abu Suja’ yang sangat terkenal. Dan tentunya Mbah Wahab tidak hanya belajar Fiqih atau Yurisprudensi saja, tapi juga belajar Nahwu, Sharaf, Tauhid dan Gramatika Bahasa. Setelah di Tawangsari kurang lebih satu tahun, mbah Wahab nyantri ke Pesantren Kademangan yang di asuh oleh Syaikhona Kholil Bangkalan yang kita kenal sebagai ulama’ pertama yang mempopulerkan kitab induk bahasa Arab” Alfiyah Ibnu Malik”. Mbah Wahab Nyantri kepada Syaikhona Kholil selama tiga tahun, dan perlu diketahui bahwa dalam perjalanan nyatri ke berbagai pondok pesantren ini, mbah Wahab bertemu Santri dari Tayu Pati Jawa Tengah bernama Bisri Syansuri saat sama-sama nyantri di Kademangan ini dan nantinya Bisri Syansuri ini dinikahkan denga Khadijah yang merupakan adik dari Mbah Wahab. Akhirnya setelah mbah Wahab tiga tahun menjadi santri Syaikhona Kholil, beliau berpesan agar diteruskan nyantri ke Tebu Ireng Jombang yang di asuh KH. Hasyim Asy’ari. Tapi mbah Wahab tidak langsung ke Tebu Ireng tapi nyantri ke Branggahan Kediri belajar ilmu Al-Qur’an, ilmu Kalam dan Tashawuf kepada KH Faqihuddin selama satu tahun dan selanjutnya ke Tebu Ireng Nyantri ke Mbah Hasyim dan bertemu lagi dengan Bisri Syansuri, setelah empat tahun nyantri kepada mbah Hasyim, beliau menasehati mbah Wahab dan mbah Bisri untuk nyantri ke Makkah memperdalam ilmu dan menunaikan rukun Islam ke lima.

Keduanya pun melaksanakan saran mbah Hasyim dan di Makkah keduanya berguru Hadist pada Syekh Mahfud dari Termas Pacitan, yang juga guru Mbah Hasyim, kemudian belajar fiqih Syafi’i kepada Syekh Khatib al minangkabawi, terlepas dengan kontroversinya, dan mbah Wahab juga berguru pada ulama’ lain diantaranya: Kyai Bakir dari Yogyakarta, Kyai Muhtaram dari Banyuwangi, Kyai Asy’ari dari Bawean, Syekh Hasan Al- Yamani dan Syekh Syuaib Al Daghistani.

Pada tahun 1912 mbah Wahab bersama pelajar dari Jawa mendirikan Sarekat Islam di Makkah, meskipun mbah Bisri juga terlibat tetapi tidak seaktif mbah Wahab yang memang bermental aktifis. Dan pada tahun 1914 Nyai Latifah ibunda Wahab dan Khadijah adik dari Wahab muda menunaikan ibadah Haji dan saat menemui ibu dan adiknya inilah Wahab terbersit menjodohkan adiknya dengan sahabatnya Bisri dan berjalan sesuai rencana. Dan pada tahun 1914 ini pula Wahab muda memilih untuk kembali ke tanah air dengan menuju Kota Surabaya sebagai aktivis baik dalam mematangkan ilmu sebagai teori dalam bentuk praktik maupun perjuangan yang terkait karir kebangsaan, juga menjadi pengajar di Pondok milik KH. Mas Musa Saudagar dan Ulama’ asal Kertopaten Surabaya, dan akhirnya pada 1916 Wahab muda dinikahkan dengan Nyai Maimunah anak perempuan KH. Mas Musa. Dan pada berikutnya, KH Wahab Hasbullah kembali ke Tambak Beras melanjutkan estafet kepemimpinan pondok.

Dari paparan cerita di atas saya hanya membidik sisi perjalanan Nyantri mbah Wahab dari pesantren Tambak Beras yang di asuh oleh KH Hasbullah ayahnya sendiri, sampai kembali lagi ke Tambak beras setelah melakukan perjalanan jihad memerangi kebodohan untuk mendapatkan pengetahuan. 

Dari perjalanan tersebut tergambarkan bagaimana kematangan keilmuan mbah Wahab, dengan modal kecerdasan di atas rata-rata dan para maha guru-guru yang ampuh secara ilmu dan Basyirah. Maka sangat istimewa jika generasi sekarang bisa menemukan para Santri mbah Wahab yang masih hidup untuk menggali pengetahuan dan sejarah NU dan Indonesia yang mungkin belum terbukukan dalam tinta sejarah. Jika Kyai Mun’im dalam Bedah Buku di dua tempat (24 dan 25 April 2017) menceritakan banyak Santri Mbah Hasyim yang masih hidup dan menyimpan banyak cerita sampai rahasia, maka harus ada pula yang berburu mencari dan menemukan santri Mbah Wahab yang bisa dijadikan nara sumber menyusun serpihan-serpihan sejarah NU dan NKRI yang belum tercatat dalam buku sejarah, karena tidak mungkin NU yang memiliki 5 Pahlawan Nasional sejajar dengan Bung Karno, Bung Hatta dan lain-lain, tapi perannya tidak tercatat pada sejarah.