Judul di atas adalah tema yang diambil PCNU Tulungagung dalam melaksanakan perhelatan konferensi 5 tahunan yang dilaksanakan pada 21 -23 Juni 2019 atau bertepatan dengan 16 – 19 Syawal 1440 H. Dalam hitungan persiapan, butuh kerja ekstra ketat bagi panitia, khususnya pada bulan Ramadhan karena membagi waktu untuk mengisi Ramadhan dengan ibadah dan mempersiapkan konsep dan kebutuhan Konferensi. Hal tersebut adalah konsekwensi dari penentuan hari pelaksanaan, karena hari pelaksanaan Konfercab begitu dekat dengan suasana lebaran dan “halal bihalal halal”, maka sudah diprediksi bahwa begitu masuk sepuluh hari akhir Ramadhan, semua kebutuhan sudah siap.

Seluruh rangkaian acara juga berjalan sesuai skema, dimulai dari pleno pertama sidang Tatib, Halaqoh penguatan Aswaja dengan pemateri: Gus Dafid Fuadi, Kiai Marzuki Mustamar, dan Kiai Muhsin Gozali, dilanjutkan pleno LPJ dan tanggapan-tanggapan, disusul sidang-sidang komisi, Pleno Komisi , dan Pleno Pemilihan yang langsung dipimpin oleh Pengurus PWNU Jawa Timur.

Rangkaiannya begitu rancag dan happy ending, pasalnya dalam pleno pemilihan diawali dengan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang akhirnya memutuskan bahwa K.H Muhson Hamdani terpilih secara sah sebagai Rois Syuriah Tulungagung. Sedemikian pula waktu pemilihan ketua Tanfidziyah, dengan syarat lolos pada proses penjaringan jika mendapat sekurang-kurangnya 75 suara.

Setelah proses penjaringan dilaksanakan, dan dihitung, maka dapatlah diketahui bahwa hanya Kiai Hakim Mustofa yang mendapatkan suara sesuai persyaratan, selainnya hanya mendapat suara dibawah persyaratan sesuai tatib.

Maka dengan pertimbangan tatib dan persetujuan Rois terpilih, selanjutnya ditetapkan dan disepakati bahwa Kiai Abdul Hakim Mustofa mengemban amanat sebagai ketua Tanfidziyah PCNU Tulungagung.

Selamat untuk beliau berdua, K.H Muhson Hamdani dan K.H Abdul Hakim Mustofa sebagai nahkoda perahu besar PCNU Tulungagung. Mengawali dengan Qosdun Shohihun (niat yang shohih) Insyaallah segalanya akan ditunjukkan jalan terbaik.

Selain niat yang shohih, di dalam berkhidmat kepada organisasi NU, perlu bersungguh-sungguh(shdiqun shorihun) semua tahu bahwa di NU waktu yang dibutuhkan adalah 24 jam bahkan bisa lebih. Maka tanpa kesungguhan yang nyata, sulit mewujudkan khidmah yang ikhlas.

Tak kalah pentingnya dalam berkhidmah kepada NU, juga memperhatikan “Adabun Mardhiyatun” (adab yang diridhoi) karena tanpa adab yang dirihoi Allah SWT yang sesuai keteladanan Rosulullah dan para muasis NU, rasa-rasanya jauh dari harapan untuk menjadi bagian dari santrinya mbah Hasyim Asy’ari.

Aqwaalun Zakiyyatun atau perkataaan yang bersih, menjadi indikator mewujudkan khidmah di NU setelah menata niat untuk bersungguh-sungguh, beradab yang baik. Dengan perkataan yang bersih, tak mungkin akan ada hati yang terlukai, baik hati warga NU atau pengurus NU, tak akan tersakiti jika semua ucapan yang keluar dari warga dan pengurus NU adalah ucapan yang bersih dari amarah, bersih dari sakwa sangka dan su’udzon.

Disusul dengan Hifdhul Hurmah (menjaga kehormatan) pribadi sebagai muslim dan menjaga kehormatan organisasi yang bercirikan Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyah. Kehormatan organisasi tergantung pribadi-pribadi yang ada dalam organisasi. Jika mereka menjalankan organisasi dengan selalu menjaga kehormatan organisasi, tak mungkin ada salah berperilaku dalam menjalani aktifitas organisasi.

Khusnul Khidmah (pengabdian terbaik) merupakan wujud pribadi yang ingin mendedikasikan diri kepada jam’iyyah dan jama’ah. Bukan posisi apa dia berada, tapi dalam posisi apa pun, dia bisa mendidikasikan dirinya dalam pengabdian terbaiknya untuk NU.

Disusul dengan Rof’ul Himmah(memiliki cita-cita yang tinggi), seorang organisatoris memiliki target nyata dalam waktu capaian yang terukur. Cita-cita yang tinggi, adalah harapan yang akan diwujudkan oleh aktifis organisasi dengan berbagai analisa dan pertimbangan yang matang.

Dan terakhir, sikap yang harus dimiliki setiap penggerak organisasi adalah Nufudzul Adhimah (Tidak gampang mutung) atau bisa disebut tidak gampang baper. Orang yang gampang mutung/ceklekan, susah untuk mengaturnya. Segala sesuatu yang dimainkan adalah perasaan sehingga baperan dan mutung/purik.