Oleh: Dr. Ainur Rofiq Al Amin*

Terdapat redaksi ya ahlal wathon yang agak beda dengan biasa yang kita dengar dan baca. Redaksi tersebut saya rujuk dari dua buku karya KH. Choirul Anam (Cak Anam) yang berjudul “Pertumbuhan dan Perkembangan NU”, dan buku “KH. Wahab Chasbullah, Hidup dan Perjuangannya.” Lalu cak Anam mendapat riwayat syair tersebut dari siapa? Cak Anam mendapatkannya dari buku karya KH. Abdul Halim. Dalam wawancara saya dengan cak Anam pada 21 April 2017 mengatakan, syair ya ahlal wathan itu ada dalam buku riwayat hidup mbah Wahab dengan tulisan pegon yang disusun oleh KH. Abdul Halim. Beliau pendamping mbah Wahab saat mendirikan Nahdlatul Wathan hingga akhir hayat.

Dalam pengantar dari buku KH. Abdul Halim tersebut, terbit atas izin mbah Wahab dan sudah ditashhih beliau. Selanjutnya siapa KH. Abdul Halim? Cak Anam menjelaskan pada bukunya yang berjudul “Pertumbuhan dan Perkembangan NU” hal. 391, “Kiai Abdul Halim berasal dan Leuwimunding, Cirebon, Jawa Barat. Ia kemudian menetap di Surabaya, semenjak Kiai Wahab kembali dari menuntut ilmu di Makkah. Ia adalah murid, teman dan bahkan pendamping setia kiai Wahab, ketika kiai Wahab membuka kursus, Kiai Halim yang mengurus administrasinya. Dan dia pulalah yang membuat undangan para ulama untuk berkumpul di Kertopaten guna membicarakan delegasi komite Hijaz, 31 Januari 1926.”

Terus syair yang agak beda tersebut bagaimana redaksinya? Cak Anam menulis dalam buku “KH. Wahab Chasbullah, Hidup dan Perjuangannya” hal. 209-210, setiap hendak dimulai kegiatan belajar, para murid terlebih dahulu menyanyikan lagu perjuangan dalam bahasa Arab yang dibuat oleh kiai Wahab Chasbullah dalam bentuk syair seperti berikut ini.

يَا اهْلَ الْوَطَنْ يَا اهْلَ الْوَطَنْ يَا اهْلَ الْوَطَن حُبُّ الْوَطَنْ مِنَ الْإِيْمَانْ * حُبُّ الْوَطَنْ يَا اهْلَ الْوَطَنْ وَلَا تَكُنْ اهلَ الْحِرْمَانْ * إِنَّ الْكَمَالَ بِالْاعَماَلْ * وَلَيْسَ ذَلِكْ بِالْأَقْوَالْ فَاعْمَلْ تَنَلْ مَا فِيْ الْأَمَلْ * وَلَا تَكُنْ مَحض الْقَوَال ْ دنياكمو لَا لِلْمَقَرّ * وَإِنَّمَا هْيَ لِلْمَمَرّ فَاعْمَلْ بِمَا الْمَوْلَى أَمَرْ * وَلَا تَكُنْ بَقَرْ الزِمَار لَمْ تَعْلَمُوْا مَنْ دَوَّرُوْا * لَمْ تَعْقِلُوْا مَا غَيَّرُوْا أَيْنَ انْتِهَاء مَا سَيَّرُوْا * كَيْفَ انْتِهَاء مَا صَيَّرْوْا أَمْ ُْ همو فِيْهَ سَقَاكُمْ * إِلَى الْمَذَابِحْ ذَبْحَكُمْ أَمْ إِعْتَقوْكُمْ عُقْبَاكُمُ * أَمْ يُدِيْمُوْا اعبَاكُمُ يَا اهْلَ الْعُقُوْلِ السَّالَِمه * وَاهْلَ الْقُلُوْبِ العازمه كُوْنُوْا بِهِمَّه عَالِيهْ * وَلَا تَكُوْنُوْا كالسَائِمَه

“Hai patriot bangsa, hai patriot bangsa. Cinta tanah itu bagian dari iman Cintailah tanah air-mu, wahai patriot bangsa Janganlah kalian menjadi bangsa terjajah Sungguh kemuliaan itu hanya bisa dicapai dengan tindakan. Bukan hanya dengan kata-kata Maka berbuatlah untuk menggapai cita-cita Dan jangan cuma bicara Duniamu bukan tempat untuk menetap Tapi cuma tempat buat berlabuh. Maka berbuatlah sesuai yang Dia perintahkan Jangan mau jadi sapi perahan Kalian tak tahu siapa pemutar balik fakta. Kalian tak pikirkan apa yang telah berubah Di mana perjalanan akan berakhir Bagaimana peristiwa bisa berakhir Atau mereka memberimu minum, ternyata menggiringmu ke tempat penyembelihan, Atau mereka melepaskanmu dari beban Ataukah malah menenggelamkanmu dalam beban Hai, pemilik pikiran yang jernih. Hai, pemilik hati yang lembut Jadilah orang yang tinggi cita-cita Jangan jadi ternak gembala. Saya baru memperoleh buku karya KH. Abdul Halim dalam huruf pegon dari cucu beliau. Syair yang dinukil cak Anam sama persis (lihat Sejarah Perjuangan KH. Abdul Wahab hal. 9).

Selanjutnya bagaimana dengan syair yang sekarang sudah menjadi lagu “wajib” NU? KH. Yahya Cholil Tsaquf menulis bahwa Nusron Wahid dan Yaqut C. Qoumas sowan kepada Kyai Maimoen di Sarang, Rembang, untuk memohon ijazah lagu itu, dan didapatlah syair yang tak pernah beliau lupakan:

يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

“Pusaka hati wahai tanah airku Cintamu dalam imanku Jangan halangkan nasibmu Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negriku Engkau Panji Martabatku S’yapa datang mengancammu ‘Kan binasa di bawah dulimu!”

https://www.google.com.sg/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://teronggosong.com/2013/02/yaa-lal-wathan-lagu-patriotis-karya-kh-wahab-hasbullah/&ved=0ahUKEwiYnNnKqLTTAhUDN48KHdUQB5YQFggZMAA&usg=AFQjCNF0s8FqcwmALJmFP2s6tW6JT3Kl-Q&sig2=udIu0k1fLCNmD-tYYzzYQQ

Pada tanggal 21 April 2017, KH. Maimun Zubair datang ke Tambakberas. Selepas maghrib, saya dan gus Lathif dengan didengarkan beberapa tamu bertanya tentang syair yang dikutip oleh KH. Yahya Cholil Tsaquf di atas. Menurut mbah Mun, syair tersebut adalah yang beliau dengar, peroleh, dan nyanyikan saat masa mudanya di Rembang.

Saat majalah Aula bertanya kepada mbah Maimun Zubair dari siapa riwayat lagu itu, beliau menjawab, dari abahnya (yai Zubair), dan abahnya dari Mbah Wahab. Memang saat itu ayahnya mbah Mun (yai Zubair) dekat dengan mbah Wahab. Bahkan ketika NU jadi partai politik, salah satu kiai yang mendukung langkah mbah Wahab ini adalah kiai Zubair (Aula edisi edisi Nopember 2016 hal. 42).

Selanjutnya saya tunjukkan syair yang dari KH. Abdul Halim yang dimuat oleh cak Anam dalam bukunya di atas. Mbah Mun menjelaskan bahwa itu untuk tulisan kitab (mungkin maksud beliau bukan untuk dinyanyikan pen), kecuali yang beberapa bait yang awal. Selanjutnya mbah Mun memungkasi, “Pokoknya kalau ada wathonnya ya mbah Wahab.” Saya memahami maksudnya adalah bisa jadi itu redaksi atau teks lain yang pernah diajarkan mbah Wahab.

Walhasil, perbedaan redaksi syair tidak menjadikan pertentangan, karena substansinya sama tentang cinta tanah air, jadi justru memperluas khazanah. Kata cak Anam, “Gak apa apa beda redaksi, yang penting isinya sama, cinta tanah air, nasionalisme santri.” Atas itu semua, informasi di bawah ini bisa mempertemukan masalah di atas. KH. Mun’im DZ ketika ditanya gus Heru Nadjib pada tanggal 22 April 2017, beliau menjelaskan adanya perubahan syair ya ahlal wathan pada tahun 1934 yang dilakukan oleh mbah Wahab. Perubahan itu dipersiapkan sebagai lagu resmi Ansor. Informasi tersebut berdasar wawancara KH. Mun’im DZ dan timnya dengan mbah Umar Tumbu Pacitan, mbah Maimun Zubair, juga dengan kyai Sahal Mahfudz. Intinya, syair yang dari KH. Abdul Halim adalah yang pertama dicetuskan oleh mbah Wahab. Kemudian pada tahun 1934 mbah Wahab memodifikasi syair tersebut. Modifikasi itulah yang diamalkan Mbah Mun.

Catatan akhir, tulisan ini hanya berupaya menempatkan posisi syair mbah Wahab agar suatu saat tidak ada simpang siur sejarah tentang lagu tesebut. Pengalaman pribadi penulis, sewaktu saya baca buku cak Anam, dan kebetulan sampai pada halaman syair tersebut. Tanpa saya sadari anak saya yang kelas dua Madrasah Ibtidaiyah ikut nimbrung dan baca syair itu. Kemudian dia tanya kok tidak sama dengan yang biasa dinyanyikan.

*Penulis adalah dosen UIN Surabaya, tinggal di Jombang