Nama Nahdlatul Ulama (NU) yang berarti Kebangkitan Ulama sebagaimana yang diusulkan oleh KH. Mas Alwi dan selanjutnya dipilih oleh para kyai waktu itu, tiada lain hanya untuk mengingatkan kalau organisasi yang baru didirikan pada 1926 adalah untuk para santri yang ngaji dan menghormati perjuangan para ulama dan aulia’ yakni para Walisongo.

Namanya tidak muluk-muluk dan tidak segagah organisasi Islam lain yang pada waktu itu tumbuh bak jamur. NU, dengan demikian adalah basis perjuangan para kyai, santri dan pengikutnya yang memang mengikuti ajaran para ulama’. NU tidak langsung menisbatkan dirinya kepada Kanjeng Nabi atau sahabat atau bahkan langsung mengaku sebagai murid Nabi Muhammad langsung. Cukup, hanya dengan nama Nahdlatul Ulama, santri mengafirmasi dirinya sebagai pecinta ulama, pewaris para anbiya’.

Dalam anggaran dasarnya yang versi doeloe, ormas Islam bentukan para kiyai tradisional yang bervisi menyebarkan Islam ahlusunnah wal jamaah itu didirikan hingga 29 tahun ke depan. Ini pernah diungkap oleh Greg Barton kepada Gus Dur, menanyakan maksud “hingga 29 tahun” itu, namun Gus Dur hanya menjawab, “yang bikin sudah meninggal semua”.

Anehnya, menurut anggaran dasar paling awal, tidak ada masa aktif anggota bagi yang ikut dalam barisan jamaah NU. Walau dia sudah meninggal, ia tetap dianggap sebagai anggota NU. Ini yang membedakan dengan organisasi modern yang berdiri awal di Indonesia yang saat itu Indonesia sedang menuju kemerdekaan melawan penjajah.

Tiadanya batas masa habis anggota NU, jelas menunjukkan bahwa organisasi NU tidak hanya mengurus yang hidup saja. Yang sudah wafat pun, diruwat dan didoakan. Apalagi kalau orang NU tersebut posisinya jadi modin. Asalkan ikhlas orang NU yang jadi modin pasti ngrumati yang hidup dan yang mati. Oleh karenanya, jadi modin harus “diniati ngrumat umate Kanjeng Nabi sing urip lan sing mati”. Sehingga pekerjaanya berkah.

Menjadi modin adalah amalan mulia karena dia ngurus soal-soal manusia hidup dan mati. Secara teknis, Modin ada juga yang biasa membantu saat mencatat lahiran, nikahan, sunatan, kematian, hajatan dan lainnya. Dia mengurus umate kanjeng nabi Muhammad yang masih hidup dan mati. Ada yang bilang, orang Jawa itu sibuk dan kembali ingat Tuhan kalau dia lahiran, sunatan, nikahan dan sedih lalu mati.

Ada korelasi antara NU, modin dan warganya, yang kita ketahui tiap hari selalu membimbing orang untuk selalu ingat Allah SWT. Maka, wajar jika tidak ada habis masa anggota, walau menjadi pengurus struktural tetap ada aturannya. Mengurus umat kanjeng nabi Muhammad itu sampai kapan pun dan dimanapun. Tugas kultural NU memang di situ.

Mempertahankan jamiyah NU agar tidak hilang dari muka bumi, adalah perkara wajib karenanya. Mbah Hasyim pun dawuh, siapa yang mengurus NU diakui muridnya dan didoakan khusnul khatimah. Beliau tidak mendoakan berkah saja, tapi khusnul khatimah, lha khusnul khotimah ini maqomnya melebihi mati syahid versi teroris bro. Dan jaminan itu dilanjut dengan pesan mulia bahwa siapa saja yang mengurus NU tapi kok hidupnya susah tak berkecukupan, maka silakan tagih ke nisan almaghfurlah Mbah Kyai Ridwan Abdullah sang pencipta lambang NU. Sedemikian juga KH. Raden Asnawi Kudus yang menyampaikan” Barang siapa berkhidmat pada NU, saya jamin tidak mlarat, jika gak percaya, datangi saya, jika saya sudah meninggal, datangi makam saya.

Para masyayikh NU peduli betul dengan para santri dan warganya. Mbah Kyai Hasan Genggong sampai dawuh, siapa saja yang mengurus NU akan beruntung dunia akhirat. Doa para ulama itu tidak main-main. Hidup maupun mati, beliau-beliau ini mendoakan. Yang hidup didoakan beruntung, yang mati juga didoakan mendapat barokah.

Mereka bukan hanya berdoa, tapi juga tirakat, topo broto cegah nafsu. Mbah Kyai Arwani Kudus pernah menempuh tirakat puasa hingga 21 tahun lamanya (tanpa diketahui bahkan oleh putra-putra beliau) demi agar para santrinya di pesantren Yanbu’ul Qur’an betul-betul alim Al-Qur’an. Bahkan menjelang wafatnya, beliau dalam kondisi puasa.

Demi memberkati para santri, ulama zaman dulu menempuhnya dengan tirakat. Mbah Kyai Muhammadun Pondoan Pati pun sama. Entah tirakat beliau apa, pesan yang diberikan kepada para santrinya adalah, jika santri mau mondok maraton (tidak berstatus boyong) selama tiga tahun, dijamin akan menjadi tokoh yang dihormati dan ilmunya manfaat. Dan anehnya, jumlah santri beliau selalu 70, tidak kurang dan tidak lebih. Jika boyong satu, masuk satu lagi. Ini maziyyah (keistimewaan) para kyai dalam menjaga dan mendo’akan para santrinya. Semua santri Mbah Madun pun, jadi kyai semua. Masyallah.

Bagaimana dengan Mbah Hasyim yang punya jutaan murid di jamiyyah NU? Untuk menjaga agar NU eksis, selamat, langgeng ila yaumil qiyamah, beliau juga tirakat berat sepanjang hayat. Tiap malam Mbah Hasyim shalat hajat dua rakaat. Rakaat pertama, yang dibaca beliau adalah Surat at-Taubah 129 ayat) dan rakaat kedua, yang dibaca Surat al-Kahfi (110 ayat).

Kedua surat itu tidak dibaca tiga kali, tapi 41 kali. Itu dilakukan tiap malam. Jangan tanya berapa waktu yang diperlukan untuk membacanya, sambil shalat. Jika tidak pakai kacamata karamah, Anda tidak akan percaya. Lha wong membaca 1000 kali Fatihah saja butuh waktu 2,5 jam. Kita tidak akan mampu menirunya. Itu karomah.

Untuk siapa Mbah Hasyim melakukan tirakat dahsyat itu? Jelas bukan untuk santri Tebuireng saja, tapi seluruh muhibbin Nahdlatul Ulama (NU), anda, saya, kita semua. Ngece NU, apalagi menuduh NU komunis, liberal, Syi’ah, apakah At-Taubah dan Al-Kahfi nya Mbah Hasyim akan diam? tentu tidak, sebagaimana asma’ yang diberikan Syaikhona Kholil bangkalan kepada mbah Hasyim ya jabbar dan ya qohhar yang mengandung maksud, siapa yang berkhidmat untuk NU akan mulya hidupnya, barang siapa yang berniat buruk pada NU, akan hancur.

Oleh: Lakpesdam Tulungagung, dihimpun dari berbagai sumber.