Maraknya media sosial seakan menjadi lahan baru untuk berekspresi, kendatipun ekspresi tersebut kadang membawa petaka juga. Misalnya, postingan di media sosial ternyata berujung di hotel prodeo. Jika dahulu mulutmu harimau mu, hari ini bukan hanya mulut, tapi jempol yang menyentuh android juga termasuk kategori harimau yang jika salah penggunaanya, bisa berbahaya bagi pelakunya.

Marak sekali ujaran kebencian dan kebohongan beredar di media sosial. Apalagi mendekati momen politik pemilu 2019, dan kontestan pemilu 2019 juga menempatkan petahana sebagai calon peserta pemilu. Ada posisi saling melekat antara posisi bakal calon dan posisi penguasa atau pemimpin negeri. Disisi lain, antar pendukung juga berlomba mengekplorasi masing-masing yang didukungnya, bahkan menjelekkan lawannya.

Disinilah kadang kita lupa bahwa ada sisi etik yang hilang, yakni menghargai pemimpin yang juga penguasa negara. Simbolisasinya jika di Indonesia adalah presiden. Mau bagaimanapun, pak Jokowi masih presiden Indonesia, menghina beliau saat ini, sama halnya menghina simbol negara. Jika simbol negara kita hina, maka dimana harga diri sebagai bangsa?

Jika kita anggap, hinaan, cacian, dan umpatan kepada pemerintah adalah bentuk kritisisme kepada pemerintah, atau controling bagi pemerintah, bukankah ada mekanisme yang bisa ditempuh? Bukankah cara halus dan diplomatis masih bisa dilakukan? Bukankah kita bangsa yang beradab? Ingatlah bahwa:

ﻣَﻦْ ﺃَﻫَﺎﻥَ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥَ ﺃَﻫَﺎﻧَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﻗﺎﻝ : ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ
“Barang siapa yang menghina seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR al-Tirmidzi [2224]).

Semoga bencana yang menimpa Indonesia adalah teguran yang membuat kita sadar bahwa ada rasional, juga ada irasional. Ada nafsu ada juga wahyu, ada kehendak manusia ada juga kekuasaan Allah SWT. Bukankah Allah SWT memberikan akal untuk berfikir sehingga kita berakhlaq dan beradab?. Siapapun pilihan anda, minimal penghormatan pada pemimpin negara, janganlah ditinggalkan.

Ingatlah, bahwa hadirnya negara adalah sebagai harga diri dan identitas kebanggaan bagi kita. Jika kita sebagai bangsa Indonesia, masih bangga dengan menghina pemimpin kita, maka jangan harap kebesaran bangsa Indonesia akan terwujud. Jikalau pemimpin bangsa kita memiliki cacat ataupun kesalahan, maka lakukan teguran sesuai mekanisme yang ada.

Benarlah apa yang disampaikan Soekarno bahwa beliau berjuang melawan penjajah yang jelas-jelas bukan berkebangsaan yang sama dengan Soekarno, sehingga secara kasat mata, musuh yang dihadapi secara lahiriyah memang berbeda, dan kita berjuang mempertahankan keutuhan NKRI melawan sesama bangsa Indonesia yang terkontaminasi neokolonialisme, imperialisme (liberal) dan radikalisme agama.

Memanfaatkan media perlu kecerdasan jurnalistik, diawali dengan pertanyaan sederhana, apakah informasi yang kita dapatkan benar? jika ia, mana buktinya, jika ada bukti dan benar, tanyakan pada diri anda, apa manfaatnya kita ngeshare, jika bermanfaat, tanyakan pada diri kita, besar mana manfaat dan madlaratnya? Sehingga ada proses menjaring informasi, selanjutnya disaring dan jika sudah betul, ada bukti, dan bermanfaat, maka kita Share.

Jangan sampai kita sudah menghina pemimpin bangsa, cara yang dipakai kotor pula, lantas menyalahkan pemimpin dengan memfitnahnya. Kita adalah Indonesia, dan Indonesia adalah kita. Jika ada yang mempermasalahkan Indonesia bagaimana? maka Indonesia adalah kita, dan sejatinya sama halnya kita bertanya pada diri kita sendiri. Monggo mengkritisi pemerintah, tapi jangan menghina sesama bangsa Indonesia.