Menggenal Sosok Sayyid Muhammad Asad Shihab, dan karya beliau yg berjudul, “Allamah Muhammad Hasyim Asya’ari wadhiu Libinati Istiqlali Indonesia” atau “Mahaguru Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia“. 

Sayyid Muhammad Asad Shihab adalah 
seorang jurnalis Indonesia yang sangat produktif dan mengusai berbagai bahasa dunia, di antara salah satunya adalah bahasa Arab.

Karena pengusaannya yang sangat luar biasa dalam bahasa Arab, sehingga banyak dari karya-karya beliau yang ditulis dengan bahasa Arab, dengan gaya bahasa yang sangat indah, berbobot, padat dan berisi.
Satu hal yang menarik dari karya-karya beliau itu adalah bahwa hampir seluruh tulisan-tulisan beliau diterbitkan oleh penerbit kitab-kitab Bahasa Arab yang terkenal di dunia internasional seperti Penerbit Darul fikr Bairiut, sehingga dapat dengan mudah dan cepat menyebar kemana-mana, khususnya ke wilayah dunia Islam dan ke kawasan Timur Tengah. khususnya lagi karya-karya yang menguraikan tentang negeri Indoseia, para pajuangnya, berbagai peristiwa yang terjadi didalamnya dan lain sebagainya.

Di antara salah satu karya beliau yang monumental dan mengagumkan adalah buku beliau yg berjudul, “Allamah Muhammad Hasyim Asya’ari wadhiu Libinati Istiqlali Indonesia” atau dalam redaksi Bahasa Indonesia yg berarti, “Mahaguru Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia“. 
Karya tersebut telah dialih bahasakan ke dalam Bahasa Indonesia oleh KH. Mustofa. Bishri Rembang dan diterbitkan oleh sebuah Penerbitan Islam kota Gudeg Jogjakarta beberapa tahun yang lalu.


Sayyid Muhammad Asad Shihab benar-benar seorang penulis yang pandai menggali data, jernih melihat sekaligus cermat mencatat, terbukti dengan terwujudnya dari tangan beliau sebuah buku, yang dalam hemat saya sangat luar biasa dan monumental. 

Sebuah buku yang sangat penting untuk dibaca oleh generasi muda kita yang kian hari rasa-rasanya kian kabur sejarah.

Dalam buku tersebut terlukis dengan jelas betapa KH Hasyim Asy’ari adalah sosok ulama yang bukan saja fokus mendidik santrisantrinya, namun lebih dari itu. Ia juga menjadi garda depan pemikir utama masa depan bangsa dan negara. Ia pemegang teguh komitmen dalam berbangsa dan bernegara.
Komitmen kebangsaan dan kenegaraan itu tercermin dalam misalnya pernyataannya pada momentum Resolusi Jihad yang berbunyi ”berperang menolak dan melawan penjajah itoe fardloe ‘ain (jang harus dikerdjakan oleh tiap-tiap orang islam, laki-laki, perempoean, anakanak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 Km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. 
Bagi orang-orang jang berada di loear itoe djadi fadloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…”.

Diktum Resolusi Jihad yang kemudian menjelma menjadi pemompa semangat dan kenekatan perlawanan rakyat Indonesia yang didominasi sipil dan sebagian besar dari kalangan santri itu adalah karya agung progresif nan revolusioner yang lahir dari pikiran jernih dan hati yang suci dari ulamaulama dan kiai-kiai saat itu, 
termasuk di dalamnya adalah KH Hasyim Asy’ari yang kala itu masih menjabat sebagai Rais Akbar PBNU.

Penting untuk dicatat bahwa meletusnya pertempuran pada 26- 29 Oktober di Surabaya antara rakyat sipil dengan NICA pemicu utamanya adalah fatwa Jihad Fi Sabilillah yang dikeluarkan oleh ulamaulama NU yang diinisiasi oleh KH Hasyim Asy’ari. 
Fakta inilah yang tampaknya menjadi tesis utama yang digali oleh Muhammad Asad Shihab dalam merekam sepak terjang KH Hasyim Asy’ari. 
Wallahu alam.


Semoga betmanfaat.

Habib Muhdor Ahmad
Pemalang, 19 Agustus 2016 M.



Sumber : http://www.muslimoderat.net/2016/08/habib-muhammad-asad-shihab-penulis.html#ixzz4j0R1MrLz