Beberapa muslim belakangan ini banyak yang menolak untuk mengikuti madzhab dan bahkan memaksa orang lain untuk pula tidak bermadzhab, yang salah satu alasannya karena memang zaman sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang hidup di generasi terbaik umat Islam ini tidak bermadzhb dan memang tidak ada madzhab. Memang iya, para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. tidak bermadzhab. Akan tetapi tidak sesimpel itu untuk membuat alasan menolak madzhab fiqih. Alasan tersebut sangat rapuh karena tidak akan mampu menjelaskan apa manfaat dari madzhab sendiri.
Madzhab fiqih lahir sebagai peta jalan untuk memahami al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad s.a.w. Sebagai peta jalan yang menuntun kita agar tidak tersesat dalam memahami teks-teks syariah. Sebagai tangga yang menyampaikan kita kepada pemahaman al-Qur’an dan sunnah yang memang tinggi, dan tidak mungkin kita mencapainya tanpa tangga tersebut. Semua itu karena memang memahami al-Quran dan sunnah itu tidak semudah dan tidak sesimpel yang dibayangkan. Bukan hanya karena paham bahasa Arab lalu bisa menggali hukum dari 2 sumber utama tersebut.
Kalau memang memahami kedua sumber mulia itu hanya dengan bermodal bahasa Arab, tentu semua orang di negara-negara berbahasa Arab itu menjadi mujtahid. Tapi nyatanya tidak. Selain bahasa Arab, masih banyak ilmu-ilmu yang harus dikuasai sampai akhirnya bisa menduduki bangku mujtahid yang mana layak untuk menggali hukum dari al-Qur’an dan sunnah. Karena itulah kita membutuhkan tangga sebagai wasilah mencapai tujuan; yakni al-Qur’an dan Sunnah.
Kata ulama ushul; Lil-Wasail Hukmul-Maqashid, yang artinya wasilah itu hukumnya sama dengan hukum tujuannya”. Merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah itu wajib, akan tetapi sulit untuk mencapai keduanya kecuali ada peta jalan dan tangganya. Maka mendapatkan tangga itu menjadi wajib, karena tujuannya itu wajib. Dengan kesadaran diri atas ketidak mampuan dan kehati-hatian dalam beragama akan jatuh pada kekliruan. Maka bermadzhab itu menjadi sebuah keharusan.
Kalau menolak bermadzhab dan pingin kembali langsung kepada al-Qur’an dan sunnah, akan tetapi masih memahami makna teks al-Qur’an dari Qur’an terjemah yang dikeluarkan Departemen Agama atau penerbit lain; itu namanya bukan kembali ke al-Quran, itu namanya mengikuti Departemen Agama atau penerbit.
Lalu kalau menolak bermadzhab dan menghukumi sesuatu dengan hadits yang ada pada kitab shahih al-Bukhari atau ulama hadits lainnya. Itu namanya bukan kembali ke al-Quran dan sunnah, itu namanya mengikuti Imam al-Bukhari. Kalau memang mampu menggali hukum tanpa perantara madzhab, harus juga mampu memberi status hadits sendiri tanpa rujuakan manusia lain. Tidak al-Bukhari, tapi al-Albani, itu juga sama, mengikuti manusia namanya, bukan mengikuti al-Quran dan Sunnah.
Para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. tidak bermadzhab, Karena sumber syariah sudah ada di depan mata mereka, hidup bersama mereka, berdialog langsung dengan mereka. Lalu dimana kegunaan madzhab jika sumber itu sendiri sudah jelas depan mata? toh karena memang madzhab itu ada disebabkan rentan waktu yang berjarak ke masa Nabi s.a.w. dan kesulitan memahami teks-teks syariah yang ada. Zaman sahabat, mereka semua tianggal bertanya langsung kepada sumbernya.
Akan tetapi coba lihat bagaimana keadaan para sahabat setelah Nabi s.a.w. wafat, apakah semua mereka jadi ulama dan mujtahid? Tidak! Diantara mereka ada orang awamnya juga yang kemudian mereka itu bertanya tentang masalah-masalah agama yang bagi mereka masih membingungkan kepada tokoh-tokoh sahabat yang memang dikenal sebagai orang Alim dan dianggap paling mengerti terhadap wahyu juga maksud sabda Nabi Muhammad s.a.w. Ketika tokoh-tokoh sahabat (seperti 4 Khulafa al-Rasyidin, Ibn Masud, Ibn Abbas, Abdullah bin Zaid, Zaid bin Tsabit dll) itu ditanya tentang suatu masalah oleh Awam Sahabat, mereka langsung menjawab pertanyaan itu. Mereka tidak menolak pertanyaan tersebut dengan mengatakan: anda kan sahabat Nabi, hidup bersama dan mendengarkan wahyu, kalau begitu ijtihad saja sendiri!. Tidak! Tidak ada jawaban seperti itu.
Itu artinya memang awam-awam sahabat pun beragama dan beribadah melalui pemahaman tokoh-tokoh sahabat alim tersbut; karena memang sang awam sadar diri bahwa mereka tidak mengerti dan mereka juga punya tuntutan untuk menjaga ajaran agama ini dengan tidak sok-sok-an langsung berhukum tanpa merujuk kepada para tokoh-tokoh sahabat itu. Dengan kata lain, tokoh-tokoh itulah jalan (madzhab) para awam. Dan apa yang dilakukan oleh awam sahabat tersebut, sama seperti yang kita lakukan saat ini ketika beribadah dengan jalan (madzhab) ulama-ulama dan imam-imam madzhab mulia tersebut.
Dan karena memang mereka mengambil jalan beribadah itu melalui para tokoh-tokoh sahabat tersebut, sudah barang tentu perbedaan menjadi sesuatu yang niscaya terjadi. Dan itu yang kita saksikan, bahwa di kalangan sahabatpun ada perbedaan. Tapi dahsyatnya, perbedaan itu tidak membuat sahabat satu sama lain saling menuding dan menunjuk hidung sahabat lain bahwa kesalahan ada pada tertunjuk. Tidak! semua aman dan mesra. Dan itu juga yang akhirnya diwariskan kepada ulama-ulama madzhab yang ada, sehingga tidak pernah kita saksikan ada permusuhan antara ulama madzhab walaupun ada perbedaan diantara mereka.
Sebagai tambahan; kalau saja kita tidak perlu bermadzhab atau tidak perlu melewati jalan dan tangga yang valid, dan kita yang awam ini diminta untuk menggali hukum langsung dari al-Quran dan sunnah,(langsung berijtihad), tentu ijtihadnya awam-awam di generasi terbaik, apalagi sahabat, ijtihad itu yang mestinya sangat layak kita jalankan. Dan apakah kita akan menjalankan ijtihad salah seorang sahabat Nabi yang pada sebuah kasus tidak memberikan keringanan bagi orang junub yang sakit untuk harus mandi janabah sehingga salah seorang diantaranya wafat karena harus mandi janabah. Ataukah kita bertayammum dengan berguling-guling tanah sebagaimana itu dilakukan oleh sahabat yang junub namun tidak menemukan air? Ini masih satu kasus, belum kasus yang jumlahnya ribuan. 
Wallahu a’lam.(dirangkum dari berbagai sumber)