Minder atau tidak yakin terhadap potensi NU adalah upaya lawan-lawan NU untuk melemahkan NU. Propaganda ini sengaja dihembuskan dalam rangka memecah belah keutuhan jama’ah dan jam’iyah. Karena jika sifat minder ini sudah mendominasi, maka mereka akan berangsur-angsur terkikis secara perlahan tapi pasti.

Sehingga berawal dari bagaimana minder disebut NU, minder memasang atribut NU, sampai minder berteman dengan orang NU. Memang inilah tujuan yang ingin dicapai oleh musuh-musuh NU. Jika NU sudah minder ber NU, maka musuh NU akan menggilas dan mengganti ideologi Aswaja dengan ideologi mereka, dan akan mengarah bagaimana mengganti ideologi negara dengan yang disebut ideologi khilafah, liberal, atau syari’ah.

Lantas jika ditanya, apa jeleknya Khilafah yang diusung musuh-musuh NU? Pertama secara sistem, Khilafah belum punya fondasi sistemik, buktinya di Yordania negara asal faham ini berdiri, pengusung Khilafah justru dihabisi dan dilarang keberadaannya. Kedua, konsep kekhilafahan yang diinginkan seperti model kekholifahan siapa?itu pun belum jelas, apakah menurut ke kholifahan Ustmaniyah, Abasiyah, atau meniru ke kholifahan Khulafa’urrosyidin? Atau model kepemimpinan Rosulullah? Lantas? Kalau meniru model kekholifahan masa Rosulullah, maka perlu diperjelas apakah Rosulullah disaat berda di Makkah atau di Madinah?ketiga, jika memang khilafah mengharuskan syari’ah Islam kepada penduduk dan sistem bernegara sebagai solusi seluruh permasalah, bagaimanakah mereka menyatukan yang diluar Islam dengan sebaran diberbagai kepulauan?apakah dibebaskan dan terlepas dari NKRI?tentu tidak, mereka pengusung khilafah ini pasti memerangi orang yang berada di kepulauan dan tidak beragama Islam. dan  keempat, kesalahan pengusung khilafah di Indonesia adalah, mereka menyebut demokrasi sebagai Thogut padahal mereka menikmati dan berada di Indonesia, sungguh mereka ini kelewatan dan melampaui batas.

Dari paparan di atas tampaklah konsep khilafah ini bak harapan semu yang diusung orang-orang yang uthopis, faktanya apa? Silahkan lihat, dimana pusat gerakan mereka pengusung khilafah ini? Ya, di London. Gerakan mereka hari ini dilindungi dan dipusatkan di London, apakah ini akan dinamai Khilafah Londoniyah? Lantas kesyari’ahan London itu dimana Bro? Inilah kelemahan para pengusung khilafah yangbtidak mampu berfikir waras dalam dunia nyata.

Mengusung konsep khilafah di wilayah NKRI ini, ibarat kita sudah berada di meja makan dan sudah berdo’a hendak makan, tapi menu makanan belum ada dan masih dicari resep, bahkan bahan-bahan masakan tersebut juga masih diracik, yang mana kita sudah lama sekali menunggu makanan yang mereka janjikan, tapi juga tak kunjung datang menu dan masakan yang dijanjikan. Malah akhirnya kita yang di janjikan menu tadi, diminta untuk berdo’a agar menu tersebut cepat tersedia. Lha wong menunya jenis apa, mereka tidak tahu, kok kita disuruh nunggu? Sampean waras tha?.

Maka saat ini, NU harus mampu mengatasi keminderan dalam ber NU dengan mewujudkan kemandirian. Bagaimana kebesaran jumlah NU harus mampu dimaksimalkan dengan wujud kemandirian seperti awal NU berdiri. Rasa kepemilikan dan tanggungjawab ber NU, harus ditumbuhkan dan disadarkan. 

Jika berkeyakinan ASWAJA sudah cukup, saya yakin mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisyri dan para Mu’asis NU, tidaklah mungkin mendirikan NU, karena menjaga ASWAJA dan menyebarkan ASWAJA beliau-beliau cukup dengan ngaji, dakwah, madrasah di Pondok Pesantren, tapi nyatanya tidak, beliau-beliau masih sempat mengurus organisasi yang bernama NU.

Jadi khusus bagi orangbyang mengatakan”saya yang penting Tahlil, Yasinan, Sholawatan gak perlu ber NU lak wis NU?” pertanyaan saya bagi para saudara yang sedemikian, memang sampean sudah lebih ASWAJA dari mbah Hasyim, mbah Wahab, mbah Bisri ya? Monggo masuk ber NU sebagai organisasi yang Berfaham ASWAJA dengan prinsip Tawasuth, Ta’adul, Tawazun, Tasamuh, dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.