Bangsa Indonesia terkenal dengan sebutan bangsa yang memiliki adat ketimuran. Bukan tanpa alasan, predikat ini disematkan karena bangsa Indonesia terkenal ramah, sopan, suka menolong dan mudah bergaul.

Setiap bertemu sesama, selalu tersenyum sebagai bahasa keakraban dan persaudaraan. Semangat kebersamaan dan gorong royong menjadi dasar utama dalam aspek kehidupan bermasyarakat. Tetapi itu dahulu, dan sekarang tak seberapa banyak yang faham dengan tradisi ketimuran tersebut.

Pernah dalam sebuah kejadian tawuran antar kampung, saat korban berjatuhan diantara kedua pihak, setelah tawuran selesai, pihak keamanan melakukan penelisikan penyebab tawruran tersut. Ternyata, hanya gegara adu pandang mata yang dimaknai nantang duel, ironi sekali.

Saat tetangga atau saudara punya hajat membangun rumah, para saudara dan tetangga saling membantu bergotong royong sampai ada yang membawa bahan makanan mentah dan nyumbang sekedarnya. Tapi saat ini, hanya tinggal segelintir kecil kelompok yang mau bergotong royong dan menerima kemajemukan dalam kehidupan.

Tanpa disuruh pun, dahulu anak-anak kecil saat bertemu orang yang lebih senior atau lebih sepuh, mereka pasti salim dengan mencium tangan tanda penghormatan. Hari ini, banyak anak muda yang “slonong boy” (tidak ngerti tata krama).

Padahal dahulu mata pelajaran juga tidak berbunyi budi pekerti seperti nama mata pelajaran zaman now, tapi keteladanan dari para guru, sesepuh dan tokoh masyarakat begitu nyata di depan mata.

Inilah perbedaan yang terjadi dan menganga lebar di masyarakat. Hilangnya panutan dan keteladanan akhlaq menyebabkan merosotnya kualitas generasi bangsa, dari generasi yang ramah menjadi pemarah, dari generasi gemar bergotong royong berubah menjadi makhuk yang sombong, dari generasi universal menjadi generasi individual yang semau gue atau dak karepe udele dewe.

Masih segar dalam ingatan kita, kejadian bencana tsunami dan gempa di Palu dan Dongala Sulawesi Tengah, betapa kita bersedih dan prihatin dengan musibah yang menimpa saudara kita disana. Ternyata kemarin pagi, beredar kabar penjarahan toko dan rumah warga yang masih selamat dari bencana. Anehnya yang dijarah bukanlah bahan makanan saja, tapi bahan elektronik seperti TV LED, HP, Bahan Bakar, dan barang-barang berharga lainnya.

Misalnya yang dijarah makanan atau air bersih, mungkin toleransi kewajaran masih diberlakukan, tapi kalau yang dijarah adalah barang elektronik, berarti meraka memang asli berprofesi maling dari sebelumnya. Akhlaq mereka sudah tidak mencerminkan budaya bangsa Indonesia, bangsa yang santun, peduli dan bergotong royong. Mereka tidak sadar bahwa mereka diberikan keselamatan dan kesempatan hidup untuk memperbaiki diri. Mereka lupa bahwa ada duka saudara kita diantara mereka.

Nalar waras pun juga tidak akan tega melihat kondisi mayat bergelimpangan, lantas ada yang menggunakan naluri kebinatangannya menjarah barang yang bukan menjadi kebutuhan pokok mereka. Apakah sebegitu kebal urat nadi malu yang kau miliki sehingga peringatan di depan matamu tak mampu menyentuh hati dan perasaanmu untuk berbela sungkawa?.

Semoga para penjarah yang dengan buas dan membabi buta menari di atas penderitaan saudaranya, segera diberikan kesadaran dengan dibukakan pintu hati mereka dan disambungkan urat nadi rasa malunya dengan menghentikan perilaku kebinatanganya. Ingat, kita adalah Indonesia, Kita adalah sama, Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa, Indonesia.
#SavePalu
#SaveDonggala
#IndonesiaJaya