Sungguh sangat menggembirakan hati, bahwa hari-hari pertama daripada Republik Indonesia Serikat, sebagai bentuk yang dianggap sah daripada Kemerdekaan rakyat Indonesia yang telah dicapai tanggal 17 Agustus 1945, jatuh pada hari-hari dari dua pemimpin dunia yang sangta kenamaan, yaitu Nabi Muhammad SAW, pembawa ajaran ajaran-ajaran al Quran dan syariat, serta Nabi Isa A.S pembawa ajaran-ajaran Injil dan Syariat Nasranai.

Jarang terjadi dalam perhitungan tahun, bahwa dua peristiwa berlaku dalam masa berdekatan, yaitu hari lahir suatu negara dengan hari lahir seorang nabi Allah SWT. Tetapi lebih jarang lagi terjadi, hari lahir sebuah negara berada pada dua hari lahir nabi pesuruh Allah seperti hari lahir Republik Indonesia Serikat ini.

Disini pemeliharaan Allah sangatlah besar dalam menentukan sesuatu yang mengandung arti besar sekali. Berkenaan dengan ini, adalah menjadi kewajiban kita bangsa Indonesia seluruhnya untuk bersyukur kepada Allah SWT. Dengan memenuhi tuntutan iman kita masing-masing, bagi pihak Nasrani dengan mengikuti ajaran-ajaran Nabi Isa bin Maryam A.S dengan sebenar-benarnya; dan bagi pihak Islam, dengan memenuhi peraturan-peraturan yang diberikan oleh syariat Nabi Muhammad SAW dengan semestinya.

Malam peringatan Maulid( Hari lahir Nabi Muhammad SAW) ini adalah penting sekali, bagi pemeluk-pemeluk syariat Islam, tetapi pun bagi penganut agama Nasrani. Bukankah nabi Muhammad SAW itu yang menegakkan pengakuan pada Nabi Isa bin Maryam A.S sebagai pesuruh Allah SWT? Oleh orang yang hidup di zaman beliau, yaitu orang-orang Yahudi, Nabi Isa bin Maryam digambarkan sebagai sosok yang jahat, berkelakuan buruk dan dari keturunan yang tidak baik. Tetapi oleh nabi Muhammad, beliau diakui sebagai pesuruh Allah yang mulia. Walaupun pada waktu kepentingan umat Islam dan penganut penganut Nabi Isa bin Maryam A.S bertentangan, Nabi Muhammad tidak kehilangan pertimbangan yang adil, dan mengakui kebenaran sebagai hakikat yang harus dipertahankan.

Pertimbangan yang adil, baik diwaktu kepentingan golongan sendiri terdesak, maupun diwaktu biasa, diajarkan dijalan oleh Nabi Muhammad SAW antara lain dengan ucapannya Tolonglah saudaramu, baik dia merusakkan hak orang lain maupun dirusakkan haknya oleh orag lain seorang pengikut beliau bertanya Bagaimanakah kami menolong saudara kami yang merusak hak orang lain? Belia menjawab Ialah dengan mencegahnya berbuat aniaya dan merusak hak orang lain, sikap jujur walaupun merugikan diri-sendiri diajarkan dan dijalankan oleh Rasulullah. Olhkarenanya sikap memenangkan diri- sendiri secara tidak jujur, itulah pangkal dari segala kekacauan masyarakat. Bahkan hal itulah yang menjadi sebab kebakaran dunia.

Sikap jujur walupun dengan merugikan diri sendiri memang seringkali tanmpaknya menunjukkan kelemahan. Itulah sebabny asikapitu tidak di sukaioleh banyak orang. Sebab tabiat manusia itu, ingin senantiasa tampak kuat, tetapi sejak 1.400 tahun lebih, sejak Nabi Muhammad SAW dilahirkan hingga sekarang, kejujuran mutlak itu merupakan dasar kuat yang tidak dapat dikalahkan. Berkali-kali orang menyerang Islam, tetapi berkali-kali pula serangan itu kandas karena sikap jujur yang mutlak itu.

Memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW bukanlah sekedar memperingati hari lahir seorang Nabi biasa, yang membawa perintah tentang tata cara beribadah kepada Allah semata-mata. Akan tetapi, Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW berarti memperingati hari lahir seorang pemimpin yang dpat mengubah keadaan bangsanya dari sejumput kecil suku-suku yang senantiasa berperang satu lawan yang lainnya sepanjangratusn tahun, menjadi bangsa yang besar dan bangsa yang agung( Imperium) meliputi hanmpir seluruh dunia di waktu itu, dalam masa seperempat abad lamanya. Suatu bangsa yang agung yang mampu menghilangkan perbedaan bangsa( Rasdiscriminatie), hingga bekas budak menjadi gubernur, hakim, dan panglima tentara.

Nabi Muhammad SAW yang kita peringati sekarang, bukan semata-mata karena beliau Nabi pesuruh Allah SWT, melainkan juga karena beliau seorang pemimpin yang cakap dan dapat menyatukan tenaga bangsanya dengan ketinggian budinya, hingga orang-orang yang tadinya adalah lawannya yang paling keras, dapat berbalik menjadi pembantunnya yang taat dan suka berkorban jiwa untuk kepentingan cita-cita yang dibawanya. Ketika beliau mendapat kemenangan akhir yang memuaskan dengan dikuasainya kota Makkah setelah sekitar 10 tahun ditinggalkan, maka dikumpulkanlah para pimpinan lawan disebuah tempat dan ditanya Cobalah pikirkan, apakah yang akan ku kerjakan terhadap tuan-tuan semua? Tentu tindakan yang baik, kami mengenal Tuan adalah orang baik, dari keturunan baik, dan saudara yang baik jawab para pimpinan lawan. Nabi Muhammad SAW lalu mengambil keputusan Pulanglah Tuan-Tuan sekalian, Tuan bebas dari segala tuntutan.  Setelah kemenangan 100% tercapai, dengan kekuasaan penuh ditangan beliau, tidaklah beliau membuat tuntutan-tunutan sebagai penjahat perang atau lainnya, tetapi beliau memberi ampunan kepada bekas lawan-lawannya.

Diwaktu hampir tiap-tiap orang mempunyai pendirian hidup yang di dasarkan pada keadaan semata-mata, yang akibatnya ialah tiap-tiap orang menempatkan dirinya terhadap orang lain sebagai lawan dan musuhnya seperti waktu-waktu sekarang ini peringatan yang mengandung ajaran ketinggian budi pekerti sangat penting sekali. Sebab usaha akan menyelesaikan kesulitan-kesulitan hidup berdasarkan atas filsafat permusuhan tiap orang terhadap orangnya, telah menjadikan kesulitan-kesulitan itu lebih besar lagi dari sebelumnya yang telah terselesaikan. Dan akhirnya ternyatalah bahwa manusia kini, ingin kembali pada filsafat yang diajarkan Nabi Muhammad, SAW, bahwasannya Manusia itu adalah saudara sesama manusia, baik dia suka maupun tidak suka.

Maka dengan penghargaan tinggi pada belia Nabi Muhammad SAW dan keyakinan akan kepentingan cita-cita persaudaraanmanusia yang dibawa olehnya, Kami Membuka Perayan Maulid Nabi Muhammad SAW pada malam ini.

Naskah diatas adalah sambutan pembuka yang disampaikan oleh K. H. Abdul Wahid Hasyim pada acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada awal kemerdekaan Indonesia. Sengaja Naskah tersebut kami tulis ulang secara utuh agar tidak terkurangi subtansi pidato tersebut sebagaimana tertulis di buku Mengapa Saya Memilih NU yang diterbitkan 8 Juni 2011 dengan bertepatan peringatan 1 Abad mengenang K.H Abdul Wahid Hasyim.

Pada Pidato tersebut jelas kita diajak untuk berfikir jernih bahwasanya Hari Lahir Republik Indonesia tanpa kita atur, berada pada hari yang merupakan berdekatan antara Hari Lahir Nabi Muhammad SAW dan Hari Lahir Nabi Isa bin Maryam A.S, ada pesan yang disampaikan K.H Abdul Wahid Hasyim melalui ulasan ini yaitu:  Wujud Syukur kepada Allah atas limpahan Taufiq dan Hidayahnya kepada Bangsa Indonesia atas anugrah kemerdekaan adalah dengan mewujudkan perdamaian dalam bingkai persaudaraan walaupun dalam perbedaan. Serta persaudaraan dan persatuan tersebut dapat dibingkai dalam kejujuran sebagaimana yang harus kita teladani dari Rasulullah Muhammad SAW.

Disisi lain K.H Abdul Wahid Hasyim menyampaikan nilai kebhinekaan dalam bingkai ke Indonesiaan haruslah di dasari pada menjaga keutuhan Bangsa yang beradab, karena anugrah Allah tidak turun begitu saja sehingga Indonesia Merdeka. Nilai Spiritualitas harus tetap dikedepankan dalam menjalankan seluruh rangkaian berbangsa, berdaulat, berkeadilan dan dalam mewujudkan kemakmuran. Yang pada akhirnya beliau menarik pada contoh ideal keteladanan yang sudah dijalankan dan di amalkan oleh Rosulullah Muammad SAW yang mampu mewujudkan negara yang adil, makmur dan damai dalaim keberagaman yang sering kita sebut dewasa ini dengan kalimat  Masyarakat Madani. Sikap kenegarawanan dan religiusitas yang dimiliki K.H Abdul Wahid Hasyim AsyAri yang sulit dicari penerusnya dalam birokrasi pemerintah sekarang, tetapi bukan berarti tidak ada, butuh waktu dan kesempatan mengobati kerinduan akan sosok yang menyejukkan, sosok negarawan yang tidak sekedar pinter, tapi juga bener dan mbeneh terhadap kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.