Keterangan Foto: “Tengah bercelana”Hasan Gipo”Tanfidziyah NU Pertama.Dibawah foto ada tulisan Ta’miroel Massajid, sebuah sayap organisasi bentukan Hasan Gipo bersama Kyai Wahab Hasbullah untuk melindungi Masjid dari penguasaan oleh Islam modernis yang menyerang ke Jantung Islam Tradisi”.

Membuka sejarah adalah hal yang sering dilakukan masa sekarang untuk mengetahui masa lalu dan membidik masa depan. Dalam tataran normatif, justru terjadi berbagai versi dalam mencari subtansi sejarah yang orisinil( he he he “sudah subtansi masih dibubui orisinil”).

Kadang juga lembaran sejarah yang dibuka justru membuat lebam karena membuka jejak yang lama terkubur untuk tidak diingat. Tapi itulah fakta yang perlu digali dari sejarah. Sebuah estafet kepemimpinan tidak akan mampu merumuskan visi yang briliant tanpa mengetahui otentisitas history dari pendahulunya. 

Berbicara sejarah di NU banyak nama dan kejadian yang tidak diketahui generasi sekarang, bukan karena tidak ada referensi bacaan yang memuat para tokoh NU, tapi karena ketidak fahaman generasi sekarang betapa pentingnya kajian sejarah dikalangan tokoh NU sendiri atau karena pengaruh ketidak yakinan generasi sekarang terhadap kehebatan para tokoh NU sendiri.

Kedua hal diatas terjadi bukan karena ketidak sengajaan, tapi keduanya sengaja diciptakan supaya jama’ah NU dapat dipisahkan dari tradisi dan sanad organisasi. Celakanya, hal ini tidak disadari sebagai ancaman yang justru tumbuh subur diinternal organisasi, yang akhirnya mempengaruhi generasi berikutnya dan berujung pada lahirnya generasi a historis ke NU annya.

Coba kita uji dengan angket khusus pengurus PCNU saja, mulai dari siapa ketua Tanfidziyah NU yang mendampingi Kyai Hasyim Asy’ari? Atau siapa sosok KH Mustahal Ahmad? Siapa Subhan ZE?. Ini masih seputar tokoh kunci, belum sampai pada hal ndlimet semisal “Sanad Pondok Pesantren? Sanad keilmuan, atau sampai kemandirian yang dibangun para pendiri NU.

Memang roda perubahan terus bergulir dan tidak bisa dibendung, tetapi mengetahui otentisitas historis adalah modal awal untuk menentukan apa yang dilakukan sekarang dan masa depan. Sehingga standart ukurannya jelas, dan lompatan yang dilakukan masih dalam rel organisasi.

Otokritik ini bukan dalam rangka penyeragaman pendapat, tapi lebih kepada berusaha menampilkan ruang kosong yang perlu diisi dan ditutup demi kejayaan NU. Sekali lagi bersikap dalam berbagai perbedaan perlu kita biasakan.