Pemimpin adalah orang yang dikagumi oleh orang lain atau bawahan atau pengikut, sehingga ada kecenderungan apa yang dilakukan dan dimilikinya cenderung diikuti sebagai trend dan ditiru. Pendapat ini lahir dari dua paradigma kepemimpinan, pertama aliran yang melihat kepemimpinan berdasar sifat dengan mengedepankan pada konsep pemikiran yang kedua, kepemimpinan yang melihat keberhasilan kepemimpinan ditentukan oleh perilaku pemimpin.

Walaupun dalam berbagai kajian, kepemimpinan juga bisa dikaji dari sudut pandang proses, yang mendefinisikan bahwa kepemimpinan adalah rangkaian proses interaksi antara bawahan (pengikut) dan atasan (pemimpin) yang di dalam interaksi tersebut terkandung pola pikir (paradigma), komitmen dan perilaku. Satu hal yang perlu diingat, kepemimpinan sebagai suatu proses selalu terjadi dalam situasi.

Esensi kepemimpinan adalah kepengikutan yaitu bahwa penyebab seseorang diterima sebagai pemimpin, jika ada orang lain yang menjadi anak buahnya(pengikutnya). Sehingga dalam perjalanan mendefinisikan apa kepemimpinan? Lahirlah definisi bahwa kepemimpinan adalah seni atau proses mempengaruhi orang lain sedemikian rupa, sehingga mereka mau melakukan usaha dalam mencapai tujuan kelompok.

Konsep melakukan usaha yang dimaksud adalah bekerja disertai dengan semangat penuh kepercayaan diri untuk berhasil. Karena ini bagian dari niat seseorang menjalankan sebuah rangkaian kerja. Butuh optimisme yang tinggi dan ditunjang dengan proses yang rasional dan terukur.

Ada tiga komponen utama dalam kepemimpinan, pertama: sosok pribadi pemimpin yang bisa dilihat dari pola pikir, sikap atau disebut paradigma dan komitmen. Jika pola pikir pemimpin cenderung skeptis dan psimis, maka bisa ditebak, komando tidak akan berjalan, bahkan tujuan pun tidak akan jelas. Bahaya kalau memilih pemimpin yang psimis dan skeptis, yang keluar dari mulutnya hanya kecemasan, keragu-raguan, bahkan ketidak dewasaan memberikan teladan. Oleh karenanya, pemimpin harus optimis dari sejak berpikir, bertindak, dan memberikan teladan.

Komponen kedua: perilaku pemimpin, hal ini bisa kita lihat dari proses interkasi. Secara garis besar, perilaku pemimpin yang dimaksud adalah, sejauh mana kemampuan pemimpin melibatkan pengikutnya(anak buahnya) dalam pengambilan keputusan. Perilaku pemimpin yang baik bukanlah sekedar tampak wibawa tapi diktator dalam menjalankan kepemimpinan. Semua proses kerja kepemimpinan tidak lebih sekedar sosialisasi untuk warga yang dipimpinnya.

Ketiga: Situasi, dimana lingkungan (environment) kerja sangat berpengaruh terhadap kepemimpinan. Seorang pemimpin yang baik sekalipun, jika lingkungan kerja dan manusia disampingnya adalah orang-orang yang menghayal dan pembual, maka situasi kepemimpinan harmonis tidak akan tercipta.

Jadi, peran utama kepemimpinan adalah mengajak atau meyakinkan seluruh pengikutnya untuk mau memberikan kontribusi bagi tercapainya tujuan organisasi dengan kemampuan maksimal mereka yang bersumber pada pola pikir, sikap dan perilakunya.

Dari beberapa pendapat diatas, maka kita bisa memotret bagaimana pemimpin yang ideal bagi bangsa Indonesia yang nanti 17 April 2019 menggelar hajatan akbar Pemilu serentak Presiden dan wakil presiden, serta pemilu legeslatif. Memang tak ada yang sempurna dalam segalanya, tapi masih ada pilihan terbaik diantara yang jelek.

Kita lupa bahwa komponen kepemimpinan yang tiga hal diatas belum terurai secara gamblang dalam membedah masing-masing calon pemimpin yang akan mengikuti kontestasi pemilu 2019. Kita terjebak dalam dialog isue yang tak bersinggungan dengan kepemimpinan dengan bungkus politik berisi isu agama, persis dengan kejadian kata “hot dog” bagi orang yang fanatik pada kalimat bahasa tanpa melihat subtansinya. Mereka memberikan justifikasi hot dog haram karena hot artinya panas/pedas, dog artinya anjing, padahal hot dog adalah roti tawar yang dibakar dan di dalamnya ada sosis daging dan selada segar dan bumbu sesuai keinginan.

Dengan lepasnya konteks mengurai tiga komponen kepemimpinan di atas, maka kita tak melihat diskusi cerdas membahas program dan gagasan membangun Indonesia ke depan, yang ada hanya caci maki dan hoax berbalas tanpa batas. Wajar jika kontestasi mencari dan memilih pemimpin menjadi ajang kontes kegoblokan dan adu kuat paket data internet. Wajar saja jika seolah-olah antara pemimpin yang kita cari dan pemimpi seakan sama. Padahal kita mencari dan memilih pemimpin yang mampu menahkodai Indonesia yang berdaulat adil dan makmur, bukan sedang mencari pemimpi yang kerjaannya lebih besar berkhayal, mengumbar hoax, menakut-nakuti calon pengikutnya, atau sekedar ngoceh yang tak sedap dan membuat telinga panas.