Didasari atas sebuah pertanyaan, mengapa ada istilah membangkitkan semangat ber NU? Jawabnya adalah karena semangat inilah yang menjadikan niat dan tujuan bisa tersambungkan. Semangat ber NU  yang dimaksud adalah semangat berkhidmad pada NU di semua jajaran mulai ranting NU sampai PBNU. 

Makna berkhidmad di NU adalah mengabdikan diri kepada NU sesuai kemampuan dan bidang masing-masing dengan ketentuan tidak melanggar aturan Syar’i, organisasi NU dan aturan negara kesatuan republik Indonesia. Misalnya ada seorang petani, bentuk khidmadnya adalah mewujudkan pertanian yang unggul dan mampu menjawab kebutuhan pangan bagi warga NU dan warga negara Indonesia pada umumnya. Tentunya tetap dengan menjaga norma-norma yang berlaku. 

Begitu pula khidmad kepada NU yang dilakukan seorang guru atau dosen adalah dengan mengajar dan mendidik anak didik dan mahasiswa agar menjadi tahu dan berilmu serta memiliki akhlaqul karimah. Sedangkan pengabdian seorang pejabat adalah dengan menjadi pejabat yang berdedikasi memberikan manfaat bagi masyarakat dan khususnya pada NU. Bukan menjadikan NU sebagai pijakan untuk melompat demi kenaikan jabatan atau demi bumper kepentingan pribadi.

Keyakinan dan semangat ber NU bukan menjadi over convident yang menjadikan Ta’asub. Tapi untuk membangun awarning system( sistem peringatan dini) yang berdasar pada kesadarana pengabdian yang tulus kepada NU yang didirikan oleh muasis NU. Jadi bukan untuk sentimen kepada sesama warga NU karena beda pilihan saat Konferensi Periodik dan Muktamar.

Perbedaan pendapat di NU sudah menjadi kewajaran, yang perlu dijelaskan adalah, walaupun ada perbedaan di NU, bukan berarti tidak loyal kepada struktur yang memegang kendali organisasi atau bahkan membuat NU tandingan. Ingat bahwa Hizb yang disampaikan Syaikhona Kholil Bangkalan melalui Gus As’ad Syamsul Arifin (karena saat itu beliau masih muda) kepada Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari pada awal berdirinya NU adalah Ya Jabbar (yang Maha menguasai segala yang berkehendak) mempunyai dua implikasi kedalam dan keluar, Siapa yang Ngrumat NU bakal Mulyo dan Siapa yang berani pada NU bakal celaka. Sedangkan Hizb yang satunya adalah Ya Qohhar (yang Maha Perkasa), ini memiliki implikasi keluar, maksudnya adalah, siapa pun yang bermaksud menyerang NU pasti hancur. Lha kalau gak percaya, silahkan dicoba.

Jadi ketika ada ketidak cocokan antara pengurus NU, bukan malah menyerang lembaga NU nya. Tapi muhasabah dan duduk bersama untuk mencari solusi di internal lembaga, bukan pula malah membawa masalah internal NU keluar lembaga NU, ini namanya ngawur. Sama dengan kejadian kebakaran di sebuah rumah, api masih berada di ruang tamu dan belum menjalar, maka yang kita siram air dan perlu untuk dipadamkan adalah api dirumah yang kebakaran dan khusus ruang tamu, bukan malah nyiram halaman rumah orang yang di seberang jalan yang tidak kenapa-napa.

Banyak kalangan NU yang justru saat media sosial begitu terbuka khususnya lewat WA group, malah termakan hasutan propaganda kelompok yang lain misalnya berucap demikian” NU harusnya belajar pada FPI dan HTI dalam mengorganisir masa”. Saya nyebut jika orang NU yang bilang demikian itu dengan sebutan Ahmaq( Pekok) alias bodoh yang bertumpuk. Alasanya apa saya nyebut demikian? Pertama: Tidak bisa membandingkan NU dengan organisasi yang secara tahun lahir berbeda jauh, secara masehi, NU 1926, FPI dan HTI kisaran 1998 di Indonesia. Jelas ketangguhan dan uji kematangan berbeda jauh. Apalagi alasan didirikannya organisasi NU, FPI dan HTI tidak bisa disamakan. Alasan Kedua, amaliyah NU adalah amaliyah yang paling bisa diterima semua kalangan, lihat ketika ada tahlilan, apakah lingkungan tersebut protes dengan jama’ah tahlil? Apakah dalam prlaksanaan tahlil ada pembedaan bacaan? Bahkan dengan baground apa pun dan baju bagaimana pun, mereka bisa mengikuti acara tahlil. Lha kalau FPI dan HTI? Di Tulungagung Bupati secara resmi menolak FPI di Tulungagung, HTI juga dalam aksinya banyak mengalami penolakan. Ini membuktikan bahwa secara amaliyah dan keberadaan orgsnisasi dan amaliyah organisasi, NU lebih diterima ketimbang si lainnya. Ketiga alasannya adalah Kevalidan Sanad amaliyah dan sanad Keilmuan NU tidak tertandingi. Walaupun FPI, sekalipun dipimpin Habib Rizieq Syihab yang konon adalah dzuriyah rosul, tapi ini masih generasi pertama lo ya? Dan masih pada sanad Nasab saja. Kalau di NU? Sanad perjuangan, Sanad ilmu, Sanad Nasab, dan sanad amaliyah semuanya Nyambung kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan jelas.

Trus apakah jika ada yang memaparkan kelebihan NU dan mencintai NU disebut Ta’ashub? Tunggu dulu bro! Tentu tidak, karena Ta’ashub atau sifat kekelompokan yang berlebih adalah sifat dan sikap berlebihan tanpa dasar pertimbangan dan pengetahuan( pokok sama ya dibela). Bedanya semangat ber NU dengan Ta’ashub ber NU dimana? Jika semangat ber NU diawali dengan belajar ber NU, trus mengetahui NU, dan Mengabdi pada NU. Sedangkan Ta’ashub pada NU tanpa dasar asal NU dibela. Justru inilah yang biasanya menjadi bimbang pada NU karena mendapat propaganda dari luar NU. Kepada yang demikian inilah diperlukan kritik dan otokritik untuk perbaikan bersama. Harus ada intensitas diskusi personal kepada mereka.

Sebagai penutup tulisan ini, saya kutipkan inti dari muqoddimah Qonun Asasi Mbah Hasyim, ” Marilah Anda semua dan segenap pengikut anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondong masuk Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ ini. Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang dan rukun, bersatu dengan ikatan jiwa raga. Ini adalah Jam’iyyah yang lurus, bersifat memperbaiki dan menyantuni. Ia manis terasa di mulut orang-orang yang baik dan getir di tenggorokan orang yang tidak baik. Dalam hal ini seharusnya anda saling mengingatkan dengan kerjasama yang baik, dengan petunjuk yang memuaskan dan ajakan memikat serta hujjah yangbtak terbantah. Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah terberantas semua”.

Dan satu lagi yang perlu kita ingat, jika hanya masalah mempertahankan aqidah ahlussunnah wal jama’ah saja, maka sayabyaqin Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri dan para Muassis NU cukup dengan Ngaji di pondok sudah selesai, tapi nyatanya beliau-beliau masih berorganisasi dan ngurus organisasi NU. Lantas kita? Apa gak malu dengan para muassis yang menyempatkan waktunya untuk berkhidmah pada NU? Apa kita yang sudah bertahlil dan rutinan Sholawatan sudah merasa cukup ber NU? Tentu belum cukup, selama belum mau berkhidmah ngurus NU. Jika kita berkiblat kepada para Muassis NU.

“Siapa yang Mau Berkhidmad pada NU, Ia saya anggap Santriku. Barang siapa yang menjadi santriku, Saya Do’akan Khusnul Khotimah Keluarga dan Anak Cucunya”.(Do’a Roisul Akbar Hadratus Syeihk Hasyim Asy’ari).