Pertanyaan dari seorang teman tentang dakwah Kyai Said melatar belakangi kenapa tulisan ini muncul. Menurut penuturan sahabat yang bertemu singkat dan tak sengaja di warung dekat cucian mobil daerah Kepatihan Tulungagung setelah 7 tahun berpisah, banyak kalangan masyarakat yang pada intinya bingung apa sebenarnya maunya Kyai Said? Bahkan tak jarang juga masyarakat yang akhirnya apatis terhadap NU gara-gara melihat apa yang terjadi di media. Saya mencoba menjelaskan dengan berbasis pengetahuan dan data yang saya miliki, dari obrolan singkat itu, sahabat tersebut menyampaikan kalimat penutup” ternyata NU luar biasa”. Satu pertanyaan dari sahabat tersebut, trus aku kudu ngambil peran opo di NU sing menurutmu pas gawe aku? “Tetap jadi saudagar, yang peduli pada NU”. Siap(jawab sang sahabat) yang kemudian berpamitan untuk pulang karena mobil yang ia cucikan sudah selesai.

Di tubuh NU perbedaan pendapat itu biasa, satu kyai dengan kyai lainnya. Bahkan Gusdur di masanya sangat kontroversial dan sering berbeda pandangan dengan Kyai atau Ulama NU lainnya, Gusdur banyak dikritik oleh Kyai-kyai NU sendiri dan itu hal biasa. Kyai Said melihat bahwa problematika sosial kebangsaan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah ancaman virus faham radikalisme agama yang tersebar melalui pengajian dan majlis-majlis yang mengatas-namakan kajian sunnah tetapi isinya selalu menebar kebencian dan provokasi. Mereka sedikit-sedikit ngomong sunnah seakan-akan mereka lah yang paling nyunnah, sementara amaliah NU bid’ah.

Begitu juga pengajian yang diadakan atas nama penegakan syariah dan hukum Allah yang pada ujungnya mendoktrin anti NKRI, Pancasila, dan Demokrasi dan malah mengajak mendirikan khilafah serta mengatakan Pancasila Thoghut. Mereka sedikit-dikit ngomong hukum Allah dan tegakkan syariat Islam tapi lihatlah apa yang dihasilkan dari doktrin itu?? Yaitu mendorong siapapun yang terdoktrin untuk melakukan suatu tindakan yang menurut mereka adalah jihad menegakkan hukum Allah dan menegakkan syariat sehingga meneror dan melukai bahkan membunuh aparat.

Bagi mereka, membunuh aparat kepolisian di negara Thoghut adalah jihad karena aparat itu telah mereka anggap kafir dan antek thoghut. Mereka selalu teriak thoghut, Pancasila berhala, demokrasi haram, NKRI negara thoghut. Apa tujuan akhir dari doktrin ini? Jika dibiarkan, maka kehancuran negara dan kekacauan bangsa akan menjadi fakta. Bagaimana tidak akan menjadi fakta, jika opini masyarakat terpenuhi dengan ketidak percayaan terhadap negara dan pemimpinnya. Makanya usaha kelompok yang menyebut negara Indonesia Thoghut adalah melemahkan keyakinan pada pemimpin negara dan menyerang tokoh NU. Mengapa NU? Karena hanya NU yang memiliki slogan dan pengorbanan “NKRI Harga Mati”.

Ingat…!!! memelihara kedamaian dan keutuhan bangsa dan negara ini lebih mahal dan lebih wajib dari sekedar menerapkan khilafah. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah hasil rumusan para ulama dan pendiri bangsa yang disepakati untuk merekatkan dan menyatukan segenap elemen bangsa yang majemuk ini. Pemahaman semacam inilah yang ingin disampaikan oleh Kyai Said. Oleh sebab itu, ustad-ustad dan kelompok yang berlindung dibalik topeng kajian sunnah itu selalu dalam perhatian Kyai Said, dipreteli maksudnya dan ditelanjangi kebodohannya. Begitu juga ustad-ustad dan kelompok yg membawa doktrin khilafah tidak lepas dari perhatian Kyai Said. Kenapa??? Karena doktrin mereka lah ancaman kebangsaan ini, mereka lah yang melahirkan sel-sel tidur ISIS dan membangunkannya, mereka lah yang melahirkan embrio-embrio ISIS di negara ini, apa menunggu negara ini di-Marawi-kan atau bahkan disuriahkan?

Kyai Said bukan orang syiah, beliau desertasinya adalah tentang syiah dimana beliau sangat faham mana syiah yang sesat dan mana yang tidak. Apa yang dilakukan beliau tak lain adalah dalam rangka meluruskan pemahaman yang dipropagandakan oleh ustad-ustad Wahhabi bahwa semua syiah sesat. Dan sejauh ini Ulama dan orang-orang syiah yang cukup banyak dari kalangan Habaib, tidak pernah sekalipun mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak menebar kebencian layaknya dakwah Wahhabi, akan tetapi ustad-ustad Wahhabi itu selalu menebarkan kebencian terhadap kelompok syiah di Indonesia dan memprovokasi umat bahwa mereka seakan-akan mau merobohkan negara ini. Oleh sebab itu perbuatan ustad-ustad Wahhabi yang mengaku pejuang sunnah itu harus dihentikan. Ini yang tidak banyak dipahami oleh sebagian kalangan NU sendiri.

Sedangkan bagi “mereka” yang berpendapat bahwa bumi datar (kelompok Wahhabi dan yang sudah terkontaminasi sama propagandanya) itu akan selalu menilai salah apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Kyai Said, begitu juga apa yang disampaikan ulama moderat lainnya juga disalahkan. Kenapa demikian?karena bangunan berfikir dan sudut pandang sudah berbeda. Sedangkan di kalangan moderat melihat sesuatu dilihat dari banyak sisi di antaranya dari sisi Tasawuf. Kasus yg paling mutakhir adalah soal anjing yang lebih terhormat dari kyai, kalau dilihat dari sudut pandang tasawuf ini terjadi tapi bagi mereka yang tidak mengenal tasawuf sama sekali tidak mau menerima, karena tasawuf itu soal hati dan mutiara hikmah yang terkandung di dalamnya. Apalagi di hati mereka sudah tertanam kebencian.

Sudut pandang mereka kaum kagetan itu, ilustrasi sudut pandangnya adalah seperti setiap gincu merah pasti menimbulkan warna merah, pertanyaannya adalah “bagaimana jika yg dituangi gincu merah tadi sudah berwarna kuning, biru atau sudah beda warna? Apakah gincu merah tadi akan menghasilkan warna merah?? Tentu tidak”.

Nah sudut pandang semacam inilah yang tidak dimiliki oleh mereka kaum Wahhabi yang unyu-unyu itu. Kita mempelajari dan mendalami ilmu di lautan luas itu bisa dari Kyai Said yang sudah ngelentek ilmunya termasuk kitab tasawuf al-hikam, akan selalu kontradiktif jika kita malas bertafakkur akan pemikiran dan tindak laku beliau. Memahami beliau gak jauh beda memahami alm. Gusdur.

Di NU sebesar apapun perbedaan pandangan Kyai-kyai NU dalam menyikapi problematika sosial masyarakat dan kebangsaan tidak akan sampai melupakan dan menghapus jati diri ke-NU-annya, sehingga NU tetap berdiri kokoh dan solid. Mereka yang ingin menghancurkan NU akhirnya akan gigit jari dengan penuh kesia-siaan. Semoga kita semua diselamatkan dari segala tipu daya setan yang berupa wujud manusia (seakan-akan) paling sunnah sekalipun. Wallahu A’lamu.