Almarhum Kiai Hasyim Muzadi pernah bercerita dalam sebuah ceramah di hadapan warga NU, “saya pernah mendampingi beberapa tamu luar negeri yang terdiri dari para profesor yang secara khusus datang ke PBNU untuk menyatakan kabar bahwa NU adalah organisasi terbesar di Indonesia”, dalam kunjungan tersebut, rombongan meminta agar diajak keliling Jakarta dan beberapa wilayah di Jawa Barat, selesai berkeliling, para profesor ini bertanya kepada Kiai Hasyim Muzadi, “pak Kiai, katanya NU ini besar, kok sepanjang perjalanan, saya tidak melihat aset NU sama sekali, berbeda dengan Muhamadiyah, ada RS Muhamadiyah, Masjid Muhamadiyah, RA Aisyiyah, SDI Muhamadiyah, SMPI Muhamadiyah, SMA Muhamadiyah, Universitas Muhamadiyah, Klinik juga Muhamadiyah, sementara tak satu pun saya lihat yang bernama NU pak kiai.

Mendapat pertanyaan tersebut, kiai Hasyim Muzadi menjawab dengan kalimat ” begini Prof, NU itu memang bottom up, semua usulan dari bawah, nama yang diberikan pun sesuai kehendak masyarakat, tidak harus nama NU, misalnya, ada yang mendirikan masjid, mereka beri nama masjid Baiturrohman, RA al Khodijah, MI Sabilul Muttaqin, MTs Al Falah, MA Mambaul Ma’arif, RS Al Khodijah, UNISMA, itu nama yang mereka kehendaki, tidak harus bernama SDNU, SMA NU, tiba-tiba seorang profesor bertanya, berarti selain yang diberi nama Muhamadiyah, adalah miliknya NU kiai?, kiai Hasyim mengangguk-angguk yang diikuti kalimat pujian dari para profesor tersebut.

Dari cerita di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa NU memang unik. NU memang didominasi masyarakat pedesaan, tapi SDM NU tidak bisa dianggap enteng. Selain itu, jiwa sosial dan niat berjuang warga NU, tak usah ditanyakan. Mereka faham bahwa menjadi warga NU demi menyambungkan sanad keilmuan, sanad perjuangan dan sanad ke NU an dengan para Kiai serta muasis Nahdlatul Ulama.

Bahasa singkatnya para warga NU nderek Kiai, bukan karena mereka malas berfikir dan hanya menjadi pengikut yang tanpa alasan, tapi mereka mengikuti para Kiai NU dalam rangka meninggikan akhlak dengan menghormati orang yang lebih alim, serta berharap kelak dijadikan satu ke dalam kelompok orang-orang alim tersebut. Mereka nderek kiai karena faham bahwa di dalam Q:S Az Zumar ayat 73 diterangkan bahwa kelak ketika masuk surga pun, kita akan masuk dengan cara berombongan, mereka juga faham bahwa dunia adalah tempat menanam amal akhirat, maka sejak di dunia, warga NU ingin berombongan dengan para Kiai-Kiai NU sejak di dunia.

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ .73

“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb-nya, dibawa ke surga, berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu, sedang pintu-pintunya telah terbuka, dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu!. Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.

Hari ini banyak yang menyalahkan ketaatan warga NU kepada Kiai, karena dikontekstualisasikan dengan tampilnya Kiai Ma’ruf Amin sebagai Cawapres berdampingan dengan pak Joko Widodo. Apakah ketaatan warga NU memilih tokoh NU adalah kesalahan? Saya yakin tidak. Warga NU faham bahwa Kiai Ma’ruf Amin adalah cicit dari Syaikh Nawawi Al Bantani yang silsilah keilmuan Aswaja para ulama’ Nusantara juga bertaut kepada beliau. Ini masalah akhlak juga, bukan masalah logika material. Selama warga NU faham posisi berkhidmah dalam organisasi dan tidak bebal serta keras hati, maka memaknai apa yang terjadi hari ini akan mudah dan terang.

Berbeda dengan mereka yang selalu sok benar, berdalih menjalankan Khittah organisasi, padahal mereka tidak faham khittah itu apa, mereka hanya faham bahwa khittah NU adalah tidak berpolitik dengan mengatakan “NU tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana”. Kalimat ini benar, tapi perlu dicerna, politik NU sebagai organisasi adalah politik kebangsaan. Sedangkan sikap politik warga NU adalah sama halnya dengan hak warga negara Indonesia. Masalah pilihan politik warga NU, wajar jika warga NU mengikuti pilihan kiai-kiai NU.

Mari kita fahami apa pengertian Khittah NU secara tertulis dalam buku sejarah NU, Khittah NU adalah landasan berfikir, bersikap dan bertindak warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perseorangan maupun organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan. Landasan tersebut adalah faham Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diterapkan menurut kondisi kemasyarakatan Indonesia, meliputi dasar-dasar amal keagamaan maupun kemasyarakatan. Khittah NU juga digali dari intisari sejarah khidmahnya dari masa ke masa. (silahkan dilihat di buku Nahdlatul Ulama Penegak Panji Ahlussunnah Wal Jama’ah, karya K.H Hasyim Latif h.109). Jika kita fahami, dengan Khittah, harusnya NU faham prinsip diri sendiri, prinsip kelompok lain, dan faham perubahan zaman.

Selanjutnya mari kita lihat dari sudut pandang dinamika zaman dan isu yang menimpa petinggi NU, pada jaman KH. Said Aqil Siradj: beliau sebagai pimpinan NU malah dituduh sebagai Syiah, Liberal, Sesat, Kafir dll.

NU zaman KH Hasyim Muzadi:
Kiai yang secara khusus mendampingi Jokowi saat umroh beberapa hari menjelang pencoblosan capres 2014 ini juga dituduh Syiah karena pembelaannya terhadap nuklir Iran, masa kepemimpinannya banyak mengirimkan mahasiswa ke Iran.

NU jaman KH Abdurrahman Wahid:
Lebih dulu dituduh Liberal, antek Zionis, agen Syiah, Kafir, dll.

NU jaman KH Achmad Sidiq:
Dituduh keislamannya goyah karena menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Padahal beliau juga sebagai tokoh yang membawa arus pemikiran berorganisasi dengan konsep “Mabadi Khoiro Ummah” dengan konsep As Shidqu (jujur) Al Wafa bil ‘Ahdi (menepati janji) dan At Taawun (saling tolong menolong).

NU zaman KH Bisri Syansuri:
Dituduh takut pada pemimpin yang dzolim karena justru memberhentikan Kiai Subhan ZE pengurus PBNU yang paling vokal mengritik Orde Baru.

NU jaman KH Wahab Chasbullah:
Dituduh PKI karena menerima Nasakom. Padahal masuknya NU ke Nasakom adalah dalam rangka menyelamatkan kepentingan umat karena seluruh perwakilan Masyumi di Kabinet ditarik semua. Sehingga kabinet hanya menyisakan PNI, dan PKI, dalam waktu 5 hari mbah Wahab bersama Kiai Idham Khalid memutuskan bahwa NU harus masuk ke Nasakom.

NU zaman Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari:
Dituduh pro penjajah Jepang. Memerintah rakyat menanam padi yang pada akhirnya padi digunakan oleh Jepang. Padahal di penghujung penjajahan Jepang, justru Mbah Hasyim dan Kiai Achmad Shidiq dipenjara oleh Jepang.

Dari zamannya Mbah Hasyim sampai kepada seluruh pewaris ilmu dan amanahnya, selalu dicari celah untuk menyerang dan menghancurkan NU. Sehingga Orang-orang yang mengaku NU dikategorisasikan menjadi dua:

Pertama, yang ta’dzim dan ikut berkhidmat kepada NU, insyaallah dapat barokahnya NU.

Kedua, yang membenci NU dengan menghujat pimpinan NU, menggerogoti martabat NU dengan tidak ada ta’dzim dan sering menghina pimpinan NU, Insyaallah akan mendapat celaka, sekalipun ngakunya NU. Ingat, khizibnya NU dari Syaikhona Kholil Bangkalan.

يا جبار يا قهار

Mengutip ceramahnya Kiai Marzuki Mustamar pada acara Harlah NU ke 96 di Halaman PWNU Jawa Timur 23 Maret 2019, “NU hari ini adalah NU yang sama dengan NU nya mbah Hasyim, Fiqih, Aqidah, dan Tasawufnya juga masih sama”. Jika ada yang bilang NU saya bukan NU nya Kiai Said Aqil Siraj, tapi NU nya mbah Hasyim, ini adalah pertanda hati anda terkontaminasi virus yang ngaku NU, tapi menggerogoti NU dari dalam. Maka layak ditanyakan pada orang model ini, “sampean iki mau meluruskan NU, atau merusak NU?”. Karena sejarah NU mencatat, sekalipun ada perbedaan pandangan di dalam NU saat muktamar, tapi begitu muktamar selesai, para pendahulu NU sejak era Kiai Idham Kholid, Kiai As’ad Syamsul Arifin, beliau-beliau tetap mengakui hasil NU yang sah adalah hasil muktamar.

Akan lain cerita jika yang ngaku meluruskan NU adalah orang yang lebih ngalim dari Kiai Idham Kholid dan Kiai Raden As’ad syamsul Arifin, atau lebih alim dari para Kiai-kiai NU.