Akhir-akhir ini banyak orang teriak “Stop Kriminalisasi Ulama”.

Tapi apakah kalian lupa tahun 1999 – 2001 Indonesia pernah memiliki Presiden yang juga Ulama, dan benar-benar ulama’, bukan ulama’ kemarin sore. Beliau jadi ketua ormas terbesar sampai dengan saat ini (NU), dan merupakan cucu dari salah satu Kyai terbesar di Indonesia. Hadrotus Syekh(Gelar keilmuan bagi penghafal Kutubus Sittah) KH. Hasyim Asy’ari yang pernah ditulis sejarah dan biografinya oleh Sayyid Muhammad Hassan As’ad Syihab dari Kuwait dengan Judul kitab “Muhammad Hasyim Asy’ari  Al Alim Al Allaamah  Waadhiun Libinayati Istiqlaali Indonesia” Sebuah buku besar berbahasa arab yang jika judul bukunya diartikan, maka akan berjudul” Mohammad Hasyim Asy’ari Ulama’ TOP Peletak Dasar Kemerdekaan Indonesia”. Ayah beliau KH. wachid Hasyim, juga punya andil besar dalam peletakan dasar negara Indonesia. Bahkan jika dirunut secara detail, jalur nasab Gus Dur, beliau juga berhak menyandang julukan Sayyid. Dan pertanyaan saya untuk anda-anda semua, dimanakah kalian saat itu?,

Kenapa tidak ada teriakan penistaan ulama’, kenapa tidak ada pembelaan kriminalisasi umara’, kenapa tidak ada pembelaan dzuriyah? Apakah kalian akan mengatakan bahwa setiap zaman ada masanya? Sehingga kalian menganggap isu bela-belaan dan kriminal-kriminalan sampai persekusi hitsnya baru sekarang? Lha kalau hitsnya sekarang, bukan kah yang kalian lakukan sekarang berdasar kecondongan kalender musim saja?  Yang hanya ngejar hits atau tidak. Semoga ini tidak terjadi. Sehingga tidak ada “Jamaah sokor demen” yang ngawur dalam membela gara-gara demen kelewatan.

Ketika Gus Dur difitnah, dipermalukan dan dicaci maki, apa yang kalian lakukan? Atau mungkin kalian juga salah satu dari orang yang memfitnah, mempermalukan dan mencacimaki beliau? Atau mungkin kalian bersembunyi sambil ngintip dan berdalih serahkan saja pada ahlinya. 
Saat itu beliau diturunkan secara paksa dengan tuduhan korupsi yang sampai saat ini pun tidak pernah dibuktikan lewat pengadilan. Apakah saat itu Gus Dur berteriak-teriak lantang untuk meminta umatnya melakukan Jihad Revolusi Putih melawan kalian? Apakah Gus Dur yang dalam Sidang pari purna MPR Ri saat itu diteriaki” Penguasa Tirani, Dholim dan ingkar” tidak sakit hati? Justru ini yang membuat Gus Dur sempat memerah raut mukanya di forum MPR, karena tuduhan yang dialamatkan pada Gus Dur adalah bahasa refaksional al qur’an yang selama ini beliau perjuangkan.
Jika Gus Dur bukan bagsawan, negarawan, dan ulama’, maka ketika melihat saat itu 50 juta orang Nahdiyin yang dengan suka rela datang ke Istana ingin membela junjunganya, bahkan pasukan ini punya sebutan”Pasukan Berani Mati” siap untuk melakukan revolusi mempertahankan beliau. Tapi apa yang beliau sampaikan, yang membuat 50 juta kaum Nahdiyin kecewa?, Gus Dur menyuruh kami semua pulang ke rumah, beliau tidak mau terjadi pertumpahan darah antara sesama Bangsa Indonesia, karena Gus Dur Cinta Indonesia.
Hari ini orang-orang yang dulu mempermalukan beliau, orang-orang yang dulu menghina dan mencaci maki beliau sudah mulai mendapatkan balasan apa yang dulu mereka lakukan.
Jadi, buat kalian yang hari ini teriak-teriak Stop Kriminalisasi Ulama, berkacalah apa yang kalian lakukan tahun 2001 terhadap seorang Gus Dur yang saat itu adalah sebagai Ulama (Kyai) dan Umara'(Presiden) sekaligus bahkan masih termasuk Sayyid?
Memang Gus Dur tidak butuh dibela, tapi Maqom beliau dengan sanad keilmuan sebagai Ulama’, dengan Nasab juga sebagai Sayyid, Secara Posisi juga Umara’ trus jika saat itu para pembenci dan pelengser Gus Dur kita buat bahasa sama dengan sekarang yang ngetren” Kriminalisasi Ulama’, Su’ul adzab dengan dzuriyah, mbangkang dengan umara’, lha kan malah kategori pol-polan parahnya kelakuan mereka yang melengserkan Gus Dur.

Dahulu, Ibnu Saba’ memecah belah umat Islam juga dengan dalil. Abdurrohman Ibnu Muljam membunuh Sayyidina Ali yang Alim, Khalifah, juga menantu dan sepupu Kanjeng Nabi Muhammad Saw, juga dengan dalil waman lam yahkum bima anzalallah dst. Apakah kita tidak mengambil ibarat dari semua itu. Oleh karenanya, dekat dan ta’dzim dengan para Habaib, it’s okey! tapi jika kedekatan tersebut lantas membuat kebingungan melihat perkara ta’dzim dan perkara membela kebenaran hakiki, maka lebih baik menjaga jarak demi kemanfaatan. 

Menjaga jarak dengan Habaib bukan berarti anti Habaib, tapi menjaga jarak yang dimaksud karena mencari kejernihan pengetahuan supaya terlepas dari fenomena taqlid yang membabi buta. Saat para Habib oleh oknum pejabat pemerintah pada kisaran 1970 an di hempas badai fitnah dan propaganda dari kalimat di media” Habib, apa peranmu untuk Indonesia” saat itu Gus Dur dan NU yang mencerahkan masalah dan membela para Habib sehingga sejarah tidak terkikis kebenarannya oleh oknumbdan rezim saat itu. Lantas ketika Gus Dur dikatakan Buta Mata dan Buta Hati oleh Habib Riizieq Syihab, apakah Gus Dur menagih pembelaannya dan jasanya atas nama penghormatan?. Memang matahari adalah sumber cahaya, tapi menatap matahari secara mata telanjang dengan jarak terlalu dekat, maka matalah yang akan rusak.

Wallahu a’lam bishowaab.