Ketika sebuah kata disebut di dalam al Qur’an, maka kata tersebut memiliki sejarah, peran, fungsi atau ada sebab lain. Bahkan jumlah pengulangan penyebutannya juga memiliki maksud tersendiri. Misalnya nama Fir’aun disebut 1 kali dan Ali Fir’aun disebut 6 kali. Menurut berbagai sumber, pengulangan penyebutan Ali Fir’aun tersebut menunjukkan bahwa Ali Fir’aun (orang-orang yang mengitari Fir’aun) lebih berbahaya dibandingkan Fir’aun. Jadi tidak salah jika siapa pun pemimpinnya, justru yang terpenting adalah melihat siapa yang mengitari sang pemimpin.

Dalam konteks Pilpres 2019 penting melihat siapa yang mengitari kedua pasang capres cawapres. Misalnya kategori ulama, akademisi, negarawan, dan tokoh muda, silahkan cermati dan teliti masing-masing personal yang mengitari kedua pasang capres. Teliti rekam jejak visual maupun rekam jejak akhlaq dari perjalanan masing-masing orang yang mengitari kedua capres.

Secara garis besar, saya mencatat ada tiga tren perubahan perilaku politik yang berbeda dari perilaku politik 2014 dalam kontestasi pemilu dan demokrasi. Ketiganya adalah: Semakin maraknya hoak dan kampanye hitam, kamuflase politik, dan politisasi masjid.

Hoak dan kampanye hitam memang bukan hal baru dalam percaturan politik, derasnya hoak dan kampanye hitam pada pemilu 2019 seakan semakin sulit menemukan orang yang waras tanpa pembahasan politis. Semua gerak masyarakat langsung diposisikan berhadapan antara kawan dan lawan, singkat kata, sebutan yang muncul kalau bukan 01 ya 02. Kehidupan dan segala aspeknya seakan dipaksa untuk mengerucut pada dua pilihan tersebut.

Sedangkan kamuflase politik adalah, retorika palsu yang sengaja disusun untuk mengelabuhi pandangan masyarakat awam. Misalnya, masyarakat disuguhi data yang isinya adalah hujatan dan cemoohan pemerintah dengan dalih kekejaman rezim. Bermodal tulisan yang dibagikan via medsos, masyarakat awam seakan dipaksa secara konyol menjadi ahli segala hal, mulai analis pertahanan, keamanan, ekonomi, tata negara, kelautan, ahli tafsir, sejarah, politik, pendidikan, kesehatan, dan seluruh masalah sosial. Sehingga masyarakat awam tersebut, lupa caranya menjadi masyarakat awam yang baik. Padahal kita tahu bahwa ketika masyarakat awam berubah menjadi orang yang sok-sok an, maka tunggulah kehancurannya.

Kamuflase politik di atas, biasa disebut kalimatu haqqin yuriidu bihal baathil, kata-katanya benar, tapi maksud dan tujuandari kata-kata tersebut adalah untuk kebathilan. Sejak zaman khalifah Sayyidina Ali, kamuflase politik sudah menjadi gaya kelompok yang merasa paling benar untuk membunuh Sayyidina Ali. Sehingga, jika hari ini marak kamuflase politik, model ini sudah ada sejak lama, yang beda adalah strategi dan tema yang digunakan.

Tren perubahan politik terakhir adalah politisasi masjid dari tempat ibadah menjadi corong politik atau sebutan munajat tapi isinya adalah kalimat menghujat. Khutbah Jum’at pun isinya adalah seruan memilih salah satu calon presiden, dalihnya adalah menyelamatkan umat dari kehancuran. Mimbar masjid berubah menjadi mimbar politik yang isinya adalah hasutan dan ujaran kebencian, ketika ditegur dan diingatkan, maka mereka akan berteriak, ini musuh, perusak, kafir, bunuh, seret dan hujatan lainnya.

Jika dahulu, orang ke masjid akan beribadah atau i’tikaf, hal ini mulai tergeser dengan istilah jihad politik. Jika ada cerita bahwa para Jin yang biasanya rame dan ribet, mereka justru diam seribu bahasa saat berangkat dan pulang dari Masjid, karena para Jin sadar bahwa di Masjid adalah murni untuk beribadah, mendekatkan diri kepada tuhan yang maha esa.

Jika ditanya, apakah menggunakan tiga tren politik di atas signifikan hasilnya? pastilah para pelaku berharap demikian. Rujukan mereka adalah beberapa sukses calon presiden yang bermodal ternak hoak dan kamuflase politik. lantas dimana nilai luhur budaya ketimuran yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia? atau mereka pingin seperti Bolsonaro Brazil yang sukses menang pada pilpres di Brazil dengan modal ternak hoak, jualan isu komunis?Silahkan anda jawab sendiri dan menarik kesimpulan dari paparan di atas.

Bagi saya, beda pilihan adalah wajar, karena selera setiap orang memang beda. Tapi menjadi warga negara yang menjunjung tinggi kebhinekaan Indonesia adalah tugas bersama seluruh elemen bangsa.