Pentingnya memperhatikan sanad suatu berita Perlu menjadi perhatian khusus untuk menyikapi maraknya berita Hoax. Kejadian Hari Kamis, 12 Januari 2017 di SPBU Podorejo Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung, Pemadam Kebakaran, Polisi, Wartawan yang datang ke lokasi karena mendapat laporan terjadi kebakaran di SPBU Podorejo disertai Gambar SPBU yang terbakar. Cukup membuat gemes campur emosi. Gemes karena yang tertipu adalah para aparat yang punya SOP dalam menerima berita, emosi karena yang dibuat candaan adalah hal yang menyangkut hajat orang banyak.

Tradisi broadcast (menyebar berita) tanpa konfirmasi (tabayyun) membuat suasana semakin rumit. Kadangkala ada yang mendadak menjadi alim, kadangkala mendadak menjadi rasionalis, kadangkala puitis bahkan kadangkala juga bengis. Tetapi begitu ketemu dan berdialog justru yang tergambar dari broadcast tersebut tak nampak sama sekali, yang ada hanya sosok kosong yang hanya bercerita tanpa sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Di dalam tradisi meriwayatkan hadist, pentingnya memperhatikan sanad dapat kita temukan dalam beberapa redaksi. Sedikit merujuk kepada sejarah tadwiin dan tarjih hadits, didapati sebuah pedoman dari para ahli hadits, yang menegaskan pentingnya seseorang memperhatikan sanad (sumber berita) suatu hadits. Hal ini terjadi, seiring merebaknya fitnah pada waktu itu sehingga muncul berbagai firqah yang memecah belah stabilitas umat Islam. 

Salah satu contoh hadits yang masyhur menjadi dasar tadwiin dan tarjih hadits saat itu adalah sebagai berikut:

أَخْبَرَنِي أَبُو الْقَاسِمِ الْأَزْهَرِيُّ، أنا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّورِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ حَمْدَوَيْهِ الْمَرْوَزِيُّ , ثنا أَبُو الْمُوَجِّهِ , ح وَأَخْبَرَنا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الْهَمَذَانِيُّ، ثنا صَالِحُ بْنُ أَحْمَدَ الْحَافِظُ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْبُخَارِيُّ، أنا أَبُو الْمُوَجِّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْمُوَجِّهِ، أنا عَبْدَانُ , قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ هُوَ ابْنُ الْمُبَارَكِ يَقُولُ: ” الْإِسْنَادُ عِنْدِي مِنَ الدِّينِ , لَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

Aku mendengar dari Abdullah bin Mubarak berkata: “Sanad menurutku adalah sebagian dari agama. Seandainya tiada sanad, maka orang pasti akan berbicara semau yang ia kehendaki.”

«27» حدثنا أبو جعفر محمد بن الصباح حدثنا إسماعيل بن زكرياء عن عاصم الأحول عن ابن سيرين قال لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثهم. 

Syeikh Ibn Sirin berkata: “Mereka belum pernah bertanya sebelumnya tentang sanad. Namun, semenjak merebak badai fitnah, maka mereka mulai menanyakan: Sebutkan perawimu! Jika mendapati dari ahlissunnah maka diambil riwayat haditsnya. Namun bila didapati dari ahli bida’ (ahli mengada-adakan berita) maka ditinggalkan.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa segala informasi haruslah jelas sumbernya, apalagi informasi tersebut dibagikan (dishare) via media sosial. Karena menebar kebohongan sekali via medsos bisa berakibat fatal. Oleh karenanya, mengedepankan tabayyun dengan sekedar menanyakan” sumber berita yang anda share siapa ya?” saat menerima berita di group WA, BBM, Twiter, dan Medsos lainnya sangatlah penting, walaupun ada himbauan dari si penyebar berita dengan kalimat” bagikan demi kemanfaatan”, maka kunci kenyamanan dan kecerdasan bermedsos adalah mengetahui sumber berita.

#bermedia cerdas dan jelas.