Merasa paling pintar, ya itu sombong. Merasa paling cantik, paling tampan, memamerkan harta… ya, itu sombong.

Namun adakah yang lebih sombong daripada merasa diri lebih suci, lebih mulia?

Adakah yang lebih sombong daripada mengklaim surga untuk anda dan menyebut yang lain penghuni neraka?

Bukankah sebuah kesombongan yang nyata, ketika kau menghujat yang lain sebagai sesat, kafir, munafiq… sebab saat kau mengatakan itu, anda merasa lebih suci?

Agama memang mengajarkan ciri-ciri kafir, sesesat, munafiq. Tetapi dalam konteks keseharian, tidak elok melontarkan hal tersebut kepada orang lain.

Orang-orang yang mengerti, akan merasa malu mengatakan perkataan-perkataan seperti itu karena dia tahu hal itu sangatlah tidak PANTAS untuk dikatakan.

Ketahuilah, keimanan adalah wilayah hati. Dan soal hati, adalah wilayah Tuhanmu. Terlalu sombong jika kau merasa lebih tahu hati seseorang daripada Tuhanmu.

Dan perhatikanlah ulama’-ulama’ dan tokoh-tokoh masyarakat kita dengan wawasan yang luas, ilmu tinggi… Tetapi mereka sangat rendah hati, jarang sekali menghujat yg lain sebagai sesat, karena dia tahu hal itu justru akan merendahkan dirinya.
Sebaliknya, dia tampil dengan kata-kata yang sangat menyejukkan, mendamaikan, memuliakan.

Namun perhatikanlah kata-kata dari orang-orang yang merasa paling suci itu. Sangat royal kopar kafir, sesat, munafiq… Semua surga sudah diklaim, dikapling, tidak ada lagi yang tersisa. Ulama moderat dicap sesat, ulama toleran dicap munafiq.

Hah, hebat! Hebat sekali kesombongannya!

Bukankah dia berkata hanya untuk menelanjangi dirinya sendiri bahwa dia adalah sombong?

“Maka janganlah mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa…” (QS An Najm:32).