Coba perhatikan, berapa grup WA yang Anda ikuti?

Bagi para Marketer via medsos,merupakan modal berharga jika sudah mendapatkan nomor seseorang, apalagi nomor tersebut ada WA nya. Apalagi kalau sudah chat secara personal. Bagi Marketer inilah awal kemudahan untuk jualan apapun. Termasuk menjual ide. 

Banyak pengguna WA yang tidak sadar akan propaganda yang dilakukan oleh orang yang sengaja dan punya target tertentu dalam bermedsos. Tentunya mereka akan menggiring opini para pembaca atau perbuatan para pembaca untuk sesuai dengan tujuan mereka melalui propaganda tersebut. Oleh karenanya pemahaman terhadap olah kata dan penyematan simbol agama pun mereka lakukan dalam propaganda ini.

Bagaimana cara membuat kata-kata-nya, cara membingkainya, sehingga menjadi berita yang seolah benar. Ini dapat dan sering kita jumpai dalam bahasa yang digunakan dalam membuat media-media brosur, buletin, untuk membangun opini publik. Ilmu ini ilmu berbahaya, karena jika salah langkah, bisa menimbulkan kehancuran. Berikut contohnya:

“Baru-baru ini seorang profesor kenamaan dari Canadian University bernama Prof. Philippe Hayden membuat statemen menggemparkan. Prof Hayden mengatakan bahwa AIDS adalah rekayasa pemusnahan manusia yang terstruktur sejak tahun 1965, dimana saat itu para pakar bio-engineering, rekayasa genetika, nuclear scientist, berkumpul secara rahasia untuk mengontrol pertumbuhan populasi umat manusia yang semakin mengerikan”

Kalau berita semacam ini disebarkan, orang yang tidak teliti akan dengan mudah mempercayainya, terutama jika diembel-embeli “numpang share dari grup sebelah”, “maaf hanya berbagi”, dsb.

Mari kita analisa:

Anda perhatikan, dalam “berita” diatas, menggunakan kata-kata yang mutakhir : Prof Hayden (siapa ini?), Canadian University (tinggal catut), Bio engineering, Rekayasa Genetika, Nuclear Scientist, dsb yang membuat pembaca “makin merasa bodoh”.bahkan sampai-sampai pembaca merasa mendapat pengetahuan baru dari apa yang dia baca.

Karena artikel tersebut dianggap “menambah pengetahuannya”, maka pembaca tersebut ingin “menaikkan level pengetahuannya” dengan berbagi berita tersebut. Ini dikenal dengan sebutan Social Incentive seperti yang dijelaskan dalam buku Contagious, Michael Berger(ini nama asli bro).

Dan juga karena masyarakat kita masih terbilang awam dengan Chat-Messenger seperti WhatsApp dan FB Messenger, maka arus-arus informasi seperti ini menjadi ladang penghasilan bagi kalangan tertentu. Siapa lagi kalau bukan para Pelacur Traffic.

Contoh Berita Prof.Hayden di atas akan lebih memiliki power jika dibumbui oleh konten agama, karena masyarakat Indonesia tergolong religius. Jadi selain mendapatkan Social-Incentive, orang yang masih awam dalam dunia Social Media, akan juga merasa mendapatkan Religious-Incentive. Sehingga yang ada di pemikiran mereka adalah)

1. Kalau tidak menyebarkan, maka saya berdosa. 

2. Jika tidak menyebarkan, saya tidak membela agama. 

3. Kalau saya menyebarkan, maka saya mendapatkan ganjaran dari Allah Tuhsn Semesta Alam.

Lha! Sekarang, bagaimana Caranya membumbui dengan konten agama? Berikan kata-kata pamungkas (saya ambil dari sudut pandang Islam, karena saya nggak begitu paham agama lain):

1. Headline: Astaghfirullah.. Begini ternyata kelakuan ______ sang musuh Islam! <– Grabbing attention. Supaya naluri keIslaman para pembacanya tersentuh.

2. Generalisasi pada Body : “Para ulama seluruh Indonesia telah sepakat…”, atau dengan kalimat”Para kyai dan Imam Besar sudah menetapkan keputusan …” <–Tujuan kalimat Ini adalah mencegah orang untuk menentang isinya. Kenapa, karena “ulama sudah bersepakat”. Kan si pembaca bukan ulama! Ini  penyerangan terhadap alam bawah sadarnya.

3. Footer: “Mari sebarkan demi tegaknya Islam. Kita hancurkan musuh-musuh Islam yang menggerogoti umat dari dalam. Sebarkan sebelum diblokir oleh pemerintah yang sudah dikuasai oleh kaum munafik” <– Ini supaya pembaca take action. Karena ini kuncinya: menyebarkan. 

Mudah kan bagi para Pelacur Traffic membuat kehancuran umat beragama demi kepentingannya sendiri atau golongan?

Selanjutnya, menanggapi banyaknya berita seperti di atas, atau bahkan berita palsu(Hoax)  apa yang harus kita lakukan? Minimalnya kita terlindungi atau semacam Awarrnes System(Sistim kendali) terhadap derasnya berita hoax ini. Berikut beberapa cara agar kebal dari hoax( Imun dari Hoax):

1. Kedepankan Husnudzhon

Setiap membaca berita, Anda bisa bertanya dulu terhadap diri sendiri. Apakah benar? Perhatikan kata-kata kerja yang terdapat dalam artikel. Apakah mengandung penggiringan opini? Lihat generalisasi yang dikandung. Apakah mengandung ajakan terselubung, seperti : “Kita sebagai umat Islam seharusnya…”, “Kita sebagai orang Jawa seharusnya..”

Saya tidak mengatakan bahwa kalau ada kata-kata demikian adalah berita bohong. Tapi biasanya berita bohong mengandung kalimat seperti diatas.

2. Lakukan cross-check/Tabayyun

“Maaf, darimana sumber beritanya ya?” Anda bisa tanya. Kalau jawabannya “grup sebelah”, “saya hanya share dari teman”, patut dicurigai. Jangan langsung diterima.

Kalau Anda punya waktu lebih, bisa cross-check lewat Google. Cari sumber-sumbernya, nama-nama yang disebutkan apakah benar berkata demikian, dsb.

3. Lebih baik tidak membagikan apa-apa daripada salah membagikan.

Salah membagikan informasi, Anda punya dosa jariyah. Salah berbagi 1x, dibaca oleh 400 orang teman kita, lalu diantara 400 itu 200 orang membagikan, dan seterusnya, gara-gara Anda ada ribuan orang yang terjebak berita bohong. Ingat, Anda nggak pernah tau dampak jahat viral-content kalau memang itu dibuat oleh orang yang berniat jahat. Hancurnya Iraq juga karena Hoax”Iraq memiliki senjata pemusnah Massal”.

Sebagai penutup, saya kutip sebuah Ayat, Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6).

Semoga kita menjadi orang yang bijak dan bermanfaat.