Jum’at, 7 September 2017 bertempat di Padepokan Sanggar Banyu desa Tunggulsari kecamatan Kedungwaru kabupaten Tulungagung, tidak kurang dari 50 muda-mudi yang berlatar belakang mahasiswa berkumpul mengadakan kajian dengan bingkai “Madrasah Islam Nusantara”.

Tepat pukul 19:00 WIB, kajian yang dimentori oleh mbah Senggle(Fajar Hidayat) dimulai. Sebagai pembukaan, sang mentor memberikan gambaran dan prototipe Madrasah Islam Nusantara. Diawali dari memperkenalkan siapa saja instruktur yang nanti mendampingi materi, kontrak forum kajian, sampai pada sekilas gambaran materi dari instruktur juga dipaparkan dalam pertemuan perdana tersebut. Selain itu, para peserta juga menyepakati selesai kajian, peserta wajib membuat karya tulis dari bahasan yang telah disampaikan instruktur, dengan melakukan pengembangan dan mencantumkan rujukan pengambilan tulisan sebagai referensi dan pertanggung jawaban keilmuan. Hal ini perlu disepakati agar peserta yang hadir tidak sekedar mendengar apa yang disampaikan instruktur tapi juga membiasakan membangun nalar kritis keilmuan dan pemikiran. Bahkan peserta Madrasah Islam Nusantara juga diwajibkan menembel jika dia tidak masuk dengan cara bertanya kepada dua teman yang hadir dalam kajian Madrasah Islam Nusantara.

Ada beberapa tinjauan yang nantinya digunakan untuk melakukan pendekatan kajian Madrasah Islam Nusantara yang diselenggarakan oleh Sanggar Banyu dalam waktu satu semester atau 16 kali pertemuan dengan jadwal setiap Sabtu dalam pelaksanaan pertemuannya. Diantara pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis dan jejak peninggalan Islam Nusantara, teologis dan pendekatan epistimologi.

Dalam pemilihan instruktur pun dan materi yang menjadi bagian kajian juga melalui rihlah untuk mendapatkan kesesuaian latar belakang keilmuan dan karakter spesifik instruktur. Hal ini dilakukan dalam rangka mencari kesesuaian naluri Isntruktur dengan tema yang dibawakan.

Turut hadir dan memberikan sambutan pembukaan kelas perdana Madrasah Islam Nusantara, wakil ketua DPRD Tulungagung Adib Makarim, M.H yang juga ketua DPC PKB Tulungagung yang berpesan bahwa: “masa yang paling enak saat jadi mahasiswa adalah saat kumpul bersama, makan seadanya, mebahas sesuatu yang dianggap biasa, tapi hasilnya luar biasa. Dengan semakin sering melakukan kajian, pengetahuan akan bertambah, kemampuan akan terasah dan jaringan pun akan melimpah” papar Adib Makarim mengakhiri sambutannya.

Pemilihan tema kajian Islam Nusantara adalah dalam rangka menggali secara teliti dan menyusun alur pemahaman Islam Nusantara agar tidak terjadi pendangkalan pengetahuan yang akhirnya sekedar ikut sana-sini tanpa faham subtansi Islam Nusantara yang dimaksud. Sedangkan pemilihan kajian model Madrasah adalah dalam rangka menginstitusikan lembaga kajian yang memiliki jejak rekam menghasilkan kader-kader handal dan berakhlaq mulia sebagaimana selama ini para peserta juga di godog dalam kawah candra dimuka milik Sanggar Banyu. Apakah mereka bisa istiqomah?hanya waktu yang bisa menjawab.(Din)