Dalam sebuah perang pemikiran, seringkali targetnya bukan lawan, tapi pendengar. Ada sebuah cara “licik” untuk memenangkan dan merebut simpati hati pendengar, caranya adalah: sampaikan argumen seolah-seolah lawan salah, maka anda akan jadi benar. pilihan jawaban sengaja diarahkan pada dua pilihan pasti. Karena mindset kebanyakan pendengar adalah tidak peduli bagaimana cara mencari kebenaran, karena hal yang paling mudah adalah mencari kesalahan. Model yang seperti ini akan digiring pada opini jika yang satu salah, maka lawannya yang ada pasti benar.

Bahkan seringkali terjadi, perilaku salah dan menyalahkan di awali dari salah paham. Kenapa bisa salah paham? Lha Namanya saja pendengar, pasti gak mikir. Apa yang mereka dengar langsung di imani dan diamalkan. mengapa para pendengar seperti itu? ya karena mereka bukan pemikir, yang selalu memikirkan apa yang di dengar dan dilihat serta menyimpulkan dari keduanya. Sehingga pemikir lebih minim dalam melakukan salah faham.

Mari kita cermati ketika ada kelompok yang mengklaim “hanya khilafah solusi umat” trik yang digunaka mereka adalah menggiring opini kebenaran khilafah dan menggiring opini demokrasi itu salah. Tak perlu menunjukkan khilafah modelnya seperti apa, sebab mereka juga belum pernah mendirikan khilafah. Trus apanya yang mau dibuktikan kalau belum pernah mendirikan? Mereka juga masih doyan makan gaji dari negara demokrasi dan masih menikmai fasilitas negara demokrasi, masih berlindung pada aturan demokrasi. Selanjutnya kalau semua pendengar sudah sepakat bahwa yang benar hanya khilafah, baru diajak mikir siapa pimpinan tertingginya? lalu gontok-gontokan dukung mendukung calon, gontok-gontokan bikin undang-undang baru, dst. Sementara negara lain sudah bikin pesawat jet, yang disini masih gontok-gontokjan bikin undang-undang dari nol agar bisa diklaim sebagai hukum Allah, bukan hukum buatan manusia.

Ketika ada kelompok yang mengklaim “hanya bumi datar solusi umat”. Triknya juga menggiring opini seolah-olah yang berpendapat bumi bulat dikatan salah. Mereka tidak perlu repot-repot menunjukkan fakta bumi datar yang benar dan memiliki sistem mapan.

Dalam hal membenarkan bumi datar, mereka juga belum sepakat soal detail teorinya. Lha memang apanya yang mau dibuktikan jika mereka sendiri tidak bisa menunjukkan teorinya yang benar? Coba dipikir kalau memang mereka bersikap menolak bumi bulat? Lha wong mereka tidak punya jaringan telekomunikasi yang non satelit? mereka lupa kalau yang mereka gunakan adalah satelit produk bumi bulat dan mereka juga tidak mikir kalau mereka tidak punya sistem navigasi global sendiri yang non satelit.

Mereka juga gak mikir kalau masih tergantung jaringan bumi bulat, masih menikmati sistem yang dihasilkan para pemikir di bumi bulat yang mereka salahkan. Selanjutnya kalau semua pendengar sudah sepakat bahwa bumi datar yang benar, baru semua orang diajak mikir detail bumi datar itu seperti apa. Semua diajak mikir bikin teknologi telekomunikasi dan navigasi non satelit mulai dari nol, diajak mikir bagaimana matahari bisa kepotong horison ketika terbit dan tenggelam. Padahal negara tetangga sudah bikin jet, lha yang disini semua orang masih mikir matahari terbit.

Inilah perang pemikiran. Sayapun juga sedang menerapkan logika dalam perang pemikiran bahkan terindikasi “licik”. Saya tak perlu menunjukkan demokrasi dan bumi bulat yang benar, hanya menunjukkan bahwa khilafahnya HTI dan bumi datar itu nggak beres. Tapi untungnya saya hidup di negara demokrasi dan bumi bulat. Sehingga tidak perlu repot kampanye saya yang benar. Cukup bilang “kalian jangan banyak omong, nikmati saja sistem ini sebagaimana selama ini kalian menikmati fasilitasnya. Kalau masih ngrasa tidak terima, monggo yang pingin khilafah silahkan pindah ke Israel dan bikin khilafah di sana.

Juga bagi yang berpendapat bahwa bumi datar, silahkan banting androidnya dan bikin sendiri jaringan plus navigasi tanpa satelit. Karena android kalian bikinan mbah Google dan mbah Google mempunyai satelit.