1 Syawal 1438 Hijriyah yang bertepatan dengan Minggu, 25 Juni 2017 menjadi babak baru para pelaku dunia maya dengan mengangkat tema lebaran. Tanpa komando, dimulai dengan kata pamit untuk perginya Ramadhan dan datangnya Syawal. Mulai dialektika dengan narasi puitis sampai taushiyah pun berseliweran meramaikan medsos.

Dilanjutkan dengan agenda ucapan Idul Fitri untuk sanak saudara, kolega, dan sahabat mulai dari bentuk meme, narasi, pantun, taushiyah, vidio klip, audio, ataupun pesan SMS saja. Sehingga ada yang mencoba mendata aktifasi penggunaan medsos meningkat drastis sampai 70 % dibanding hari-hari biasa. 

Berbagai kreatifitas muncul dalam membuat ucapan selamat Idul Fitri, dan kategorinya termasuk dakwah medsos yang menyejukkan. Kebayang dalam lintasan fikiran saya, andai saja pada hari-hari biasa medsos dipenuhi dengan kreatifitas pelakunya yang damai, mencerahkan, dan penuh kreatifitas seperti mereka membuat meme ucapan selamat hari raya atau kata-kata hikmah dan motivasi, maka dominasi hasutan dan hujatan di medsos akan terkurangi.

Sudah saatnya mengisi medsos dengan hal positif dan mencerahkan, bukan karena tidak ada konten yang dijadikan bahan untuk diupload di medsos, tapi karena kelompok mayoritas yang terdiam (silent majority). Oleh karenanya kelompok ini perlu dibangunkan dan disadarkan bahwa mengisi medsos dengan konten positif, mencerahkan, mencerdaskan dan informatif perlu kita ambil sebagai jalan dakwah di dunia maya.

Hanya butuh kreatifitas dan kemauan untuk memulai, dengan modal inilah kiranya akan terwujud wajah baru dakwah di medsos. Kenapa modalnya hanya kreatifitas dan kemauan? Karena konten yang mau di isikan menjadi muatan dakwah sudah dimiliki oleh para silent majority yang rata-rata adalah alumni pendidikan tinggi dan pesantren. Misalnya mereka yang memiliki spesifikasi bidang tasawuf, fiqih ala madzhahibul arba’ah, ushul fiqh, pendidikan, akhlaq, pemikiran Islam, Sejarah, sampai pada herbalist dan Thibbun Nabawi. Semuanya berbicara sebagaimana keahlian yang dimilikinya.

Jika yang dipertanyakan adalah” apakah kami mampu?” jawabanya “ya”, buktinya? “ucapan selamat lebaran 1438 H sudah mereka kreasi dan inovasi menjadi tampilan menarik dan simple yang terwujudnya adalah karena niat dan kemauan. Wujudnya ucapan lebaran dalam berbagai bentuk bukan karena momentum lebarannya, tanpa niat dan kemauan, tidak mungkin ucapan di medsos tersebut menjadi ada dan beredar. Maka di luar bulan Syawal, dan di luar merayakan hari raya Idul Fitri, Niat dan kemauan berinovasi dengan konten dakwah di medsos, perlu digalakkan.

Jangan sampai keburukan terjadi karena kita tidak berbuat apa pun. Kita sering mengecam google tidak punya dasar, sementara kita tahu masyarakat di era milenial lebih sering mengetik di mesin pencarian Google dari pada bertanya langsung di dunia nyata. Andaikan wikipedia juga terkuasai oleh kelompok yang benar-benar ahli dibidangnya, maka informasi yang mencerahkan pun akan hadir.

Jangan anda menjadi orang yang tekun beribadah dan menjauhi maksiat di Bulan Ramadhan kemudian ketika Bulan Ramadhan berlalu anda kembali terjebak dalam maksiat dan syahwat!

Kalimat di atas sama halnya dengan “jangan anda menjadi orang yang taat beribadah dan menjaga tingkah laku dan aurat ketika masih di Pondok, namun kemudian lepas bagai tak terkendali setelah kamu keluar dari asuhan para Kyai!”

Bagaimana anda bisa rela menjaga aurat, pergaulan dan sebagainya ketika masih di Pondok, namun kemudian menjadi fasiq – lepas tak terkendali – setelah berhasil mengetahui ajaran agama?

Sungguh bodoh kaum yang berbuat seperti itu, perhatikanlah firman Allah SWT:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. (QS an Nahl: 92)

Intinya semangat perubahan bukan tergantung pada nama bulan atau pun momentum hijrah, tapi perubahan akan terjadi jika ada niat dan kemauan yang kuat dari para pelaku dan pemain sandiwara dunia ini.